Metaphor….

Bunga yang Indah    (Apr 8, ’12 4:20)

Aku tidak tahu banyak tentang bunga sehingga semua bunga tampak indah di mataku. Sampai suatu saat aku menemukan bungai parang, semacam bunga tetapi bisa berbicara.
“Impalkeja,” ujar bunga itu suatu saat.

Bunga yang Indah -II    (May 29, ’12 2:14)

Aku membelai kelopak sampai batangnya.

“Kamu tidak takut kata-katamu disalahgunakan manusia?”

“Bahkan kata-kata manusia pun sering disalahgunakan sesamanya, atau disalahfahami sesuai persepsi pendengarnya. Mengapa lah aku harus khawatir?”

Aku tertawa. Randy, teman satu bangsalku yang masih tinggal, menoleh. “Kamu bisa mendengar bunga itu bicara lagi?”

Aku mengangguk. Randy mendekat, didikuti Khoirul dan Ipung. Mereka berusaha ikut mendengarkan pula, tetapi bunga itu tidak berkata apa-apa lagi.

Bunga yang Indah -III    (Jun 22, ’12 7:53PM)

Bunga ini sudah waktunya ditanam.

“Darimana kamu tahu?”

Ia sendiri mengatakannya padaku.

“Kalau begitu tanam saja. Apa sulitnya? Lahan di sekitar asrama kita sangat luas. Kita bisa menanamnya di mana saja.”

Aku menunduk, tak sanggup menjawab.

“Mengapa? Apa lagi yang kaupikirkan?”

Aku menatap mereka satu persatu lalu berkata lirih, “Ia hanya bisa ditanam di lahan kosong minimal dua puluh meter persegi. Itu lahan yang sama dengan bangsal kita.”

Mereka ikut terdiam.

****

Terpaksa aku menghadap ke sekretariat. Aku tahu mereka mungkin tidak mengabulkan permohonanku, tetapi aku harus tetap mencobanya. Siapa tahu mereka mempunyai jalan keluarnya.

Orang yang bertugas piket di ruang sekretariat adalah Mister Jack. Aku menarik nafas lega. Meskipun besar kemungkinan ia juga menolak, tetapi ia seorang empatik yang selalu mempergunakan kata yang enak didengar ketika memberikan penolakan.

“Hm…. bisakah kamu menjelaskan mengapa bunga kecil dalam pot ini memerlukan lahan seluas itu?”

Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab. Apakah aku harus mengatakan kepadanya bahwa bungai ini bisa bicara? Ia pasti akan menganggapku gila seperti teman-teman bangsalku pada awalnya.

“Bapak juga pernah kecil, juga pernah mengalami masa remaja. Katakan saja apa yang memberatkan fikiranmu, dan Bapak mungkin akan mempertimbangkannya.”

Alangkah bijaknya bapak ini, meskipun kebingunganku masih bersisa 98%.

Tetapi kemudian aku dan Mister Jack sama-sama terkejut. BUngai parang yang sekian lama tidak berkata, yang biasanya hanya berkata kepadaku seorang, tiba-tiba berkata dengan suara yang jelas didengar baik olehku, Mr. Jack maupun teman-teman bangsal yang mengantarku.

“Aku bungai parang, dan aku bukan sembarang bunga. Kalau kalian menghargaiku, tanamlah aku pada lahan yang kumminta. Kalau kalian menganggapku bunga biasa atau bahkan bunga tanpa nilai, biarkan saja aku mati sebagaimana bungai-bungai sebelumku juga telah tiada.”

Mister Jack tampak begitu tidak percaya pada pendengarannya. Teman-temanku melongo. Hanya aku yang ceria. Bungai ini telah membuat masalahku clear. Apa pun reaksi Mister Jack nanti, minimal ia telah mengetahui alasanku meminta lahan seluas itu untuk bungai ini.

******

Kami membersihkan lahan bersama-sama. Kepala asrama sengaja memerintahkan kami semua, seluruh penghuni asrama, bekerja bakti melakukannya.

“Kita memiliki bungai, satu-satunya jenis bunga yang bisa berbicara. Ia sudah hampir punah. Sekarang kita menanamnya di halaman depan sekolah kita. Tidak ada yang boleh mengajaknya bicara, tidak ada yang boleh menganggapnya istimewa. Perlakuan khusus kepadanya hanya akan mengundang orang-orang di luar asrama untuk datang dan mengganggu privasinya. Ia merupakan tanaman yang sangat berharga, tidak ada duanya. Karena itu mari kita rawat dia seperti yang dia inginkan, dan biarkan dia berbicara atau diam sesuai penilaian kondisi dan kebutuhan yang dilakukannya sendiri.”

Pidato singkat tanpa teks itu cukup jelas untuk membuat kami bekerja bakti membersihkan lahan seluas dua puluh meter persegi seperti yang diminta. Aku mendapat kehormatan menanam bungai ini di tengah area, dipandangi seluruh mata di pinggirnya.

“Terima kasih,” bungai itu berkata pelan. Aku menganggukkan kepala. “Apakah kamu tidak akan berkata-kata lagi setelah ini?”

“Ya. Ajaklah teman-temanmu untuk mengendalikan penasaran dan keserakahan mereka. Aku akan diam karena itu hal terbaik bagiku dan terutama bagi kalian. Aku akan bicara suatu saat ketika dibutuhkan. Percayalah pada alam, kendalikanlah rasa ingin tahu dan keserakahan yang melukai kami.”

Aku menggigit bibir. Pesan bungai itu jelas, tetapi entahlah aku bisa menyampaikannya kepada teman-temanku atau tidak.

Kusiramkan urugan tanah terakhir menutupi batang sekitar sepuluh senti dari akarnya. Kemudian aku membawa cangkulku menuju barisan teman-temanku.

“Bungai itu berpesan…” aku terdiam sejenak. Teman-temanku tidak terlalu mempedulikanku. Ali menggamitku. “Kami semua mendengar pesannya. Sudahlah, mari kita kembali ke bangsal. Kita tidak boleh menganggap bunga ini istimewa.”

Aku tergagap. Satu lagi hal yang tak kumengerti telah terjadi. Bungai itu tadi berbicara dengan pelan, rasanya hanya aku yang bisa mendengarnya. Tak kusangka ternyata semua temanku telah mendengarnya. Bahkan lebih dari sekedar mendengar, mereka telah memahami pesannya.

_________________________________________________________________
asalnya:
I   http://didisederhana.multiply.com/journal/item/399
II   http://didisederhana.multiply.com/journal/item/407
III  http://didisederhana.multiply.com/journal/item/414
Gambar dari http://www.linggapos.com/11231_pt-kampumg-lepan-mulia-didesak-selesaikan-reboisasi-eks-tambang-bauksit-desa-penuba.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s