Makna Sederhana

Kemarin* ustadz Tohri Tohir menguraikan materi “Hidup Sederhana dalam Pandangan Islam” dengan sangat memikat. Beliau mengambil terminologi ‘qana’ah‘ (menerima apa adanya) sebagai acuan sederhana dalam konsep Islam.

Tulisan di bawah adalah apa yang saya ingat dari pembicaraan beliau, tentu saja dengan tambah-kurang di sana-sini. Maklum, memory saya belum Pentium kayak Imam Syafi’i, Ibn Taimiyah dan ulama-ulama Islam.

Menurut beliau, sederhana bukan tentang materi tertentu (lauk tempe, mobil 80-an, rumah sederhana dsb).
Sederhana lebih tertuju pada sikap yang diambil seorang manusia.

Seorang kaya yang naik BMW dengan santun bisa disebut sederhana, sementara seorang pemilik sepeda motor baru di kampung yang jalannya ngebut sampai miring-miring sudah digolongkan sebagai ‘berlebihan’.

Allah swt memberi contoh kesederhanaan sikap (qanaah) pada para Rasul dengan berbagai variasi. Ayyub as adalah seorang nabi yang dengan sederhana bersabar menghadapi ujian kekurangan harta, meninggalnya anak-anak dan penyakit yang sulit disembuhkan. Kesabaran beliau menunjukkan salah satu sisi kesederhanaan.

Di sisi lain ada Sulaiman as, nabi yang dengan sederhana memerintah kerajaan terbesar di dunia. Kesederhanaan Sulaiman as adalah kesederhanaan yang di tengah-tengah istana megah, singgasana emas, makanan-minuman berlimpah, dan berbagai fasilitas materi yang luar biasa. (Beliau bisa mengendarai angin, menyuruh jin, dan berbagai kelebihan lainnya).

Oleh karena itu kesederhanaan tidak dapat dilihat dari materi yang dimiliki seseorang.

Ada kisah lain tentang sederhana:
Suatu hari seorang istri mendapat nafkah Rp 50.000 dan ditanya: apakah cukup?
Jawabnya: Cukup, alhamdulillaah bisa beli daging.
Esoknya nafkah suaminya Rp 25.000. Cukup?
Cukup, alhamdulillaah bisa beli ikan dan telur.
Esoknya nafkah Rp 10.000. Cukup?
Cukup, alhamdulillaah bisa beli ikan asin.
Esoknya nafkah Rp 5.000. Cukup?
Cukup, alhamdulillaah bisa beli tempe basi (he-he… ustadznya ketawa)

Oleh karena itu sederhana adalah bagaimana kita memandang cukup apa yang kita punya. Sederhana adalah kemampuan menjadikan kebutuhan tidak melebihi kemampuan.

Qarun diberi harta yang sangat banyak, tetapi gagal bersikap sederhana sehingga menolak zakat yang ditarik Musa as.
Firaun diberi jabatan tinggi dengan rakyat over-patuh (berjiwa budak), tetapi gagal bersikap sederhana sehingga lupa diri dan lupa Tuhan.
Sebaliknya Isa as (kata ustadz: nabi termiskin, tidak punya istri, rumah, pokoke: nothing-lah) berhasil mengaplikasikan sikap sederhana dalam setiap aktivitas hidupnya.

Kesederhanaan membawa kebebasan, sementara kegagalan bersikap sederhana mendatangkan keterjajahan.
Orang bisa saja memiliki ambisi harta, jabatan, status sosial dsb dan dengan usaha keras berhasil mewujudkannya. Tetapi apa yang dirasakannya ketika ia menjelang ajal?
SEMUA YANG TELAH DIRAIH ITU TIDAK ADA NILAINYA SAMA SEKALI….
Hanya orang-orang yang bersikap sederhana yang mengakhiri hidupnya dengan senyum. Puas, syukur dan ridha.

Oleh karena itu bersikaplah sederhana. Terima apa yang menjadi bagian kita dengan ridha. Jangan kejar rezeki dengan melanggar syariah, karena apa yang bukan jatah kita tidak mungkin kita dapatkan, sementara apa yang menjadi jatah kita tidak mungkin jatuh ke orang lain.
Laksanakanlah semua perintah Allah dengan baik.
Tinggalkanlah semua larangan Allah.
Insya Allah kita akan memperoleh kebaikan dalam segala hal.

Tambahan lagi:
Kalau Anda harus berbicara (semacam mengisi liqa, pidato, sambutan), kelihatannya gaya Ustadz TT ini sangat cocok diterapkan. Kalimat sederhana, ilustrasi aplikatif, banyak cerita, tidak menggunakan istilah-istilah asing, dan fokus pada thema.

Mudah-mudahan bermanfaat.

ketemu tulisan ini ketika sedang browsing ngacak, dari http://groups.yahoo.com/group/banyumas/message/14268.

________________________________________

* Aslinya postingan ini ditulis pada hari Kamis tanggal 27 Februari 2002 sehingga yang dimaksud dengan ‘kemarin adalah hari Rabu, 26 Feb 2002.

Saat itu Ustadz Tohri Tohir menyampaikan materi kuliah ba’da Dzuhur di Gedung Aetna Danamon (sekarang Menara Sampurna), Jakarta.

4 tanggapan untuk “Makna Sederhana”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s