Ikut Mencontreng Atau Tidak? (Catatan Buat Pemilih Golput)

X: Mencontreng? Kamu akan terlibat dalam sistem kuffar.

Y: Kalau tidak mencontreng, aku tidak keluar dari sistem kuffar. Apakah kamu tidak membuat KTP di negeri kuffar, surat nikah, akte kelahiran, atau sertifikat tanah di negeri kuffar tersebut?

X: Tapi aku tidak terlibat aktif.

Y: Nah itu masalahnya. Kamu merasa dengan tidak terlibat kamu sudah berbuat kebaikan. Dulu aku juga ingin cuci tangan sepertimu. Tetapi sekarang tidak bisa. Aku harus ikut berperan dalam perbaikan ummat ini.

X: Kamu akan terlibat dalam sistem kuffar! Kamu akan menjadi bagian dari sistem kuffar!

Y: Kamu tidak lebih bersih dari aku tentang sistem kuffar ini. Hanya saja, aku masih mau merubahnya dengan segala yang ada. Sementara kamu hanya ingin merubahnya dengan doa-doamu saja. Berfikirlah. Masih ada beberapa hari lagi untuk menyumbangkan suaramu kepada pembawa perbaikan, atau kamu biarkan para pembawa perbaikan itu kalah tanpa pembelaanmu”

—–

Z: Kamu bodoh dan tidak intelek. Kamu hanya akan memilih koruptor, pembohong, atau oportunis lainnya yang bermuka sepuluh dan lidahnya bercabang-cabang.

Y: Tidak. Aku sudah berkenalan dengan orang-orang dari Prada ini. Aku tidak melihat mereka seperti yang engkau katakan.

Z: Kamu terlalu lugu. Kamu tidak bisa melihat kelicikan mereka. Kamu tidak tahu niat busuk mereka.

Y: aku tidak tahu isi hati mereka. Tetapi aku melihat mereka cukup bersih, peduli dan profesional sehingga aku percaya pada mereka.

Z: Kamu tidak melihat mereka tambah kaya setelah duduk di legislatif dan kursi-kursi jabatan lainnya?

Y: Aku tidak peduli mereka jadi kaya atau miskin. Yang penting mereka bekerja dengan baik, amanah, profesional… kalau gaji mereka tinggi ya biarlah mereka kaya. Kalau korupsi, laporkan saja ke KPK.

Z: Hahaha…. orang sepertimu tetap menderita dan merangkak di bawah, mengais-ngais rejeki dengan susah payah. Sementara mereka yang mendapat kursi karena usahamu sudah enak-enak.

Y: Sejak awal melangkah aku sudah berniat untuk tidak mencari hasil komersial dari usahaku. Aku sama sekali tidak kecewa kalau aku tidak mendapatkannya.

Z: Nah, bukankah berarti mereka yang duduk itu berniat komersial sehingga mereka mendapatkannya? Niat mereka sudah dibukakan oleh Allah. Apa kamu masih juga membela mereka?

Y: Sekali lagi aku tidak mempermasalahkan niat orang-orang. Selama mereka bekerja dengan baik dan jujur, aku tetap memilih mereka. Mungkin mereka tidak berniat komersial tetapi Allah memberi mereka kekayaan. Atau mungkin mereka pandai merangkai niatnya untuk memperoleh dunia dan akhirat sekaligus. Allah lebih tahu tentang hati dan niat mereka.

Z: Terima kasih. Aku seorang intelek. Aku memilih GOLPUT!

Y: Kalau semua intelek seperti Anda, berarti yang menentukan pemimpin negeri ini hanya orang-orang bodoh dan orang-orang yang suaranya mudah dibeli dengan rupiah. Betapa buruknya orang yang akan terpilih.

Z: Tetapi aku kan tidak terlibat?

Y: Ya. Anda skeptis dan tidak ikut memperbaiki negeri ini. Tetapi Anda tetap akan terlibat; terlibat dalam menanggung kedzaliman orang-orang yang dipilih orang bodoh.

Z: Mmmm….

Y: Anda intelek. Jangan takut berubah pendirian…..

—–

A: Aku tadinya mau ikut mencontreng sebuah partai yang santun. Tetapi melihat salah satu kampanyenya pakai dangdut juga, aku jadi berubah pikiran. Aku tidak akan ikut memilih.

Y: O ya? Jadi karena seseorang menyanyi dangdut kemudian engkau tidak memilihnya menjadi pemimpin, meskipun ia memiliki kapasitas pemimpin dan kalau ia tidak terpilih, yang akan terpilih adalah orang-orang yang tidak capable?

A: Aku tidak mengatakan orang itu menyanyi. Ia hanya memakai penyanyi dangdut untuk kampanye.

Y: Seandainya di negeri ini ada pilihan dua pemimpin. Yang satu orang yang sudah terbukti jujur dan bersih, bekerja dengan profesional, tetapi pernah kamu lihat menyanyi dangdut. Yang kedua tampak alim dan dermawan, tetapi terbukti korup, licik dan suka menipu. Apakah kamu akan diam saja membiarkan orang kedua memimpinmu?

A: Aku tidak akan memilih.

Y: Masalahnya tidak memilih tidak membuatmu menang. Tidak memilih hanya memberi peluang orang kedua menang, lalu setelah ia menang ia akan menjadi pemimpinmu.

A: Tetapi aku tidak memilihnya.

Y: Dan kamu juga tidak berusaha untuk membuatnya tidak terpilih. Kamu membiarkannya menang….

—–

B: Bukannya aku tidak mau memilih. Aku cuman engga kenal orang-orangnya.

Y: Kamu sudah berusaha mengenal mereka?

B: Seharusnya merekalah yang memperkenalkan diri…

Y: Masalahnya memang pelik. Mereka sama sekali tidak berambisi menjadi pemimpin sehingga mereka tidak suka memperkenalkan diri kemana-mana. Mereka baru tersentak memperkenalkan diri ketika Pemilu sudah dekat, dan satu-satunya cara menyelamatkan bangsa ini adalah dengan memperkenal-kenalkan diri.

B: Itulah kesalahan mereka.

Y: Dan kita tidak salah menjadi seorang anak bangsa yang tidak berusaha mencari pemimpin bagi bangsa ini? Dengan diam saja di rumah, berharap media massa dan tv komersial memperkenalkan pemimpin jujur kepada kita?

—–

wuih tumben ni berapi-api ya?

Jangan lupa tinggalkan komen meski sedikit atau berupa pertanyaan. Bisa memakai nama samaran, login via fb atau twitter, syukur-syukur sesama pengguna wp.
Pajak Komen Anda bermanfaat bagi pembangunan karakter bangsa🙂
*diposting ulang, sebelumnya di http://didisederhana.multiply.com/journal/item/300/Akhirnya-Memilih-MENCONTRENG

32 tanggapan untuk “Ikut Mencontreng Atau Tidak? (Catatan Buat Pemilih Golput)”

  1. C: Tetapi yang dipilih ini tidak ada yang baik. Dua-duanya buruk dan yang didukung Prada (Partai Dakwah) menurutku merupakan yang terburuk.

    D: Dalam era network dan konspirasi sekarang, janganlah suka menyendiri. Lebih baik ikut berperan dalam kelompok yang terbaik. Dalam rangka itu, menurutku mendukung partai lebih memberi peluang perbaikan daripada mendukung sosok perorangan…

  2. hahaha, bapake, ngeliat (ulang) postingan ini jadinya kepikiran mau gak mau harus ikut ‘nyemplung’ di politik, walaupun cuman jadi penggembira😀

    Tapi mungkin nyemplungnya kayak siput (ato kucing yang takut air ya?) jadi pelan~~pelan~~pelan~~~~~ mungkin sampai airnya udah kering baru kelar nyemplungnya ~_~

  3. saya ngga golput loh akhiy
    saya milih.. cuma saya milih nomor c, bukan a atau b..

    + sama aja kaleee
    – ah, beda kalee
    + sama..!
    – beda..!
    + sa-maaaa..
    – be-daaa.. niatnya aja udah beda
    + kok jadi niat sik?
    – ane bukan ngga niat milih pemimpin.. ane niat milih pemimpin, tapi ngga rela pilihannya a atau b
    + ah, lari dari kenyataan, ente
    – justru realistis, akh.. karena pilihan yang ada ancur semuwah
    + m.a.k.s.u.d.l.o.h, a.k.h ?
    – daripada milih yang terbaik dari yang terburuk (lalu dilepas), mending siapkeun perangkat pengawasan buat si a atau b supaya ngga lari-lari daii panduan, dan atau bimbingan (siapa tau dua2nya tobat), sukur2 bakda pilkada dua-duanya ikutan liqo <— idealis dan utopis emang beda tipis
    + hmm.. *colek-colek* ente ngomong gini, masih aktip liqo gak ?
    – eh.. anu.. *malu-malu* enggak
    + nah yang begini nih.. entenya liqo dulu aja, kalee :p
    – iyaiyaiya.. tapi setuju kan sama usul ane ?
    + ntar ane pikirin
    – loh ?! *kepo*

    PS: siyalnya, orang yang entah idealis atau utopis itu saya, gan.. kepriwe kiye?

    1. kita sama Kang… sama-sama jenuh dengan dagelan yang selalu dipertontonkan.

      BTW asyik… Kang Ari udah mulai pake gaya dialogis begini. Kita makin mirip

      *menyipit-nyipitkan mata
      *kapan-kapan luluran dan facial biar putih juga. abis itu pakai kunyit dikit biar jadi kulit kuning

      1. eh ane kan kuningnya terlalu serling dijemur jadi kuningnya lebih ke gosong daripada ke langsat wakakakakak.. mungkin, dibanding antum. lebih gosongan ane.. etapi ane sipitnya asli, bawaan orok wkwkwk :p

  4. ‘memilih atau tidak’ bukankah itu hak…..yg bisa diambil atau pun tidak…..

    ‘memilih atau tidak’ bukankah bagian dr amal yg jg akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt…….

    apabila tidak ada yg layak dipilih maka bukankah wajar golput menjadi pilihan …..

    bukankah ‘tidak memilih’ jg bkn berarti diam….. krn perjuangan tdk sebatas ‘memilih atau tidak……’

    1. Setuju, memilih atau tidak adalah hak. Tetapi bagi para pejuang yang berusaha memperbaiki bangsa sesuai sikon yang ada (negara demokrasi adalah sikon yang real), mendukung partai perubahan merupakan keharusan.

      Jika partai perubahan ini tidak mendukung siapa pun, para pejuang pendukung partai ini juga boleh golput. Tapi ketika partai perubahan ini sudah mendukung dengan segala konsekuensinya, ya para pejuangnya harus memilih seperti suara partainya. Inilah makna jamaah yang terpimpin. Berbeda jauh dengan perjuangan pribadi tanpa pimpinan.

      Apakah tidak memilih bukan berarti diam?
      Dengan tulus ana mengiyakan dan mendoakan antum termasuk pejuang meski sampai sekarang belum sepakat dengan ana. Kita sama-sama merindukan perbaikan. Bedanya, ane setuju langkah Prada (partai dakwah) sementara antum tidak setuju dengan Prada.

      Di dalam atau di luar Prada, selama berjuang di jalan Allah, kita harus saling mendukung meski sebatas doa atau husnudzan.

      Selamat berjuang Akh Arif….

  5. Saudara kita, di mesir dan sekitarnya, hanya untuk bisa mendapatkan kebebasan IKUT memilih, saja rela mengorbankan segalanya. Kita sudah punya kebebasan itu, lha kok malah ndak menggunakannya!!?

    1. Yah udah ane follow ternyata blog masih kosong Akh? Sekarang antum dimana?

      Tentang keengganan teman2 untuk memilih, masalahnya (menurut ane) di kelemahan komunikasi. Terlalu banyak misintrepretasi sehingga banyak yang tidak percaya lagi pada Prada.

      Kadang aktivis memakai bahasa aktivis (harus, wajib, dsb) ketika menghadapi massa awam. Akhirnya membuat massa awam jadi sensi dan ngambek.

      Sekali lagi menurut ane, masalah terbesarnya adalah komunikasi Akh.

  6. memang tidak rela rasa memberikan dukungan suara kalo dagangannya kurang bagus begitu.. pusing, klo mau dipasarin apa yg mau dijual ke konstituen.. terlebih statement2 yg di blow up media bikin tambah ilfil..

    tapi gue lebih ga rela dipanggil HAI DOMBA2 DI JAKARTA..

      1. ^_^
        dikala ingin menyampaikan, tanpa harus mengatasnamakan agama jadi sulit ust. karena tokoh yg diusung sudah goyah citranya. seolah kita tidak punya pilihan lain selain masuk dari sisi Agama.
        tentunya sy tidak rela pintu pemurtadan semakin terbuka lebar. tp kebanyakan umat sendiri tidak memahami, dan membatasi penilaiannya sebatas kinerja keduaniawian.

        *mohon dikoreksi

        1. Saya bahkan tidak yakin bahwa alasan agama adalah alasan utama dukungan kepada calon A atau B. Mungkin karena sudah terlalu sering melihat plintiran-plintiran sehingga saya melihat politisi itu, siapa pun, yang penting bersih, peduli dan profesional.

          Saya juga tidak yakin bahwa politisi beragama sama akan lebih membela dibanding politisi yang agamanya berbeda.

          Inti dukungan saya hanya satu: partai yang bisaa dipercaya hanya Prada, sehingga dia mau memilih siapa pun, saya akan mendukung dan yakin bahwa di balik rupa sang tokoh yang dipilih terdapat agenda Prada yang bermuatan perbaikan.

          Meskipun mungkin perbaikan Prada tidak sedahsyat jika tokoh yang didukung adalah tokoh intern, saya percaya bahwa satu-satunya tawar-menawar yang membuat Prada memilih seorang tokoh atau lainnya adalah kepentingan umat.

          1. hmmm…setuju pak..

            Setelah membaca postingan-postingan bapak yang terkait pilkada ane jadi berpikir ulang tentang memilih atau tidak memilih.

            Bahwa siapapun yang diusung oleh prada, yang terbaik atau yang terburuk, bahkan mungkin yang beda keyakinan (semoga itu tidak terjadi) insya Alloh sudah dipertimbangkan sedalam-dalamnya dan sematang-matangnya, bukan dengan emosi atau pemikiran yang dangkal. Bahwa tujuan akhir dan terbesarnya tetap lillahi ta’ala.

        1. Hehehe… sejak awal sudah nebak-nebak sih alasan gak milihnya🙂

          Tentang komunikasi yang kurang baik, saya yakin insya Allah semakin hari semakin diperbaiki. Yang jelas, meski kadang para kader di bawah rada-rada galau, mereka (mereka?) tampak tetap memiliki tsiqah dan taat yang kuat.

          1. ‘Saya selalu ingin terlibat dalam kegiatan pembinaan generasi muda, pengembangan kapasitas simpatisan dan kader, tapi saya tidak mau terlibat politik praktis seperti kampanye calon, dll’ gimana itu ustad?

          2. Tidak mengapa, itu boleh-boleh saja. Yang penting jangan menghambat para politisi pejuang yang bergerak di arena mereka.

            Ketika kita ikhlas berjuang, sekalipun hanya dengan dakwah pada diri sendiri dan teman dekat misalnya, keikhlasan tersebut akan memberi hasil yang luar biasa. Tentu saja selama keikhlasan tersebut tidak rusak oleh sirik (bukan syirik), dengki, amarah dsb.

            Ikhlas itu memberi hasil luar biasa sekalipun pada tindakan kecil. PERCAYALAH!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s