Setelah Foke Kalah

Ada yang bilang Jakarta adalah Indonesia dan Indonesia adalah Islam. Saya tidak sepenuhnya setuju, tetapi saya juga prihatin ketika partai dakwah di Jakarta belum berhasil memenangkan Foke yang didukungnya sepenuh hati. Kalah menang memang biasa, yang bermasalah adalah dukungan simpatisan yang tampaknya sangat kurang. Akhirnya tadi siang lahirlah twit-twit seperti di bawah.

(biasanya saya ngetweet asal ngetweet saja tanpa cc siapa-siapa. Tapi ami @ari_maul menganjurkan cc ke @tifsembiring sehingga saya ikuti sarannya dengan senang hati)

Semoga twit-twit ini memberi manfaat…

@ari_maul Udah, tunggu aja hasilnya, gausah ribut2. Menang sukur kalah yaudah. Arsenal aja menang kalah tetep gw dukung koq. Ya gak om @wimar ?

@amin_ys @ari_maul Menang syukur, kalah perbaiki kaderisasi besar-besaran. Teorinya, pemenang ronde kedua adalah yang didukung PKS 7:26 AM Sep 20th from web

@amin_ys Juara itu kalau menang tidak nyombong, kalau kalah mengakui dan segera memperbaiki diri. 7:27 AM Sep 20th from web

@amin_ys Yang jelas, semakin hari harus semakin bijak. Kemenangan politik itu absurd, pernah mencaci atau memuji belebih itu karakter. 7:29 AM Sep 20th from web

@ari_maul Tenang pak. Kaderisasi itu spesialisasinya Arsene Wenger. :)) cc: @adhiprass RT @amin_ys: Menang syukur, kalah perbaiki kaderisasi besar2an.

@amin_ys @ari_maul @adhiprass Terus terang saya tidak tenang… 59:40 itu berarti rakyat mengalahkan parpol secara telak 7:30 AM Sep 20th from web

@amin_ys Jika rakyat bisa mengalahkan parpol, mari perkuat dakwah kepada rakyat. 7:33 AM Sep 20th from web

@amin_ys IMHO: Parpol pendukung tidak mencerminkan jml rakyat dlm pemilukada spektakuler ini RT @ari_maul: Dua2nya kan dicoblos rakyat dan didukung parpol pak. Yg independen cuma @faisalbiem dan Hendarji. @amin_ys @adhiprass 7:39 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys Nah (merenung) RT @ari_maul: @makmurmakmur @adhiprass “Yg betul? Mmgnya brp pemain Arsenal yg dari akademinya sendiri?” 7:41 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys Insya Allah, Bismillaah RT @ari_maul: Bikin kultwit aja pak. Cc-in ke @tifsembiring biar dibantu sampaikan ke yg berwenang.😉 7:50 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys #FokeJokowi adalah fenomena langka, dimana soliditas partai dakwah diuji cc @tifsembiring 7:53 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys Meskipun salah satu calon #FokeJokowi dianggap didukung media, partai dakwah punya jalur komunikasi kader yang auh lebih baik cc @tifsembiring 7:56 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys Kekalahan dalam #FokeJokowi harus membuat kita bertanya: masihkah rakyat percaya pada kader? cc @tifsembring 7:59 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys Mudah-mudahan setelah kasus #FokeJokowi perhatian kepada dakwah rakyat semakin besar cc @tifsembiring 8:00 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys Meskipun kita bisa berdalih apappun tentang #FokeJokowi, jelas dakwah rakyat perlu diperbaiki cc @tifsembiring 8:04 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys #FokeJokowi jelas pergulatan parpol pro Foke mempertahankan kepercayaan rakyat 8:05 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys Meskipun kemenangan #FokeJokowi menunjukkan rakyat emosional, tp itulah fakta obyek dakwah cc @tifsembiring 8:07 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys Jika ingin menanam parpol, uang bisa bekerja di negeri korup. Jika ingin menanam karakter, dakwah satu-satunya bahasa #FokeJokowi cc @tifsembiring 8:09 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys Yang jelas salut kepada jajaran kader yang solid mendukung struktur meski tidak sesuai kata hati #FokeJokowi cc @tifsembiring 8:11 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys Mari perbaiki komunikasi kader agar dakwah luwes dan diterima rakyat #FokeJokowi cc @tifsembiring 8:13 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys Bahasa dakwah yang diterima semua muslim DKI #FokeJokowi adalah: Hanya Allah satu-satunya tujuan, politik hanya alat cc @tifsembiring 8:16 AM Sep 20th from web

@amin_ys Inti pesan #FokeJokowi menurut saya: Jamaah punya parpol dan parpol adalah ‘bagian’ dari jamaah cc @tifsembiring 8:17 AM Sep 20th from web

@amin_ys Bahasa rakyat #FokeJokowi: Tidak benar mengatakan bahwa parpol adalah jamaah itu sendiri cc @tifsembiring 8:19 AM Sep 20th from web

@amin_ys Bahasa kader boleh lah, jamaah adalah parpol dan parpol adalah jamaah cc @tifsembiring 8:19 AM Sep 20th from web

@amin_ys Jangan pecah belah pendukung jamaah dengan pendukung parpol cc @tifsembiring 8:20 AM Sep 20th from web

@amin_ys Pada saatnya, parpol perlu ‘suara’ dan itu tidak cukup dengan mengandalkan jumlah kader cc @tifsembiring 8:21 AM Sep 20th from web

@amin_ys Semoga setelah #FokeJokowi aktivitas tarbiyah kembali menjadi fokus cc @tifsembiring 8:28 AM Sep 20th from web

@amin_ys Jangan sampai peserta tarbiyah bertanya-tanya “Ini ngaji atau politik” cc @tifsembiring 8:28 AM Sep 20th from web

@amin_ys Dan jangan sampai ada murabbi mau ngajar ngaji ragu karena harus kampanye yang belum sreg di hati cc @tifsembiring 8:29 AM Sep 20th from web

@amin_ys Jika ada ‘setitik’ keraguan tentang keikhlasan dakwah, jalur murabbi harus siap menguatkan keyakinan cc @tifsembiring 8:31 AM Sep 20th from web

@amin_ys Jika ada miskomunikasi, salahkan yang atas jangan marahi yang bawah cc @tifsembiring 8:32 AM Sep 20th from web

@amin_ys Karena tugas yang atas adalah menarik bawahnya untuk meninggi, secara pelan dan bijak sesuai tahapannya cc @tifsembiring 8:32 AM Sep 20th from web

@amin_ys Sekian permintaan @ari_maul untuk cc Pak @tifsembiring. Salam ukhuwah dan cinta dari pendukung beratmu 8:33 AM Sep 20th from web

@amin_ys @ari_maul @adhiprass @makmurmakmur Solusinya adalah jalur komunikasi. Only it. 8:34 AM Sep 20th from web

@amin_ys Satu lagi: saya tidak pernah kecewa dengan partai dakwah. Hanya melihat masa depan perlu lebih diperbaiki saja cc @tifsembiring @ari_maul 8:43 AM Sep 20th from web

@amin_ys RT @helvy: Selamat Pak Jokowi-Ahok ,saatnya buktikan janji sbg ‘pelayan’ sejati. Mari gandeng tangan jabat hati utk http://t.co/Uc2MBnMf 10:20 AM Sep 20th from m.tweete.net

@amin_ys RT @detikcom: Foke Kalah, PKS: Kami Sudah Berjuang Maksimal http://t.co/piJ5W75x 10:23 AM Sep 20th from m.tweete.net

15 tanggapan untuk “Setelah Foke Kalah”

  1. hmmm….
    sudah terjawab semua pak.
    pernyataan ane ini juga sudah jawabannya yaitu “meskipun kita bisa berdalih apappun tentang…” tapi tetap ane coba sampaikan, siapa tau bisa mengobati hati yang masih galau. pernyataannya yaitu : foke diciptakan oleh Allah. jokowi-ahok juga diciptakan oleh Allah. kemenangan mereka berdua pun Allah yang menentukan. jadi ya sudah, setidaknya kita sudah berupaya maksimal. sekarang tinggal tawakalnya sambil berharap agar Allah mengganti kegundahan kita (bagi yang masih gundah) dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang kita harapkan.

  2. ini beneran tulisan ustad? ahh.. ga percaya… hihihi…

    @amin_ys Jangan sampai peserta tarbiyah bertanya-tanya “Ini ngaji atau politik”

    satu lagi ustad, saat banyak isu menerpa partai dakwah ini, masyarakat banyak bertanya kepada kader, yang sayangnya belum mendapat jawaban juga dari atas.
    kader bisa dituntut untuk tsiqah, lah, masyarakat?
    ga bisa juga sami’an wa ato’an….

    1. ini adalah masukan buat @tifsembiring. Ane melihat masih ada kelemahan dalam tarbiyah, tapi jangan tanya ane percaya sama tarbiyah atau tidak Akh.

      Sampai detik ini, saya yakin kemenangan Islam di masa depan diprakarsai oleh PKS.

      Kalau sekarang masih perlu pembenahan komunikasi disana-sini, tapi wajar lah. Bukankah pelajaran terbaik diambil dari kesalahan yang pernah diperbuat?

  3. kalo menurut ane, pointnya bukan memilih berbeda dengan suara hati. Karena tetap hasil syuro adalah yang terbaik. Tetapi pointnya adalah bagaimana kiprah kepemimpinan yang sudah kita pegang. Sumut, Depok, Jawa barat, SUmbar dll. Beliau-beliau masih belum sefenomenal Jokowi yang tidak ditarbiyah.

    Untuk hal ini seringkali kita menyalahkan media yang tidak meliput. Sedangkan ane saja kesulitan mencari berita beliau-beliau di media kita sendiri untuk kemudian ane share di media sosial. Meskipun ada hanya prestasi angka statistik yang tidak real mengakar di masyarakat. Kalaupun ada postingan prestasi itupun setelah fenomena Jokowi. Tidak bisa kita pungkiri Pejabat Ikhwah kita masih Elitis dan Akademis tetapi tidak egaliter. Terakhir postingan hujan karena sholat istisqo yang banyak ikhwah mengklain karena gubernurnya. Masya Allah, Hujan seharusnya Allah punya kuasa, sedangkan manusia la haula wa la quwwata ila billah.

    Tarbiyah kaderisasi tidak akan pernah berhenti, dan Kami tetap melakoninya walau kita ketahui bersama hal ini butuh proses panjang. Kadang ada binaan yang harus masuk angin gara-gara urusan fitnah politik dari media. Ketika tarbiyah butuh proses panjang. Maka ada cara lain untuk merekrut lebih massive yaitu lewat Jabatan kepemimpinan struktural yang sudah kita miliki. Bukankah kita telah ditarbiyah dengan bagaimana kepemimpinan khalifah..?

    Ane yakin Ikhwah mampu lebih super dari Jokowi karena kita terlatih untuk itu. Ane terbiasa tampil egaliter dengan mengendarai sepeda ke kantor. Tetapi dampaknya akan lebih dahsyat jika dilakukan para pemimpin struktural Ikhwah. Apalagi jika berjalan kaki, bukankah kita terbiasa dalam mukhoyyam kita..?

    1. Senang sekali membaca komen ami Oky. Semoga para kader yang lain juga memiliki persepsi yang sama. Menjunjung tinggi hasil syura, berjuang dengan mengerahkan seluruh sumber daya dan bersabar dengan hasil yang ditentukan Allah: menang maupun kalah.

      Tentang ketokohan, media memang bisa mengorbitkan figur tetapi ‘becik ketitik olo ketoro’ (yang benar dan yang salah suatu saat pasti terungkap). Kalau sang figur tidak seperti yang diberitakan, akhirnya ia tidak akan dipercaya lagi oleh masyarakat.

      Kita tidak boleh ikut-ikutan cara media massa: asal mengorbitkan saja. Meskipun ikhwah banyak yang mengukir keteladanan luar biasa, kalau kita memberitakannya ala pedagang obral pinggir jalan, bisa-bisa malah menimbulkan antipati orang-orang yang ingin kita beri informasi.

      Jangan sampai kita kalap dan teriak, “Lihat A jalan kaki, lihat B naik sepeda, C naik angkot…” Alangkah baiknya jika kita sedikit bersabar dan memberitakan semua prestasi ikhwah itu secara elegan dan proporsional. Misalnya: “ada gubernur yang sedang belajar menjadi khalifah Islam”. “Ada bupati yang belajar merakyat selama dua masa jabatan” dan sebagainya. Bahasanya lebih humble dan memikat hati orang-orang tulus🙂

        1. Nah, berarti Ami Ahmad Fajar harus mencari tahu. Minimal kepada Mr tanya lah, “Bagaimana nih kemajuan Sumut setelah di-Plh oleh ikhwah.” Atau bisa juga nanya kepada teman yang kader.

          Entar kalau ditanya: kenapa nanya begitu?

          Jawab, “Biar bisa sosialisasi ke masyarakat.”

        2. Kalau kenal kader yang level atas atau barisan struktur, minta mereka mem-publish keberhasilan pemda yang menonjol dan tak mungkin tercapai jika kepemimpinan masih dipegang orang lain. Agar tiap hari kita mendengar motivasi sukses yang makin menyemangatkan🙂

  4. Saya sebagai warga Depok dan Jabar terus terang keberatan dgn komen di atas. Krn seolah walikota Depok dan Gubernur Jabar itu MERAKYAT setelah melihat fenomena Jokowi.

    Sebelum fenomena Jokowi, Pak Nur sudah ketemu macet Cinere saat akhirnya telat ketika mau meresmikan gedung sekolah tempat istri saya mengajar. Gak pake nutup jalan buat lewat.

    Tentang fenomena media yg baru sekarang mempublikasikan kinerja Pak Nur dan Aher, itu salah satunya diprakarsai kader2 di media yg gak rela prestasi pemimpinnya yg BENAR2 merakyat minim publikasi, salah satunya di fimadani.com, jadi BUKAN INISIASI Pak Nur atau Aher, tapi semata kecemburuan kader.

    Saya sendiri merekomen kpd Pak Amin utk mention @tifsembiring karna beliau trmasuk salah 1 ustad yg merakyat trlepas dari segala kontroversinya. Saya & istri bahkan bbrp kali SMSan dgn beliau dan DIBALAS.

    Maaf kalo terkesan emosional komennya😀

    1. Iya ane sampai berfikir kenapa ya kader pada sensi-sensi begini?

      Kalau secara pribadi, justru saya yakin ikhwah memiliki amal shalih yang sangat banyak dan mereka hanya meneladani Rasulullah, sama sekali tidak mencontoh figur-figur atau ingin diberitakan.

      Yang saya ingin diperbaiki di masa depan ya termasuk sensi-sensi ini. Kita sudah beramal shalih sehingga tinggal lapang dada dan menyerahkan hasil kepada Allah. Dengan cara begitu, rakyat justru terpikat dan yakin.

      Karena selain media yang mencuci otak, rakyat tetap punya intuisi yang tidak bisa dicuci dengan apa pun. Intuisi mereka selalu akan menuntun kepada yang benar. Justru kalau kader suka sensi, intuisi masyarakat jadi terhijab.

      CMIIW

      1. Afwan saya emang lagi sensy pak. Makanya perlu ketemu nih bwt dilepasin unek2nya. :))

        Kadang curhat ma istri begini: Gimana kita gak radikal kalau begini caranya?

        Setiap berita ttg PKS hampir semuanya negatif dan kader banyak yg menelan mentah2 tanpa klarifikasi lebih dulu.

        PKS dukung ini disalahkan. Tapi gak dukung juga disalahkan. Liberal menyerang PKS. Harokah lain pun begitu. Jadi kyk berjuang sendirian.

        Hehe, klo dianggap galau gpp pak diapus komen ini.😉

        1. Pengen ketemu? Hehe, insya Allah Sabtu Ahad di Jurangmangu kok Akh.

          Komen-komen di sini tidak ada yang akan dihapus meski sangat menghujat PKS. Karena saya yakin PKS itu baik dan punya sistem yang bagus. Yang perlu diperbaiki hanya jalur komunikasinya. Setelah ikhwah belajar dan jalur komunikasi kader diperbaiki, saya yakin jangankan kader; non kader bahkan non muslim pun yakin bahwa perbaikan Indonesia hanya bisa dilakukan dengan sistem yang dimiliki PKS.

          Tentang galau dan sensi, wajar Akh. Ane juga galau, tapi selalu melihat bahwa setelah mempertimbangkan buanyak hal, tetap cara memperbaiki bangsa ini adalah dengan mendukung PKS. Sambil bersabar mengobati kader-kader yang patah hati karena miskomunikasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s