Catatan Nunggu Absen

Aku duduk di sampingnya, sambil membelainya. “Apa kabarmu sore ini?”

Ia tersenyum sambil menoleh. “Tentu saja baik. Apakah kamu kembali ingin berlari?”

Aku tersenyum masam. Tumbuhan ini hanya sebatang tumbuhan kecil, tetapi ia selalu tahu mengapa aku duduk di sini, di lapangan luas ini.

“Apa yang membuatmu resah?” ia kembali bertanya.

Aku memandang kejauhan. Anak-anak kampung yang bermain bola berbalut lumpur, kerbau yang memamah rerumputan dan langit senja yang menjadi latar belakang. Luas dan indah.

“Apa yang membuatmu resah?”

“Apa?” aku mengulang pertanyaannya. “Mungkin juga pertanyaanmu. Kamulah yang membuatku resah.”

Tumbuhan itu bergoyang ditiup angin. Mirip orang yang tertawa terpingkal-pingkal.

“Aku tidak berlari dan aku tidak sedang resah. Aku hanya merasa lebih tenang di tempat ini. Di tempat yang memungkinkanku menikmati semesta yang luas tanpa perlu berfikir tentang membeli semua lahan di muka bumi.”

“Huh, barusan beberapa orang menginjakku sambil membawa-bawa alat ukur. Kalau tidak salah dengar, tempat ini mau jadi real estate.”

Aku memandang tumbuhan itu. “Berarti kamu akan mati?”

“Ya, pasti. Tapi aku mati atau hidup tanpa pilihan. Juga tanpa rasa sakit atau sedih.”

Aku terdiam. Apa yang kudengar barusan membuatku merasa tidak nyaman.

“Katakanlah kalau kamu resah atau sedih. Aku senang mendengar keluhanmu, curahan hatimu.”

Aku memandangi tumbuhan itu. “Apa yang membuatmu senang?”

“Senang saja. Ada seseorang yang menganggapku bisa menjadi pendengarnya, tempat berlabuh duka laranya. Mungkin aku bangga, atau semacam itulah.”

Aku tercenung memikirkan sesuatu.

“Bagaimana? Apakah kamu akan bercerita?”

Aku menggelengkan kepala.

“Lucu ya? Sekarang malah aku yang cerewet…”

“Tidak. Aku justru sedang merenungkan sesuatu. Sesuatu yang baru kudengar darimu.”

“Oh ya? Apa itu?”

“Bahwa kamu senang mendengar keluh kesahku. Itu mengingatkanku pada Tuhan, yang juga senang menguji manusia agar berkeluh kesah dan mengadu pada-Nya. Juga pada kenyataan masa laluku, setelah berkeluh kesah biasanya jadi tenang. Seharusnya aku merasa tenang bersama-Nya saja….”

Tumbuhan itu tiba-tiba mematung, lalu aku melihat gerakan yang mirip sujud. Sebentar kemudian suara-suara tasbih, tahmid dan tahlil…

“Keluar… Ukhruj! Keluar kamu….” sebuah suara membuatku membuka mata. Beberapa orang merubungiku yang terbaring di tengah padang rumput. Sedang apa mereka? Mengapa aku ada di sini?”

“Alhamdulillaah…” beberapa orang mengucap tahmid sambil mengusap wajah. Di depanku ustadz Muhammad menggulirkan batu-batu wiridnya sambil memandangku tajam.

“Apakah ada yang kesurupan barusan?” aku bertanya lemah.

Tiba-tiba semua orang tertawa. “Iya, kamu.”

Ha?

 

7 tanggapan untuk “Catatan Nunggu Absen”

  1. Betul, sudah dewasa, jadi sudah tidak bisa lagi,ya Akh ? Berarti ada yang hilang dari kita, Akh? Apa itu,Akh? Perlukah kita mendapatkannya lagi?

    1. Sebenarnya ketika dewasa otomatis memang segalanya berubah. Tetapi kalau kita bisa mengontrol perubahan itu tetap di jalan yang suci (fithrah), insya Allah sampai kapan pun kepekaan itu tetap ada.

      Bukankah Abu Bakr ra membaca Al Quran sambil tersedu-sedu, meski usia beliau sudah tua?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s