Maulid… Libur Lagi….

Namanya juga buruh, wajar lah kalau tiap hari libur bersyukurnya minta ampun. Apalagi maulid 2013 ini bertepatan hari Kamis. Biasanya Jumatnya diliburkan sekalian, cuti bersama istilahnya. Aneh ya? Bukannya pegawai yang merengek minta cuti malah bos-bos disono yang obral. Lebih aneh lagi kalau pembahasan dilanjutkan: sebenarnya cuti bersama ini hak atau kewajiban? Hehehe… tapi sudahlah. Jangan ada yang ke MK hanya gara-gara cuti bersama ini. (Eh omong-omong maulid besok sekalian cuti bersama apa enggak sih?)

Mungkin lebih baik membahas tentang maulid secara singkat.

Pertama, perayaan maulid sebenarnya tidak ada dalam Islam. Karena itu sebenarnya maulid sama sekali bukan hari raya Islam (kalau hari libur iya)

Kedua, banyak orang yang mengganti kata perayaan dengan peringatan. Intinya bukan berfoya-foya ala perayaan, melainkan mengambil intisari dengan mengambil contoh dari perjalanan hidup sang teladan. Mungkin seperti minum sirup rasa jeruk. Karena tidak ketemu jeruknya, minimal kita minum sirupnya. Karena tidak bertemu Rasulullah, kita adakan peringatan untuk mengenangnya. (Ya, benar. Sirup jeruk dengan jeruk asli pasti beda khasiat)

Ketiga, banyak orang yang berlebihan dalam peringatan maulid. Sebenarnya maulid yang artinya ultah sendiri sudah tidak nyunnah karena beliau tidak pernah ultah selama hidupnya. Apalagi ditambah dengan pembacaan syair-syair yang mendewa-dewakan Rasulullah saw. Ada yang menganggap cahaya Nabi sebagai pendahulu Adam as (tua amat beliau!) ada pula yang menyanjung cahayanya sebagai sebab penciptaan alam semesta (benar-benar dongeng!) Padahal sebagai agama yang mementingkan originalitas, tidak perlu lah menggambarkan beliau secara berlebihan begitu. Sesuatu yang tidak pernah beliau nyatakan dalam hadits apalagi termaktub dalam kitab suci Al Quran, mengapa tetap disiarkan agar diyakini masyarakat?

Keempat, ada orang-orang yang hanya mengambil momen. Kapan lagi bisa bikin pengajian dengan jumlah mendekati massa shalat Jumat kalau bukan pada hari-hari besar? Mumpung maulid, dibuatlah pengajian. Mau yang datang niatnya maulud-an, mulutan, yang penting bisa mengaji kepada ustadz kondang yang mahir menyampaikan ajaran-ajaran agama dengan bumbu hiburan. Agamanya dapet, orang-orang juga tidak jenuh mendengarkan.

Kelima, sebagai orang moderat saya insya Allah ikut datang kalau ada acara maulid. Tetapi sebagai pecinta originalitas, saya juga membuat tulisan ini yang isinya rasa syukur bahwa maulid menambah jumlah hari libur sekaligus himbauan untuk kembali ke ajaran Islam yang utuh. Intinya sih… maulid itu tidak ada. Hari besar maulid itu cuman diada-adakan, dan menganggap bahwa menambah hari besar akan bermanfaat bagi umat sama seperti berpendapat bahwa menyisihkan hasil korupsi bisa memberi manfaat bagi umat. Kalau perumpamaanya terlalu kejam, bisa dihaluskan sedikit: menganggap bahwa menambah hari besar bisa memberi manfaat seperti menganggap bahwa khutbah tiap jumat kurang efektif untuk menyadarkan umat….

Keenam, sudah jam enam. Mari siap-siap kerja. Hari ini hari kecil (bukan hari besar), kita harus mencari sesuap nasi bagi anak cucu dan generasi penerus nanti🙂

8 tanggapan untuk “Maulid… Libur Lagi….”

  1. Boleh libur asal ga mengurangi jatah cuti tahunan.
    Kayaknya kalo soal ini musti ke MK yah Ustad! Hehehe …

    Kalo di sini, demi kemeriahan dan acara “tandingan” sekitar setengah sampai satu bulan lalu yang sangat semarak, rasanya justru perlu dibuat peringatan. Supaya INGAT kalo kita punya junjungan, idola, suri teladan yang paripurna (cieeee… bahasanya)

    1. Wah keren juga ya ada pertandingan antar agama…
      Yang ane pikirkan: gimana ya caranya mengefektifkan Jumatan* biar engga kalah sama Natal, Valentine, Waisyak apalagi Nyepi…?
      Kalau jumatannya efektif, insya Allah umat Islam kembali ke originalitasnya yang gemilang ruhiyah tanpa mementingkan gebyar materi…. (ikutan: cieee… bahasanya)

      *maksudnya: mengefektifkan esensi jumatan

  2. Iya pak, ane sering bingung ama yang suka menambah-nambahkan dalam hal agama… kesannya ibadah yang sudah ditentukan masih kurang…
    Padahal kalau ibadahnya mau dijalankan seluruhnya, 7 hari seminggu 24 jam sehari kayaknya gak cukup ya… (atau perasaan ane aja ya -_-“)

    1. Ada yang sukanya menambah-kurang agama meski ia paham agama, contohnya ahli kitab. Mereka benar-benar sengaja melakukan tambah kurang pada agama untuk sebuah tujuan, ambisi, atau keinginan tertentu. Tetapi banyak juga yang menambah-kurang agama karena tidak tahu sehingga kita harus bergaul dengan sabar dan toleran tanpa memperkeruh suasana.

      Tugas kita adalah menjaga keaslian sambil menjaga ukhuwwah, atau sebaliknya menjaga ukhuwwah sambil menjaga keaslian. Untuk itu, diperlukan keikhlasan, kesabaran sekaligus keterbukaan.

      Dalam tulisan ini saya mungkin terkesan menyalahkan para penyelenggara maulid, padahal dalam prakteknya saya benar-benar membantu pelaksanaan pengajian-pengajian maulid. Bahkan pernah juga beberapa kali menjadi pembicara dalam acara maulid.

      Eh, pendekar tidak bertanya sesuatu yang spesifik sehingga wajar jika saya menanggapinya kesana kemari🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s