Liqa 2: Emangnya Nabi SAW Juga Membuat Liqa?

Aku membuka pintu sambil menjawab salam. Pak Eko berdiri dengan sikap kaku di teras rumah.

“Masuk Pak. Liqa kita dimulai seperempat jam lagi. Biasanya sebentar lagi teman-teman baru datang.”

“Justru itu Mas. Teman-teman hari ini berhalangan hadir.”

“Oh?” aku mengerutkan kening. Tidak biasanya ketidakhadiran mencapai 100%. Maksudku, liqa ini sebelumnya beranggota tujuh orang sebelum Pak Eko bergabung. Ketidakhadiran enam anggota lama serasa ketidakhadiran 100%. “Ada alasan mengapa teman-teman tidak bisa hadir?”

“Katanya sedang banyak urusan. Tapi mereka bisa mengikuti versi online-nya. ”

Aku tertawa. Rupanya liqa maya ini telah memangsa liqa nyata.

“Masuk dulu Pak Eko. Saya sudah siapkan serabi amerika.”

“Serabi amerika?”

“Hehe, pancake. Boleh juga disebut apem paman Sam.”

Pak Eko jadi ikut tertawa dan sikapnya tidak kaku lagi.

Usai membaca dua halaman ayat suci, Pak Eko yang kebagian mengisi materi memulai pembahasannya.

“Suatu hari Nabi Muhammad saw berdakwah. Sukarno, presiden pertama kita, pernah menggambarkan dakwah Nabi sebagai dakwah sederhana di sebuah kota kecil bernuansa pedusunan Madinah. Tetapi saya yakin beliau salah. Justru sebaliknya, Nabi Muhammad saw telah melakukan dakwah dengan totalitas sehingga Allah memberinya teknologi yang lebih tinggi dari teknologi masa kini.”

“Oh ya? Eh, maaf jadi menyela, Pak Eko serius sekali?”

Pak Eko tersenyum kecil. “Saya biasa mempersiapkan segalanya dengan serius Mas, tapi saya senang dengan ketidakformalan media kita. Tidak apa saya disela.”

“Saya kira teknologi kita lebih baik daripada teknologi zaman Nabi Muhammad saw. Mereka jelas masih mengendarai unta sementara Pak Eko memiliki kendaraan yang jauh lebih canggih. Belum lagi hape, internet dan sebagainya”

Pak Eko menggelengkan kepala. “Suatu saat kita harus berfikir ulang apakah teknologi yang ada sekarang merupakan fasilitas yang membantu atau justru kreasi manusia yang mengganggu. Apakah ini produk atau efek samping. Pemuas kebutuhan atau penghancur kemanusiaan.”

“Apa patokan untuk menentukan teknologi sebagai alat bantu atau alat ganggu?”

“Kemanusiaan. Ketika teknologi membuat kita semakin humanis berarti teknologi itu maju. Sebaliknya ketika teknologi membuat kita semakin seperti robot berarti teknologi kita justru mundur.”

“Bukankah itu tergantung penggunanya?”

“Tergantung penciptanya. Kebetulan pencipta dan pengguna teknologi adalah sama: manusia.”

Dalam beberapa saat perbincangan kami jadi lebih banyak tentang teknologi. Kesimpulan yang bisa diambil dari perbincangan kami:

– Manusia adalah ukuran kesempurnaan penciptaan, sebaik-baik makhluk.

Manusia bahkan lebih baik dari malaikat sehingga tidak perlu sok suci apalagi dengan menyiksa diri agar berderajat tinggi. Allah telah menyebut manusia sebagai ciptaan terbaik, jangan coba-coba meningkat lebih tinggi dari ‘sebagai manusia’

– Teknologi tidak dapat dianggap sebagai alat yang netral. Karena teknologi diciptakan manusia, teknologi seharusnya dicipta untuk membangun kemanusiaan ketika dipergunakan siapa pun.

– Ketika teknologi membawa pengaruh buruk lebih besar dari pengaruh baiknya, berarti manusia masih bodoh. Harus belajar mencipta alat yang lebih manusiawi lagi. Tentang poin ini kami berdebat cukup sengit. Menurutku ‘the man is behind the gun’, artinya alat apa pun tergantung pada manusia yang menggunakannya. Baik-buruk adalah tentang fungsi penggunaan, bukan tentang jenis alat. Karena debat berkepanjangan, kami sepakat untuk menyudahinya tanpa kesimpulan.

“Dakwah pada zaman Nabi Muhammad saw lebih maju dari zaman sekarang karena Allah mengirimkan the best machine yaitu malaikat untuk bertemu langsung dengan umat Islam pada masa itu,” ujar Pak Eko.

“Jadi teknologi yang lebih baik itu maksudnya machine bernama malaikat?” aku tersenyum, “Teganya Pak Eko menyebut malaikat sebagai mesin?”

“Kan tadi Mas Didi juga bilang: machine tidak bertanggung jawab tentang baik-buruk. Malaikat kan bekerja secara mekanis, robotik. Apa pun yang diperintahkan, itulah yang dijalankan. Mereka merupakan machine terbaik.”

Aku agak merinding mendengar pendapat Pak Eko tetapi tidak mendebat lagi.

“Tahukah Mas Didi ketika the smartest machine ini diturunkan Allah?,” (tentu saja aku tidak menjawab pertanyaan retorikanya), “Malaikat tidak mengubah kemanusiaan tetapi justru memperkuat kemanusiaan itu sendiri,” jawabnya sendiri.

Diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa suatu hari Nabi Muhammad saw sedang duduk-duduk bersama para sahabat. Ketika itu datanglah malaikat berwujud manusia. Sama sekali dalam bentuk makhluk supranatural agung atau jagoan super. Melainkan manusia dalam ukuran kemanusiaan yang sempurna.

Pertama, penampilannya sempurna: bajunya putih bersih, rambutnya hitam rapi. Penampilan manusiawi yang sopan dan menawan menurut etika berpakaian bangsa mana pun.

Kedua, sikap persahabatan yang sempurna: mendekati Nabi, meletakkan lututnya merapat dengan lutut Nabi dan meletakkan tangannya pada kedua paha beliau. Ini adalah sikap persahabatan yang paling hangat. Mesra dan penuh kasih.

Ketiga, sikap pembelajar yang sempurna: sang malaikat bertanya dengan pertanyaan yang singkat tetapi penuh makna, “Beritahukanlah padaku tentang Islam…”

Dan berikutnya ia bertanya tentang iman, ihsan dan tanda-tanda kiamat.

Aku hampir tak berkedip memandang wajah Pak Eko yang menguraikan materi dengan penuh kesungguhan.

Kesimpulan materinya:

Nabi saw biasa berkumpul dengan sahabat secara informal, mirip sekali dengan acara liqa. Pertemuan formal hanya dilakukan dalam sidang, khutbah atau ceramah. Selebihnya Nabi saw mengajar dengan cara-cara informal misalnya:
– sambil duduk-duduk di masjid
– sambil jalan-jalan ke pasar
– sambil membelai kepala anak kecil
– sambil berkuda misalnya dengan sahabat Jabir ra, “Mengapa tidak menikahi gadis saja agar lebih bisa diajak berkencan…”,
– sambil mengucap kata cinta misalnya kepada sahabat Mu’adz ra, “Yaa Mu’adz. Sungguh aku mencintaimu, karena itu janganlah engkau tinggalkan pada usai shalatmu untuk membaca: Allaahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika.”

Meskipun tidak formal, Nabi saw dan para sahabat tetap menjaga agar suasana tetap mulia tidak seperti majlis preman yang berisi kata-kata ketus dan kotor. Bahkan malaikat pun datang dengan penampilan rapi, bersih dan perlente sehingga Umar ra yang hadir berkomentar: “tidak ada bekas perjalanan jauh (tidak kumal) padahal tidak ada diantara kami (penduduk Madinah) yang mengenalnya”. Ini juga mirip liqa yang tidak formal, hangat, mesra, tapi kata-kata dan kesopanannya tetap terjaga.

Malaikat telah memberitahu dengan pertanyaan. Itulah cara belajar terbaik: bangkitkan pertanyaan. Ketika orang bertanya-tanya, ketika orang penasaran, mereka akan menjadi pembelajar yang tekun. Tetapi ketika mereka didoktrin atau dicekoki kaidah-kaidah, mereka bosan bahkan mungkin tertidur.

“Jadi teknologi itu tidak boleh terpisah dari nuansa sakral. Nuansa ruhiyah. Karena justru dalam ruhiyah yang sakral seorang manusia mencapai ketinggiannya.

Dan tidak seharusnya dunia maya mengganti dunia nyata. Meski malaikat bisa membisikkan atau memakai telepati untuk mengajar manusia, cara yang lebih manusiawi merupakan proses pembelajaran terbaik bagi manusia. Datang dengan penampilan yang baik, datang membawa pertanyaan, dan bertanya jawab sambil memelihara kemesraan dan kasih sayang.”

“Oh, jadi liqa maya kita…?”

Pak Eko tersenyum sambil berkata mantap, “Saya yakin setelah membaca liqa maya ini, teman-teman akan datang dalam majlis mulia kita seperti biasa.”

Aku ikut tersenyum. Ingin mengedit postingan agar tidak terlalu draft, tetapi waktunya kurang. Mudah-mudahan kalau ada yang kurang jelas bisa dibahas dalam komen-komen di bawah.

Liqa Sebelumnya:

Liqa 1: Tiga Ajian Sakti dalam Al Faatihah

19 tanggapan untuk “Liqa 2: Emangnya Nabi SAW Juga Membuat Liqa?”

    1. Alhamdulillaah langsung dipantau Kang Purwi.

      Saya yakin Kang Purwi biasa berliqa nyata. Di emper masjid, di majlis para guru dsb.

      Di satu sisi, saya tampak seperti sedang memasarkan liqa (sebuah sistem yang sudah diterapkan gerakan Islam).

      Di sisi lain, saya ingin membuat semua orang menjadikan pertemuan dengan ulama/guru/tokoh menjadi liqa. Kapan pun terjadi interaksi, ber-liqa-lah. Bukankah Nabi juga tidak membatasi liqa sepekan sekali atau sebulan sekali? Tiap kali berkumpul, terjadilah liqa.

      Yang jelas suasananya informal, relax, tapi menjaga adab (etika) dan fokus pada pembicaraan seputar iman dan pembentukan karakter.

  1. Ane masih ada tanda tanya di pikiran tentang malaikat. Bahwa memang ane setuju kalau malaikat itu mesin Allah karena tidak punya pilihan, hanya bisa patuh pada Allah.

    Tapi ada satu ayat (lupa ayatnya) yang menerangkan bahwa malaikat bertanya kepada Allah ketika Allah hendak menciptakan manusia. Kurang lebih pertanyaannya “mengapa Engkau hendak menciptakan manusia yang akan membuat kerusakan di muka bumi sedangkan kami selalu bertasbih kepadamu” CMIIW

    Mungkin pak Didi punya penjelasannya mengapa malaikat bisa bertanya padahal seharusnya kan dia hanya patuh saja?

    1. Jawaban termudahnya: Allah telah menciptakan malaikat yang berfungsi mengikuti semua perintah-Nya sekaligus berkemampuan menelaah dan mempertanyakan kebijakan yang diambil. Entah apa tujuan sebenarnya, tetapi salah satu hikmahnya adalah manusia bisa belajar dari dialog malaikat dengan Allah. Misalnya tentang manajemen partisipatif.

      Mesin buatan manusia masih kalah jauh dari makhluk buatan Allah sehingga ketika kita membuat perumpamaan seperti Pak Eko (malaikat = mesin) kita jadi bingung. Mesin kok iso ngeyel ki piye?

      1. hmmm…
        Jadi kesimpulannya malaikat bisa bertanya tapi tidak bisa memilih ya pak.. Jadi hanya sebatas mempertanyakan saja, tapi ketika Allah sudah mengeluarkan perintah, ya sami’na wa atho’na ya, tidak pernah sami’na wa asoyna…

  2. Judul yang tepat keknya Liqa Maya memangsa yang Nyata
    Teknologi memang menciptakan kedekatan tapi kedekatan yang maya

    Ketika sudah nyaman dengan yang Maya, yang Nyata pun bablas
    Waspadalah….Waspadalah

    1. Waduh. Mudah-mudahan kekhawatiran Langit dan Matahari tidak menjadi kenyataan🙂
      Semoga justru dengan diskusi-diskusi dalam liqa maya ini kita semakin menyadari betapa pentingnya interaksi nyata dalam kehidupan kita, aamiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s