Cinta Tidak Selalu Jodoh

Orang sering bertanya tentang cinta dan jodoh. Sebagian besar diskusi saya melalui chatting dengan teman-teman (teman dunia nyata yang lebih senang mengobrol melalui dunia maya) adalah seputar cinta dan perjodohan, atau jodoh dan percintaan.

Pertama, apakah jodoh itu?
Menurut saya, perjodohan ibarat puzzle. Bagian A berjodoh dengan B, B dengan C dan F, C dengan X dan seterusnya. Pasangkanlah A dengan C, maka Anda akan memperoleh banyak bagian yang ‘tidak nyambung’ alias bermasalah.

Kedua, apakah jodoh harus dicari atau datang sendiri?
Jawabnya agak rumit: jodoh harus dicari, dikejar, dijemput, tetapi pada akhirnya kita akan merasa bahwa jodoh itu datang sendiri. Yang perlu kita lakukan hanya menampilkan diri kita sebagai bagian puzzle yang jelas semua sisinya sambil terus beraktifitas di semua bidang yang harus kita tekuni. Lalu suatu saat, di sebuah tempat dan area aktifitas, kita menemukan seseorang yang menjadi jodoh kita.

Berarti jodoh itu datang sendiri? Tidak juga. Apabila kita tidak beraktifitas, jodoh itu tetap entah di mana, tidak memperoleh jalan untuk bertemu kita. Jadi jodoh itu hasil pencarian kita? Coba tanyakan kepada para para karakter yang menetapkan kriteria sedemikian detail dalam mencari jodoh. Mereka mencari-cari dan terus mencari sang jodoh tetapi tidak juga kunjung bertemu. Sampai suatu saat tiba-tiba mereka merasa bahwa jodohnya datang sendiri setelah mereka mencarinya kesana kemari.

Ketiga, apakah jodoh ditandai dengan awalan berupa cinta?
Jawabnya: belum tentu. Banyak yang mengawali perjodohannya dengan cinta, tetapi banyak pula pasangan yang dipertemukan tanpa cinta. Kedua orang tua saya adalah contoh pasangan setia sampai maut memisahkan (salah satu kriteria jodoh yang diterima khalayak: saling setia sampai dipisahkan maut). Sebelum menikah mereka tidak saling kenal. Setelah menikah (dinikahkan oleh orang tua), barulah mereka hidup serumah dan merajut tali cinta bersama-sama. Pasangan muda hari ini juga banyak yang menikah tanpa cinta di awal perjalanannya. Hanya melalui proses ta’aruf singkat, musyawarah dengan kerabat dekat, istikharah minta kemantapan hati kepada Allah, lalu melangkah ke jenjang pernikahan. Cinta baru muncul setelah mereka berumah tangga.

Keempat: apakah jika saya mencintai seseorang berarti saya adalah jodohnya?
Jawab: belum tentu. Apalagi pada hari ini di saat orang tidak bisa membedakan antara sekedar tertarik, menyayangi dan mencintai. Banyak orang yang tertarik kepada lawan jenisnya kemudian menganggapnya sebagai cinta. Kemudian berpacaran sampai waktu yang lama, lalu putus. Bahkan pada masa kini, begitu banyak yang telah ‘bermain cinta’ hanya karena saling tertarik dan tanpa tujuan jangka panjang sama sekali. Jika kita mengatakan bahwa sekedar tertarik atau sekedar menyayangi adalah cinta, maka tidak semua cinta merupakan tanda-tanda perjodohan.

Kelima: lalu cinta itu sendiri apa?
Menurut saya, cinta adalah karunia Allah yang membuat kita memandang segala sesuatu dengan cara berbeda. Mudahnya, jika Anda tidak lagi merasa terganggu oleh panas terik atau dingin mencekam, tidak terhenti oleh lelah atau sakit, tidak frustrasi oleh kemiskinan atau penolakan dan secara tiba-tiba menjadi fokus tanpa perlu mempelajari cara-cara fokus, besar kemungkinan Anda sedang jatuh cinta.

Keenam, apakah jodoh selalu melahirkan cinta?
Jawabnya: masih terkait dengan pertanyaan kelima. Cinta itu seperti seni yang tidak diberikan kepada semua orang di setiap masa. Ketika orang mencinta, dia seperti seorang seniman yang berbakat. Memahat patung tanpa banyak belajar, mencipta musik padahal tuli, menjadi maestro meskipun lumpuh atau seperti Mas Steven Hawking sang seniman sains abad ini: menjadi fisikawan meski harus selalu terbungkuk di kursi roda dan berbicara melalui komputernya. Karena cinta itu ibarat seni yang melahirkan puncak-puncak rasa, tidak semua orang mendapat keberuntungan merasakannya.

Ketujuh: lalu bagaimana perjodohan akan langgeng (kekal) jika sepasang jodoh menikah tanpa cinta?
Jawab: kekalnya hubungan sama sekali bukan karena cinta melainkan karena kesetiaan. Betapa banyak orang yang mengaku hanya mencintai seseorang tetapi sambil khilaf sana khilaf sini. Sebaliknya betapa banyak persahabatan (bentuk perjodohan tanpa nikah) yang kekal meski antara satu sama lain tidak ada ledakan rasa yang menggelora.

Kedelapan: apakah cukup adil jika tidak semua orang dianugerahi seni cinta?
Jawabnya: tentu saja adil. Seni adalah dunia tersendiri bagi para seniman dan pecinta seni itu. Di luar seni, ada lagi yang namanya desain.

Seni melahirkan karya-karya indah yang subyektif, misterius dan perlu diapresiasi dengan bakat tersendiri (bakat ini seringnya tidak bisa dipelajari). Sebuah karya seni bisa menyampaikan banyak pesan bahkan mungkin beberapa pesan yang ambigu satu sama lain.

Sementara desain, sebuah pengetahuan yang bisa dipelajari siapa pun, melahirkan karya-karya yang obyektif, transparan, bisa difahami banyak orang dan berfokus pada sebuah misi yang jelas.

Orang mungkin tidak dianugerahi cinta (seni), tetapi mereka bisa mempelajari desain kehidupan yang selaras sehingga keluarga yang terbangun menjadi keluarga yang mahabbah, sakinah, mawaddah warahmah. Dalam bahasa bebas: keluarga yang penuh cinta, kedamaian dan kasih sayang.

Kesembilan: saya sekarang sedang jatuh cinta. Apakah sebaiknya saya menikah dengannya?
Jawab: sebaiknya Anda menikah dengan visi yang jelas. Jika Anda ingin menikah dan berbahagia, menikahlah dengan kriteria agama. Cari seorang pasangan yang taat, berakhlak baik dan selalu memegang komitmen. Ya, kadang pasangan tipe begini agak terlihat kolot dan kurang nge-pop. Tetapi percayalah, orang-orang seperti ini lebih bisa menjaga kesetiaan daripada mereka yang tampaknya keren, populer dan casciscus dengan bahasa-bahasa kekinian.

Keluarga adalah hubungan jangka panjang, jadi jangan silau dengan segala hal kekinian. Kembang api memang memukau, tetapi sinar mentari lebih dibutuhkan.

Sekian blog hari ini. Tanpa terasa sudah satu jam berlalu, selamat membaca dan jangan lupa tinggalkan komentar. Mumpung komentar bisa dilakukan meski hanya dengan mengisi nama samaran🙂

40 tanggapan untuk “Cinta Tidak Selalu Jodoh”

  1. Sebelum nikah saya ga kenal sama Uminya anak-anak. Hanya kenal dari biodata dan pas foto lalu pernah 2 kali sms-an dan teleponan pas ngomongin cetak undangan nikah. Hahaha……buat saya jodoh adalah misteri kehidupan…yang harus disyukuri dan dijalani dengan tanggung jawab penuh.

    Sangat suka dengan quotemu yg terakhir ini, “Kembang api memang memukau, tetapi sinar mentari lebih dibutuhkan.”

  2. hmmm…

    *sedang mencoba menemukan lagi cinta yang hilang kepada sesuatu yang sepele, bukan yang memang layak & perlu untuk dicintai

      1. tapi ketika cinta itu hilang, semangatnya pasti beda pak..
        Sekarang tinggal bagaimana mengalihkan rasa kehilangan itu kepada hal-hal yang positif🙂

        1. Bagi yang pernah mencinta, kehilangan orang tercinta adalah hal yang sangat berat. Jangankan kita. Nabi Muhammad saw saja begitu sedih ketika ditinggal Khadijah ra (istrinya yang lebih tua 15 tahun darinya), sehingga para ulama sirah menyebut tahun meninggalnya Khadijah ra tersebut sebagai ‘aamul huzn (tahun duka cita)

          1. hmm…

            sebenarnya ya seperti yang sudah ane kasih tau sebelumnya, cinta kepada hal yang sepele. Bukan cinta kepada istri, anak atau bahkan kepada Alloh. Kalo cinta yang itu Alhamdulillah masih ada🙂

            yang hilang adalah cinta kepada hobi main game & baca komik T_T padahal itu bisa membangkitkan PD, inspirasi & menghilangkan kejenuhan sehingga bisa semangat lagi…😀

            Aneh ya pak? (jadi ketawa sendiri)

          2. Semua orang perlu hiburan Akh. Kalau memang suka baca komik dan main game, ya jalankan saja untuk menyegarkan kehidupan.

            Yang penting jangan sampai berhibur sambil melanggar syariah🙂

  3. Jodoh adalah cermin kualitas diri
    jodoh adalah yang kita temui pada saat kita, yakni seseorang yang siap dan yakin terikat dlm sebuah perjanjian besar di hadapan Allah bernama “pernikahan”
    Jodoh adalah seseorang yang kelak menjadi satu denganmu, entah dia adl tubuhmu atau dia adl tulang rusukmu

    insyaAllah jadi tulisan yang bermanfaat

      1. Yg baik2 dapetnya baik2.
        Memang benar begitu, tp ngga mutlak. Buktinya Masyitah bersuamikan firaun, Nabi Luth istrinya juga bengal.
        Meningkatkan kualitas diri memang perlu, tp jangan terlalu menuntut pasangan dg kualitas sepadan.
        Kata orang sih, mencintai itu ya menerima kelebihan dan kekurangan pasangan.
        *yaelah, sotoy banged dah gue*

        1. Yups, setuju. Secara umum, orang baik pasti memperoleh jodoh yang sepadan.
          Tetapi beberapa orang memang diberi jodoh untuk ujian, semisal Asyiah (istri Fir’aun, kalau Masyithah pembantunya yang dihukum mati) dan Luth as.
          Semoga Allah memberi kita jodoh yang membantu menuju ridha-Nya, aamiin…

    1. setuju. Cita jelas dan riil sementara cinta abstrak. Tetapi menurut saya, meski tidak mementingkan cinta, kita juga tidak boleh meremehkan ketika ia datang.

      Karena cinta menghidupkan seorang manusia sehingga bersemangat berkali-kali lipat dalam mengejar cita🙂

  4. Alhamdulillah, Jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang hanya akan terjawab & terbuktikan oleh orang mengalaminya.
    Jazakallohu khoiron, akhi. atas semua ilmu yg telah akhi ajarkan.

    1. Waiyyaakum… BTW sebagian besar adalah cerita teman-teman kok…. ane belum se-pengalaman itu…. Doakan ane sempat nyelesai-in buku ane Akh. Pengen merangkum banyak pengalaman dan pengamatan dalam sebuah buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s