Pria

Setelah menulis secara spontan tentang wanita, jadi tergelitik untuk menulis juga (secara spontan) tentang pria. Bukankah ini perlu untuk semacam perimbangan? Lagipula aku belum tertarik untuk menulis tentang ganja dan artis, maskapai pailit dan tersangka impor sapi.

Kalau Anda membayangkan sebuah dunia dimana setiap jengkal tanahnya berbentuk kerajaan dan pada tiap kerajaan selalu ada rajanya, maka begitulah kira-kira dunia pria. Secara formal, setiap keluarga memiliki pria yang menjadi raja (bayangkan jika ada banyak kerajaan dan semua rajanya adalah raja lalim. Kiamat dah). Secara tidak kasat mata, sebenarnya semua pria adalah raja. Mau punya wilayah atau tidak, mau punya rakyat atau tidak, mau punya peraturan atau seenak udele dhewe…. pokoknya pria adalah raja.

Kalau dalam Al Quran digambarkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling aniaya terhadap diri sendiri dan bodohnya berlipat-lipat (dzaluuman jahuula) karena mau menerima amanah yang langit bumi dan semua makhluk lainnya tidak mau menerimanya, pria adalah lantai basement dari para peaniaya dan pebodoh itu. Bukan saja aniaya dan bodoh karena dirinya adalah manusia, pria juga (lebih) aniaya dan bodoh karena malah mengambil amanah tambahan: tanggung jawab tentang seorang wanita yang dinikahinya.

Ketika akad nikah, seorang pria (muslim) mengatakan: ‘aku terima nikahnya….’. Ini adalah akad untuk menerima reward dan punishment, tetapi sang pria hanya membayangkan reward-nya saja dan lupa bahwa punishment setelah penobatan itu sangatlah berat….

Pria sebenarnya merupakan sosok tangguh. Selain Harry Potter, saya tidak pernah membayangkan ada kakek sihir sebelumnya. Sihir bagi saya adalah gambaran dunia ‘tidak tangguh’. Dunia serang belakang, dunia lempar batu sembunyi tangan dan semacamnya. Karena itu dalam kepala saya hanya ada nenek sihir. Gambaran seorang wanita yang licik, kejam, dan maunya membereskan semua masalah semaunya saja.

Nayh, pria adalah sosok tangguh. Sayangnya, pria juga senang main-main. Begitu sueeeeenengnya bermain-main sehingga tidak jarang semua potensi ketangguhan, kepemimpinan, kepahlawanan dan sebagainya yang dimilikinya menghilang di balik ke-tengil-annya.

Sejak kanak-kanak sampai kakek-kakek, maunya maiiiiiinnnnnnnn terus!

Enak dong jadi pria? Ya, kalau sudut pandangnya adalah reward. Pria benar-benar menikmati banyak hal. Selain Cakra yang begitu menghiba dengan permohonannya untuk putus, para pria lain adalah pemain-main yang memandang bahwa hubungan dengan wanita adalah permainan. Dibalik punggung para wanita yang disembahnya, pria saling bercerita dengan temannya tentang tipu dayanya kepada para wanita.

Sudah deh. Kalau tentang kenikmatan, semua wanita pun minta agar diberi hak yang sama dengan pria sementara tidak ada pria yang menuntut hak agar dipersamakan dengan wanita. (Tentu saja kecuali para pria yang mengatakan bahwa dirinya adalah jiwa wanita yang terperangkap dalam tubuh pria. Mungkin bisa saya tulis pendapat tentangnya di lain kesempatan).

Tetapi kalau membahas tentang punishment, yang berarti membahas tentang kesadaran beragama atau kesadaran moral, masya Allah… (geleng-geleng kepala)…. betapa aniaya dan bodohnya para pria itu. Betapa senangnya mereka bermain-main sampai-sampai semua potensinya mandul dan semua kerusakan tercipta.

Karena itu, kalau kemarin saya membahas tentang wanita dengan akhiran barat, timur, Islam dan modif, saya ingin mengakhiri tulisan tentang pria ini dengan:

Wahai para pria dan terutama diriku sendiri….

Kalau kamu ingin terus bermain-main, silakan bermain-main sesukamu. Raja mana sih yang tidak boleh bermain-main?

Tetapi kalau kamu ingin mengambil tanggung jawab, segeralah berkaca kepada para Rasul dan sahabat. Sudah, berkaca kepada mereka saja. Jangan memakai apologi zaman dinasti sebagai cermin. Buka mata buka telinga: meski main-main itu menyenangkan, sungguh-sungguh itu jauh lebih memuaskan. Meski main-main itu enak, jihad jauh lebih nikmat.

Duh. Bilangnya tulisan spontan. Kenyataannya memakan waktu 30′ juga. Sudah ya? selamat bekerja, jangan lupa niatkan menjadi ibadah yang tidak main-main….🙂

 

8 tanggapan untuk “Pria”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s