Belajar Berdoa

Ahmad, seorang anak berusia 8 tahun, mengikuti lomba balap mobil-mobilan. Mobilnya dibuat dari kayu bercat biru, dengan garis merah di atas dan hiasan lampu. Ahmad berhasil mengalahkan banyak peserta, sehingga akhirnya ia masuk ke babak final bersama tiga peserta lainnya.

Dibanding mobil ketiga peserta yang lain, mobil Ahmad terlihat paling sederhana. Tanpa warna-warni gemerlap, tanpa gambar robot atau bintang-bintang, dan tanpa aksesoris yang mahal-mahal. Ahmad agak gelisah dan minder. Penonton pun melihat bahwa tingkah Ahmad sangat tidak meyakinkan.

Menjelang peluit ditiup, Ahmad mengacungkan tangan dan minta diberi waktu sebentar. Ia menadahkan tangan dan mulutnya berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Sesaat kemudian ia tampak tenang dan mempersilakan panitia memulai perlombaan.

Keempat peserta adalah peserta yang telah berhasil melewati babak-babak penyisihan yang berat, sehingga pertarungan antar mereka sangat seru. Penonton berteriak-teriak memberi semangat.

Menjelang finish ternyata mobil Ahmad melaju sedikit lebih cepat sehingga dengan selang beberapa detik Ahmad menjadi juara pertama.

Ketika panitia akan mengalungkan medali, ia mengambil mikrofon dan bertanya,”Tadi Ahmad minta waktu untuk berdoa sebelum peluit ditiup. Apakah Ahmad minta supaya bisa menang?”

Dengan tersipu-sipu Ahmad menjawab, “Ah, tidak… kalau saya minta menang berarti saya minta supaya teman-teman saya kalah. Saya… saya hanya berdoa agar kalau saya kalah saya tidak menangis….”

Penonton terdiam sejenak mendengar jawaban polos Ahmad, sebelum kemudian bertepuk meriah sambil beberapa orang menyeka sudut matanya…

Teman-teman, kita sebenarnya sudah lebih dewasa dari Ahmad, tetapi kadang kita tidak bisa bersikap seperti dia:

  1. berdoa pada saat membutuhkan
  2. tidak berdoa untuk kejatuhan orang lain
  3. menjadi tenang setelah membaca doa
  4. dan lain-lain…

Mudah-mudahan bermanfaat…

Sebelumnya diposting di http://groups.yahoo.com/group/taushiyah-only/message/12 pada 25/05/2001

Baca juga:

Percayakah Anda Bahwa Doa Anda Akan Terkabul?

6 tanggapan untuk “Belajar Berdoa”

    1. Ketika akal masih berkuasa, doa harus meminta yang terbaik. Tetapi ketika kita dicekam rasa takut, lapar dan sebagainya, tidak mengapa kita berdoa untuk sesuatu yang sekedar lebih baik dari kondisi yang ada.

      Jadi kalau ditanya: yang terbaik mana? Jawabnya: mintalah yang terbaik, persepsikanlah yang terbaik, harapkanlah yang terbaik.

      Tapi kalau ditanya: bolehkah kita minta sesuatu yang biasa saja, misalnya “Ya Allah, saya minta sendal saya diganti sendal baru” dan bukannya “Ya Allah, berikanlah kepada saya alas kaki yang terbak, yang membuat langkah saya selalu efektif dan berkah” ? Maka jawabnya adalah: boleh saja.

      Dalam kasus Ahmad, saya lihat dia memiliki kecerdasan spiritual-emosional yang bagus. Ketika grogi karena melihat pesaingnya lebih layak menang, dengan fair ia memohon agar dirinya tidak dipermalukan. Tetapi rupanya justru setelah tenang ia menjadi fokus sehingga –diluar kemauannya– ia malah mengalahkan anak-anak lain yang dalam pandangannya lebih layak tersebut.

      Atau mungkin juga karena ia berdoa kemudian dikabulkan. Ia mempergunakan ketenangan itu dengan baik sehingga dianggap telah bersyukur. Karena ia bersyukur, Allah kemudian menambah nikmat dengan sesuatu yang tidak dimintanya.

      Sekian Kang Purwi. Kalau banyak kekeliruan jangan sungkan menegur dan meluruskan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s