Resep Tawa, Cinta dan Bahagia (I)

Cinta ada dimana-mana. Begitu juga tawa dan bahagia. Jika engkau tidak merasakannya, mungkin engkau memang tidak fokus padanya.

“Ah tidak juga. Aku TIDAK menemukan tawa yang tulus apalagi cinta dan bahagia. Padahal jelas aku sudah sangat fokus mencari ketiganya.”

“Oh ya? Bagaimana caramu mencarinya?”

“Aku sudah mengamati perilaku orang. Aku juga menghitung kebaikan dan keburukan mereka padaku. Mereka rata-rata tidak baik kepadaku. Memang sih mereka tidak jahat, tetapi juga tidak mempedulikan diriku. Tidak satu pun yang memperhatikanku.”

Aku tersenyum. “Tapi kamu benar fokus mencari ketiganya?”

“Ya, tentu.”

“Kalau begitu aku beri tahu salah satu caranya. Pertama, siapkan senyummu yang paling manis.”

Ia mendesah. “Itu seperti ayam dan telur. Bagaimana aku akan tersenyum manis kalau suasana hatiku bete, hambar, bahkan hampir-hampir stress? Aku ingin mereka bisa mengerti keadaanku. Lalu menghiburku.”

“Ini bukan ayam dan telur. Ini namanya permainan umpan dan ikan. Ketika engkau ingin mencari ikan, kamu harus menyiapkan umpan yang disukainya.”

“Oh, jadi aku harus punya senyum manis agar memperoleh tawa bahagia dan cinta? Kalau begitu pembicaraan kita cukup sampai di sini. Tidak ada gunanya melanjutkan.”

“Ayolah, kamu terlalu serius memandang kehidupan.”

“Bukankah hidup memang harus dihadapi dengan serius?”

“Tidak sepenuhnya. Kalau tentang agama, hubungan dengan Tuhan dan masalah akhirat kamu memang harus serius. Tapi kalau hanya urusan dunia, misalnya patah hati, patah kerja, patah uang dan patah arang, jangan terlalu serius lah… semua orang juga mengalaminya.”

“Aku tidak berminat lagi untuk melanjutkan. Bye.”

Aku tersenyum manis dan dia membalas dengan senyum tipis. Aku tetap menggenggam tangannya beberapa lama sambil tersenyum sementara ia terheran-heran tapi sambil membalas senyumku juga.

“Apaan nih?” tanyanya.

“Aku sedang membuatmu tersenyum.”

Senyum tipisnya merekah menjadi senyum lebar bahkan menjadi tawa kecil. “Hehe… iya kamu sudah berhasil. Lalu?”

“Begitulah contoh memancing bahagia. Suasana hatimu agak lebih baik sekarang kan?”

Ia mengangguk. Aku tersenyum lebar dan ia tertawa (senyum lebarku mirip dengan senyum di foto ini, silakan klik)

“Begitulah cara mengundang bahagia. Abaikan masalah yang membelit, lalu bersikaplah yang ramah. Kebaikan itu seperti magnet yang menarik kebahagiaan.”

“Tapi ini tidak akan bertahan lama.”

“Hehe… agar bisa bertahan lama harus diketahui dulu penyakit yang merusaknya. Sekarang kukasih resep untuk salah satu perusak bahagia, mau?”

“Mau. Apa resepnya?”

“Ini resep untuk penyakit mudah berprasangka. Ada cerita, seorang OKB (orang kaya baru) membeli mobil dengan cc besar. Karena tidak bisa dikebut di kota yang macet, dibawalah mobil itu ke jalanan desa yang lengang di akhir pekan. Bruummm…. brrrruuuuuummmm….. dikebutnya mobil sedemikian rupa.

Sebenarnya ada sedikit bersalah dalah hatinya. “Suara mesinku mengganggu orang-orang desa…” pikirnya. Tetapi dicobanya mengingkari kata hati tersebut, “Biarin, toh ini mobilku sendiri.”

Di sebuah tikungan seorang petani tiba-tba berteriak dari pinggir jalan. Teriakannya sangat kuat sehingga mengatasi suara mesin yang meraung-raung itu.

“Babiiii….”

OKB itu melongok ke luar jendela dengan hati panas lalu berteriak membalas, “Elu yang babi!”

Dan “Brukkk…!”

Mobilnya menabrak babi yang sedang berada di tengah jalanan desa tersebut.

Itulah prasangka. Pertama, prasangka lahir karena kita merasa salah. Karena merasa salah, kita lalu menganggap semua orang menyalahkan kita. Bahkan orang baik pun disangka sedang mencaci makinya. Akibatnya fatal. Ia harus kehilangan banya uang untuk memperbaiki mobilnya, mengobati kakinya yang patah, harus mengganti babi yang ditabrak pula.”

Temanku tersenyum lebar. Mirip senyum lebarku tadi di klik sini.

Ah udah ah jangan kepanjangan. Selamat berakhir pekan kawan. Mau diisi family time, activity time, me time atau apa pun, mari mengisi akhir pekan dengan ceria.

7 tanggapan untuk “Resep Tawa, Cinta dan Bahagia (I)”

  1. hmmm…
    suka sama babinya pak …. *dibungkus terus bawa pulang

    kalau ane belajar makna tersenyum dari bos besar ane. bahwa serumit apapun masalah, bahkan yang terkait dengan hidup mati sekalipun, bila dihadapi dengan tersenyum akan lebih mudah menemukan solusinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s