Novelku

writingeverywhere_shipEntah bagaimana, tiba-tiba saja muncul ide untuk menulis sebuah novel (kejadiannya sekitar dua tahun lalu). Ya, karya tulis fiksi. Dalam bayanganku, novel itu akan memberi pencerahan kepada pembaca tentang beberapa hal yang dialami para tokohnya. Dari para tokoh fiktif tersebut, harapanku, para pembaca bisa mengambil contoh tentang kegagalan, kesuksesan, pola hubungan, pola pikir/sudut pandang yang beragam dan banyak hal lainnya lagi. Bukankah banyak karya bisa menginspirasi orang lain, jauh lebih dahsyat dari yang dirancang pembuatnya?

Intinya sih, ingin membuat pembaca lebih moderat, lebih berfikir mendalam, lebih empati kepada musuh, lebih menjaga hubungan yang mulai datar atau garing dan lebih menyadari bahwa di balik setiap peristiwa ada Allah yang Maha Mengatur segalanya.

Impian itu begitu jelas sehingga aku seperti seorang anak kecil yang melihat pendaratan di bulan. Astronot, bu, lihat… sebentar lagi adek juga mau naik pesawat antariksa.

Kemudian waktu berlalu dan si adek melihat bahwa terbang ke bulan bukanlah tentang kecerdasan atau kehebatan teknologi.

Tiba-tiba si adek melihat bahwa selain mata pelajaran ada juga guru-guru, dan di belakang guru-guru ada penilik, dinas pendidikan, bla-bla-bla….

Si adek juga bertemu kepentingan. Terbang ke bulan bukan sebuah kebanggaan mewakili manusia bumi. Terbang ke bulan adalah masalah sponsorship, finansial, bahkan politik yang dikuasai orang-orang tidak jelas.

Lalu mimpi si adek berganti menjadi harapan yang realistis: bagaimana cara agar skripsi lolos tepat waktu? Bagaimana agar bisa naik gaji? Bagaimana agar bisa mengambil S2 dan S3 beasiswa? Bagaimana agar…. semuanya bukan lagi tentang mimpi. Rupiah, lokasi, seseorang, sarana, lobby, network…. mimpi-mimpinya sirna berubah menjadi planning. Tidak membakar, tetapi mudah terwujud esok lusa.

Menulis bukan hanya tentang hobi dan antusiasme. Menulis juga perlu waktu dan dukungan. Orang mungkin bisa tidak membutuhkan dukungan dengan cara menyepi sendiri. Tetapi aku jelas bukan tipe orang seperti itu….

Lalu draft itu kubiarkan saja terbengkalai. Draft itu seperti kepingan prasasti sebuah mimpi yang pecah. Dan aku kembali menjalani hari-hariku sebagaimana ‘seharusnya’.

24 tanggapan untuk “Novelku”

  1. Saya pernah menulis naskah buku dalam tempo 1 bulan, saya kerjakan saban malam di sebagian bulan Sya’ban dan Ramadhan. Alhamdulillah selesai dengan kepayahan karena harus diburu jadi mahar kawinan. Ada garis mati yang menunggu di depan sana, nikah dengan mahar dihutang.

    1. Terima kasih dukungannya Mas. BTW, deadline-nya sebenarnya Desember 2011 dan mulainya sekitar Agustus 2011. Tapi itu memang rada dipaksakan karena ane pemula dalam dunia tulis-menulis fiksi.

      Mohon doanya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s