Wanita

Kucoba menulis tentang ‘wanita’. Mengapa menulis tentang ini ya? Entahlah. Yang jelas tadi baca buku yang menulis tentang keunggulan sistem Islam kemudian berusaha mencari, mana bagian dari keunggulan itu yang menyangkut tentang pria-wanita. Kan ada tuh keunggulan yang mengangap semua ras sama, semua warna kulit sama, semua bangsa sama, semua bahasa sama, pendek kata adil banget lah. Terus berusaha iseng mencari mana pembahasan yang menyebut Islam menyamakan pria dan wanita dan bagaimana wahyu serta logika yang dipakainya, tetapi tidak ketemu.

Kalau menurutku, wanita diciptakan dengan ujian yang berat. Persis seperti pria. Hanya saja, baik pria maupun wanita sama-sama sepakat bahwa wanita diuji lebih berat dari pria. Aku tentu saja tidak setuju dengan pendapat tersebut, tetapi bukannya ingin menyanggah malah ingin menambah pertanyaan: apa karena memang ujiannya berat jadi sedikit yang lulus ya? Konon kebanyakan penghuni neraka adalah wanita. (Tetapi tidak ada riwayat bahwa penghuni surga terbanyak adalah pria. Catat!)

Nah karena ujian wanita berat (anggap saja ujian wanita lebih berat atau jauh lebih berat deh dari pria), perlu penyikapan yang khusus dalam menangani ujian tersebut.

Pertama, cobalah wanita meskipun perasa tetapi tetapkan tujuan yang jelas: sebenarnya hidup ini mau apa? Konon kalau pria bisa bikin tujuan yang macem-macem, wanita sedikit terbatas dengan: apakah suami nantinya ridha? Atau mungkin juga sekalian bikin tujuan menjadi wanita yang tidak pernah menikah sama sekali. Sesuatu yang sangat tidak disarankan, karena Islam tidak menganjurkan hal itu.

Setelah punya tujuan yang jelas, cobalah membuat peta yang mendekati kenyataan: bagaimana mau mewujudkan tujuan tersebut? Kalau berkaca pada barat, jelas wanita ingin sejajar dalam segala hal dengan pria. Sampai-sampai yang khas sebagai kewanitaan (hamil, menyusui, mengasuh anak) pun dibagi dua dengan pria atau ditiadakan (dengan membayar baby sitter misalnya; yang sayangnya tetap wanita juga)

Kalau berkaca pada Islam, jelas wanita harus berperan sebagai pemuas suami yang super top. Sampai-sampai Nabi saw bersabda, “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada lainnya pastilah kuperintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya” (Hadits riwayat Turmudzi dengan sanad hasan). Kalau para wanita begitu pandainya berperan memuaskan suami, pasti semua pria sepakat dengan hadits satunya lagi:

Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita shalihah.
Bila engkau memandangnya, ia menggembirakan (menyenangkan)mu.
Bila engkau perintah, ia menaatimu.
Dan bila engkau bepergian ia menjaga dirinya (untukmu) dan hartamu

(Hadits ini dishahihkan Al Albaniy)

Iya, sebagai pria saya juga sangat toleran kok kalau para wanita protes: Buat apa taat sama suami kalau suami saja tidak taat pada Allah? Buat apa sampai sujud-sujud kalau suami saja lebih suka nonton bola daripada tahajud? Buat apa memuaskan suami kalau suami saja lebih senang bermain-main daripada memuaskan (baca: mencari ridha) Allah? Saya juga ngerti banget kok kelasnya para suami.

Tapi ya itu. Kalau memang wanita punya tujuan Islami, cara Islaminya ya dengan rela menempatkan diri sebagai istri yang posisinya dibawah suami. Meski selalu tampak sejajar (suami ganteng isteri juga berhias, suami awet muda isteri juga belajar humor, suami pake batik isteri juga sarimbit dsb) tetapi isteri selalu siap untuk setiap saat taat dan patuh seperti seorang hamba yang selain diperbudak juga sangat mencintai suami yang seolah menjadi tuannya. Coba lihat ibunda Khadijah ra. Kurang bisnis apa? Kurang intelektual apa? Kurang kaya apa? Tapi begitu punya suami, ya semua buat suami saja.

Wah pada protes atau engga ya yang baca ini?

Yang jelas pada saat Islam pertama kali turun, wahyu-dakwah-dan-keteladanan selalu menjadi satu sehingga antara wahyu dan realita selalu nyambung. Kalau sekarang mungkin konsep semacam itu menjadi perdebatan karena ketiganya sering tidak sinkron. Misalnya wahyu mewajibkan isteri memuaskan suami, dakwah malah meminta isteri memaksa suami mengerti (ngerti sedikit lah mas, aku sibuk begini kan demi dakwah dimana kita menikah di jalannya), sayangnya keteladanan juga ilang. Bahkan di negeri antah berantah sono keteladanan berubah menjadi kesilauan materi. Lihat ustadz itu tuh, rumah eh mobil eh bla-bla-bla. Anaknya kuliah di Cambridge, Sorbonne, bla-bla-bla. Kemarin habis backpacking keliling Eropa dan bla-bla-bla…

(Tiba-tiba inget Nabi saw dan ibunda Aisyah ra. Mereka hidup sangat sederhana. Mau dilukiskan dengan cara apa pun, jelas mereka tidak tinggal di rumah yang layak dengan persediaan indomi makanan yang pantas. Boro-boro kolam renang pribadi dan ruang khusus buat shalat yang legaaahhh…. Kaya memang tidak dilarang dan Islam mengisyaratkan pentingnya harta sebagai pendukung, tapi bedakan harta untuk jihad dengan harta untuk bermewah-mewah lah)

Kalau wahyu-dakwah-keteladanan sinkron, perdebatan hanya untuk mengislamkan orang-orang yang tidak tahu. Kalau ketiganya tabrakan, perdebatan menjadi rutinitas yang lebih rutin dari shalat lima waktu. Malah ada yang sampai selalu berdebat meski sedang diam sendirian. Debat dalam benaknya.

Akhirnya, kepada para wanita, tetapkanlah tujuan lalu seriuslah untuk mengejar tujuan tersebut.

Kalau ingin barat, selamat berbarat-barat. Wanita kebarat-baratan enak kok buat ngobrol dan berbebas-bebas. (duh jujurnya)

Kalau ingin timur, selamat bertimur-timur. Eksotis sekali menyaksikan wanita berbudaya yang menjunjung tinggi tradisi.

Kalau ingin Islami, wah acung jempol deh. Semoga istiqamah dan siap memandang semua kesulitan sebagai ujian ekstra. Makin tinggi peringkat, makin berat ujiannya. Makin mendekati finalis, makin jago musuh-musuhnya.

Kalau yang suka modif, selamat bermodif-modif. Modif sering menciptakan kreasi berkelas, sayang Allah lebih suka kemurnian (khalasha-ikhlas) daripada aneka campur baur (syaraka-syirk). Usahakan modifnya tidak nyerempet-nyerempet.ya…

15 tanggapan untuk “Wanita”

  1. Kenapa saya jadi inget Big Bos saya ya, yg punya 4 Pos. | “Saya gak pernah silau sama harta, tapi saya gak sanggup kalau urusan wanita” Ujar dia berbisik pada kami saat silaturahim ‘Idul Fitri.

  2. Ping-balik: Pria | Didi Sederhana
  3. “Misalnya wahyu mewajibkan isteri memuaskan suami, dakwah malah meminta isteri memaksa suami mengerti (ngerti sedikit lah mas, aku sibuk begini kan demi dakwah dimana kita menikah di jalannya), sayangnya keteladanan juga ilang.”

    masih belum mengerti, cara menyinkronkannya gimana, pak?

    1. ane sebagai pria juga bingung. Tampaknya sinkron menyinkron ini adalah bakat alami wanita ya?

      Yang jelas keikhlasan dan komunikasi merupakan kunci terpenting untuk kegiatan sinkronisasi dengan suami tercinta.

  4. Misal, misalnya ini, pak, kondisinya seperti yang diatas:
    “Buat apa taat sama suami kalau suami saja tidak taat pada Allah? Buat apa sampai sujud-sujud kalau suami saja lebih suka nonton bola daripada tahajud? Buat apa memuaskan suami kalau suami saja lebih senang bermain-main daripada memuaskan (baca: mencari ridha) Allah? Saya juga ngerti banget kok kelasnya para suami.

    Tapi ya itu. Kalau memang wanita punya tujuan Islami, cara Islaminya ya dengan rela menempatkan diri sebagai istri yang posisinya dibawah suami.”

    mohon dijelaskan lebih detil lagi mengenai ‘menempatkan diri sebagai istri yang posisinya dibawah suami’? bakat alami wanita, butuh pendetilan😀

    1. Mungkin bisa lebih enak kalau pakai contoh: Asiah ra (isteri Fir’aun). Saya yakin tidak ada akhwat yang suaminya lebih kafir dari Fir’aun.

      Yang dlakukan Asiah adalah berusaha menjaga hati suami sambil tetap beribadah kepada Allah. Kalau suami misalnya melarang ikut baksos dan tidak rela meski sudah dijelaskan, ya sudah putuskan saja untuk berbakti secara penuh dengan minta izin kepada panitia baksos sambil melayani suami dengan penuh cinta dan ketaatan.

      Konon, ketika pria dilayani dengan tulus sepenuh hati, sebentar kemudian ia akan jatuh cinta dan mempersilakan yang dicintainya melakukan apa saja…..

      [cuit-cuiittt….]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s