Puzzle yang Gelisah

Aku selalu merasa gelisah dan pada setiap pencapaian kutemukan bahwa kegelisahan itu selalu muncul kembali. Kegelisahan seperti anak tangga. Setiap kita melangkahi yang sebelumnya, gelisah versi berikut siap menanti.

Aku tidak tahu apakah semua orang merasa gelisah. Bukan tugasku juga untuk melakukan survey. Yang jelas aku gelisah dan selalu penasaran mengapa kegelisahan ini selalu ada…”

“Apa yang membuatmu gelisah?” aku bertanya usai melipat suratnya. Mendapat surat yang dikirim via pos pada hari-hari dominasi trafic komunikasi elektronik benar-benar membuatku terkesan.

“Jangan tanya. Aku justru sedang mencari jawabnya.”

“Oh, maaf. Kalau begitu aku mengganti pertanyaan. Apa yang kamu inginkan sekarang?”

Matanya menerawang jauh. “Mungkin sesuatu yang biasa diinginkan orang. Kaya, tampan, banyak fans…”

Aku tertawa. “Maksudmu apartemen ini, make up pria yang kamu susun rapi di meja rias, penghasilan dalam US dollar dan cewe-cewe yang mengitarimu tiap malam itu belum cukup?” Kalau dibandingkan denganku, kamu sudah sangat kaya, sangat tampan dan terlalu banyak fans!

Ia menggelengkan kepala. “Aku bosan dengan semua itu.” Mereka hanya pil penenang yang menidurkanku beberapa saat (aku sering dengan sok merasa bisa membaca pikiran orang)

“Oke, dan idemu untuk mengirim sebuah surat via pos adalah ide luar biasa yang berhasil membuatku datang jauh-jauh.” Meskipun bagimu pulang pergi ke kotaku cukup dengan beberapa jam penerbangan plus ngopi di Star*uck bandara, aku harus naik kapal dulu sehingga perjalananku dua hari, tahu!

“Apa nasihatmu?”

“Mmm… Pertama, kamu harus tahu bahwa kamu adalah sebuah puzzle.”

Ia memandangku serius. Ia tahu, aku selalu bersungguh-sungguh meski orang sering menganggapku hanya bisa bercanda.

“Karena kamu adalah puzzle,” aku melanjutkan, “Meski kamu selalu mencari kesempurnaan pada dirimu, pada setiap pencapaian selalu kamu temukan sisi yang tidak rata. Ke sisi mana pun kamu memuaskan ego, selalu ada lubang yang mencari something else.”

“Jadi kegelisahan itu akan selalu ada?”

Aku menggeleng cepat. “Tidak. Kegelisahan akan berakhir ketika kita bisa menggenapkan takdir.”

“Teruskan khotbahmu.”

“Hahaha… aku memang bukan psikolog kok. Aku tidak banyak tahu tentang teori psikologi apalagi istilah-istilahnya. Yang kutahu tentang psikologi hanya Freud suka mengamati orang gila kemudian menganggap gila adalah kondisi default manusia.”

“Oke, stop pembicaraan psikologimu. Aku bisa muntah mendengarmu memberi kuliah sok tahu dengan istilah dan tokoh yang sama sekali tidak seperti pengetahuanmu.”

Aku tertawa lagi. Menemukan teman debat adalah keasyikan luar biasa.

“Kembali ke masalah takdir dan puzzle. Omong-omong, kamu lebih suka dipanggil apa sebagai puzzle? Puss atau Pass? Kalau puss mirip kucing. Kalau pass berarti gak ada pembicaraan lagi. Pass.”

“Jadi kembali ke masalah takdir…?”

“Oh ya, ya. Kembali ke masalah takdir. Seperti semua anak puzzle yang lain, kamu juga harus berjuang untuk menjadi puzzle terbaik. Puzzle yang bersih, terang, berkilauan, sehingga siapa pun yang bermain akan mengambilmu sebagai puzzle yang pasti dipasang dalam kreasi utuhnya.”

“Dalam hal itu aku harus bersaing dengan semua biji puzzle lainnya?”

“Ya. Coba lihat pasir di laut. Dari sekian milyar pasir, mana yang akan kamu pilih?”

Ia menggelengkan kepala. Aku jadi tambah bersemangat, seolah aku telah berhasil mengendalikan jalan pikirannya.

“Begitu juga puzzle. Puzzle yang ada sangat banyak. Banyaaaaak sekali. Satu-satunya jalan agar kita bisa masuk dalam ‘kotak puzzle tersusun’ adalah dengan berjuang agar kita tampak menonjol dibanding puzzle lainnya.”

“Aku sudah cukup eksis kan? Meski masih gelisah, aku sudah mencapai titik kaya, tampan dan poluler yang di atas rata-rata.”

Aku menggeleng lemah. “Masalahnya bukan begitu. Yang kamu katakan itu bukan kamu melainkan uang. Uanglah yang membuatmu tampak kaya, selalu necis perlente, lalu uang pula yang menjadi magnet sehingga begitu banyak cewe mengelilingimu. Kalau kamu mau tahu kualitas dirimu, besok pagi bangun dan mandi lalu pakailah pakaian yang sederhana. Aku bisa meminjamkan beberapa pakaianku kalau kamu mau. Lalu keluar berjalan kaki, naik angkutan umum, mengajak orang-orang ngobrol, berusaha terlibat dalam saling membantu, lalu lihatlah. Berapa orang yang akhirnya masuk ke dalam lingkaran aktivitas harimu, itulah pengakuan atas kekayaan, ketampanan dan kepopuleran dirimu ketika kamu menjadi dirimu sendiri.”

Ia mengernyitkan dahinya.

Eh bersambung dulu. Sudah siang banget nih, lupa belum sampai di kantor samping kosanku. Ini masih draft, tapi tidak apalah sesekali menghidangkan draft (seperti hari-hari sebelumnya. Eh…)

[hayo jangan lupa komen!]

4 tanggapan untuk “Puzzle yang Gelisah”

        1. Jadi gini nih. Ibarat kita punya puzzle yang buanyak banget (manusia di dunia kan buanyak banget Akh. Milyaran!)

          Agar kita menjadi ‘sang puzzle’, mau tidak mau kita harus berani tampil beda dan menonjol dibanding milyaran puzzle lain.

          Kalau kita punya kekhasan, kemungkinan kita akan dimainkan dalam sekotak kecil puzzle pilihan. Kalau kita tidak memupuk kemampuan diri, kita hanya akan seperti sebutir pasir di pantai: tidak ada yang memperhatikan diri apalagi memasukkan kita ke dalam puzzle terpilih yang perlu dirangkai🙂

          [nambah jelas atau nambah bingung ya?]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s