Introvert Narcissus

Bagaimana kalau ada seorang yang narcis, bahkan exhibisionis, tetapi introvert ya?

Narcissus, aslinya adalah nama tokoh dongeng Yunani yang sangat mengagumi diri sendiri. Sebagai orang yang tampan (atau mungkin cantik ya? Soalnya menurut saya, pria mana sih yang tertarik pada ketampanan?), ia kemudian terlalu berlebihan mengagumi diri sendiri. Begitu berlebihannya, sampai-sampai ia jatuh cinta pada diri sendiri. Tiap hari kerjanya hanya bercermin di tepi danau, memandangi diri sendiri tercinta.

Image
Narcissus yang setiap hari tidak pernah ke kantor, kerjanya hanya mengagumi bayangan dirinya di tepi danau. Dalam gambaran Caravaggio, terlihat Narcissus sebenarnya tidak ganteng-ganteng amat ya?

Narcissus ini tidak exhibis sehingga cintanya pada diri sendiri tidak diceritakan kepada semua orang apalagi sampai ke teman-teman di dunia maya segala. Ia hanya jatuh cinta pada diri sendiri sehingga merasa ‘keterpuasan yang membebaskan’ setiap kali memandangi keelokan diri sendiri di tepi danau. Tindakan ini berbeda dengan kebiasaan temanteman saya yang mengagumi diri sendiri kemudian memajang foto untuk dilihat orang lain. Tetapi entah bagaimana, kebiasaan memajang foto diri di berbagai media (terutama media maya) kemudian disebut sebagai kebiasaan narsis. Saya sendiri lebih suka menyebut kebiasaan itu sebagai ‘setengah exhibisionis’: suka memamerkan diri kepada orang-orang, tetapi bukan dengan memamerkan aurat.

Kalau orang ekshibisionis senang memperlihatkan kemaluanya kepada semua orang dan terpuaskan ketika orang menjadi takut, jijik atau tertawa senang melihatnya, orang setengah ekshibis hanya memperlihatkan wajah, keelokan bentuk tubuh (dengan balutan pakaian yang sopan) atau kalau merasa foto diri kurang cakpe ya memasang foto diri dengan latar belakang yang attractive. Minimal membuat orang mau menoleh lah.

Kembali ke topik…

Jadi Narcissus itu aslinya tidak suka memperlihatkan diri kepada orang lain, tetapi kemudian istilah narsis (dari Narcissus tersebut) menjadi populer dengan arti ‘orang yang mengagumi diri sendiri sehingga senang memamerkannya kepada orang lain’ (kamus didisederhana).

Sebagai remaja menjelang pensiun dini (pensiun dini itu usia berapa sih?), saya juga sering berkeinginan memamerkan foto-foto sebagaimana layaknya teman-teman lainnya. Tetapi niat saya terhalang oleh kondisi diri yang tidak layak dipamerkan.anjuran agama untuk bersikap rendah hati dan merahasiakan foto diri amal shalih.

Dalam Islam, kita dianjurkan untuk merahasiakan amal-amal baik kita sebagaimana kita merahasiakan kejeleken-kejelekan kita. Tidak usah dibahas lah bagaimana kita merahasiakan kejelekan kita, Anda kita semua pasti tahu bagaimana hal itu.

Karena pengen narsis sekaligus pengen merahasiakan amal, jadinya sering bingung. Pengen tampil tapi juga harus menyembunyikan diri/amal shalih. Para ustadz dan aktivis yang amalnya berabreg-abreg saja kalau pamer semua amalnya bisa hapus dan bangkrut di akhirat, datang menghadap Allah tanpa membawa apa-apa. Bagaimana denganku yang amal shalihnya sangat sedikit? Sudah sedikit pamer pulak. Na’udzubillaahi min dzaalika…

Fikir-fikir, berusaha mengait-ngaitkan, akhirnya sampai pada beberapa konklusi sementara:

1. Jangan pamer wajah di media sekalipun hanya media maya. Meskipun demikian, tetap perlu memasang foto wajah agar teman dan kerabat mengenali kita. Sekedar agar mereka tidak keliru ketika meng-add atau meng-approve pertemanan. Enggak seru kan kalau ada yang sudah meng-add Didi, ngobrol banyak, curhat dan curcol sana-sini, eeh ternyata dia bukan Didi Sederhana melainkan Didik Nini Thowok misalnya?

2. Boleh memasang sedikit/banyak foto kenangan, asal tidak untuk pamer. Misalnya foto kenangan TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, jalan-jalan dsb. Lho nanti apa bedanya dengan yang pamer? Yang beda niatnya. Dalam niat kita sama sekali tidak terbersit keinginan untuk pamer dan dipuji orang. Kalau suatu saat terasa foto itu berkesan ‘memamerkan’, hilangkan saja foto tersebut.

3. Ketika ada amal shalih yang perlu diceritakan (kalau saya sih biasanya pengen cerita amal shalih orang lain bukan amal sendiri, soalnya amal shalih sendiri dikit banget), usahakanlah untuk memfiksikannya. Boleh percaya boleh tidak, Nabi Muhammad saw juga kalau ingin menceritakan dirinya sendiri pakai kata-kata: “Dahulu ada seorang Nabi yang….” dan bukannya “Aku kemarin….”

4. Meskipun memfiksikan, bukan berarti kita boleh berbohong. Pada tiap peristiwa yang diciptakan Allah ada rahasia untuk amal shalih dan pembelajaran. Jika fiksi kita terlalu jauh dari peristiwa nyata, khawatirnya rahasia dan pembelajaran tersebut bisa kabur/hilang karena tertutup oleh kepicikan kita. Sepandai-pandainya kita, tidak mungkin lebih tahu daripada Yang Maha Mengetahui kan?

5. Daripada bingung ketika ingin memasang foto atau memasang cerita, lebih baik ubah motivasi bermedia maya menjadi niat dakwah sejak sekarang. Tanamkan bahwa niat saya bermedia maya adalah ”memanfaatkan dunia maya untuk silaturahim dan berdakwah di jalan Allah saja.” Motivasi dakwah (harap dicatat: dakwah sama sekali tidak harus berat/ribet, sekedar mengajak orang mensyukuri makan siang juga bisa termasuk dakwah) membuat kita ingin berbicara dari hati ke hati, sharing pengalaman, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam rangka bicara hati ke hati dan sharing pengalaman ini, kita mencantumkan pemikiran, kegiatan, perjalanan dan sebagainya. Asalkan tulus dan tidak politis, kita bisa membuat postingan-postingan ikhlas sekalipun dengan latar belakang gambar di Hawaii, Venesia, atau sekedar di kandang sapi pelosok desa Lampung Barat.

6. Jadi, berusahalah untuk menjadi introvert narcissus dalam bermedia maya. Introvert karena memaksa diri merahasiakan seluruh amal, narsis karena harus membagi segala hal untuk mengajak teman mendekati Allah. Itulah maksud judul saya di atas, ‘introvert narcissus’

7. Kalau bikin blog jangan kelamaan agar selalu punya waktu untuk dunia nyata.  Salam persahabatan, tolong tinggalkan pesan, komentar atau sekedar jejak di bawah ya? Agar semakin banyak yang bisa kita saling share🙂

malu ah…

21 tanggapan untuk “Introvert Narcissus”

    1. Iya nih, di wp belum ketemu cara meng-quote fokus yang mau kita jawab. Tapi lumayan lah daripada after mp kemudian gak ada wadah sama sekali.

      Tentang foto-foto, kayaknya teman2 punya cara buat mindah secara massal deh. Kalau saya sih paling pakai save page as doang. Muter-muter dulu gpp, yang penting kesave as sama komen-komennya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s