Obrolis

Ada yang lebih santai dalam penyampaian materi selain cara-cara dialogis. Namanya obrolis. Gambaran mudahnya, kalau dalam dialog seseorang masih perlu berfikir tentang logika dan kerangka antar hubungan (pertanyaan nyambung atau tidak dengan tema), dalam obrolis kita bisa ngobrol apa saja.

Misalnya tentang materi sirah nabawiyah. Kita bisa mulai dengan apa itu sirah, apa bedanya dengan kisah dan tarikh, kemudian mengapa kajian sirah diperdalam menjadi sebuah spesialisasi tersendiri. Ini bisa menjadi bahan dialogis, bisa juga menjadi obrolis. Untuk menjadi bahan dialogis mudah saja: pakai kerangka sirah yang sudah tertulis dalam kitab-kitab sirah.

Tetapi kita juga bisa memakai cara obrolis, misalnya ketika peserta pengajian adalah ibuk-ibuk yang tidak terlalu senang berfikir analitis atau bapak-bapak yang merasa sudah banyak tahu segalanya sehingga hanya datang ke pengajian untuk bersantai.

Cara obrolis misalnya dengan mengambil bahan-bahan keseharian, untuk dikaitkan dengan sirah. Misalnya:

Orang-orang dari dulu sampai sekarang suka sekali cerita. Mau yang berbayar semacam yang diputer di gedung bioskop atau DVD maupun yang gratisan semacam sinetron dan film televisi. Bahkan berita pun sekarang dikemas agar menjadi mirip cerita, misalnya dibuat menjadi gosip yang disampaikan dengan nada tukang cerita kawakan.

Bahkan orang-orang tua kita yang mengaku bijak berstari pun tidak lepas dari cerita, misalnya wayang atau cerita rakyat (Malin Kundang, Sangkuriang, Yuyu Kangkang dsb).

Wajarlah jika Al Quran dibagi menjadi tiga bagian besar: bagian prinsip-prinsip hidup (aqidah), bagian aturan dan hukum (syariah) serta bagian cerita-cerita (kisah). Kalau kita baca Al Fatihah, ayat terakhir adalah ‘jalannya orang-orang yang diberi petunjuk, bukan jalan orang-orang yang sesat dan bukan jalan orang-orang yang dimurkai’. Ayat ini mengindikasikan pentingnya memahami jalan hidup mereka bertiga: jalan hidup para nabi dan syuhada yang mendapat petunjuk, jalannya orang-orang sesat dan yang dimurkai. Adanya di dalam kisah dan sirah.

Penyampaian obrolis ini lebih santai, informal dan memudahkan komunikasi dua arah. Cocok sekali untuk dipakai orang-orang yang bukan dai dan penceramah tetapi menceburkan diri ke dalam kancah dakwah. Bahkan dalam metode obrolis ini, kita tidak perlu mati-matian mempertahankan sebuah pendapat ketika salah satu audiens ‘menyerang’ apa yang kita sampaikan.

Misalnya:

Itu presiden partai anti korupsi kok malah korupsi. Gimana tuh?

Kalau kita terlalu formal, mungkin jadi bingung. Tapi kalau kita pakai obrolis, mungkin kita bisa lebih santai, “Iya juga ya? Berarti harus pilih partai yang lain saja dong?”

Lalu bicara partai A gimana, partai B gimana, C dst. Termasuk kalau golput gimana, jangan lupa.

“Wah jadi bingung kalau begitu,” ujar pelempar wacana.

“Jangan bingung. Sekarang kita lihat saja kisah para nabi. Soalnya jangankan kita yang manusia biasa, nabi yang maksum (dijaga dari kesalahan) saja pernah berbuat salah.”

“Ah mosok sih?”

“Lha kita sekarang hidup di dunia apa bukan karena kesalahan Adam as?”

“Iya juga. Tapi itu kan kesalahan yang memang dikehendaki Allah, agar manusia turun ke bumi.”

“Lha kalau kehendak Allah sih apa coba di dunia ini yang bukan kehendak Allah?”

“Ya yang lebih menunjukkan kesalahan individu lah. Bukan skenario besar seperti penciptaan manusia yang memang sejak awal juga digariskan untuk hidup di bumi. Kan sebelum menciptakan Adam juga Allah sudah dialog dengan malaikat dan mengatakan bahwa manusia yang akan diciptakan itu adalah untuk bumi?”

“Oke, kalau begitu kita lihat kesalahan Yunus as. Beliau jelas diperintahkan untuk berdakwah kepada kaumnya eh malah melarikan diri. Akhirnya kan ditangkap KPK.”

“Lho kok KPK?”

“Yaah… Kayak Paus Kiriman gitu… kan kalau orang lain ditelan ikan pasti mati, ini kan ikannya khusus sehingga yang ditelan masih hidup…”

“Wah kalau begitu mas Didi malah ngajak kita engga percaya agama dong. Awalnya kan cuman engga percaya parpol, sekarang malah diajak engga percaya nabi-nabi.”

“Bukan begitu. Maksudku, cobalah melihat bahwa kesalahan sangat mungkin terjadi. Sistem secanggih apa pun, tetap memungkinkan orang melakukan kesalahan karena manusia memang ditakdirkan begitu. Yang penting bukan orangnya salah apa engga, tapi penegakan hukumnya disegerakan atau tidak… Jadi misalnya ketua partai salah langsung ditindak, berarti partainya bagus. Tapi kalau ketua partai salah malah dilindung-lindungi, nah ini namanya engga beres…”

Ya kira-kira begitulah. Mudah-mudahan bisa menjadi masukan bagi teman-teman yang kesulitan menyampaikan materi padahal telanjur terperosok menjadi da’i, atau diperosokkan menjadi ustadz padahal merasa masih manusia biasa saja….

9 tanggapan untuk “Obrolis”

  1. Hmmm

    kalau orang yang terbiasa dialogis diajak obrolis kayaknya perlu energi untuk mengubah mindset dialogis menjadi obrolis ya pak. (contohnya ya seperti saya ini -_-“)

    Dari pola pikir dialogis yang (biasanya) terstruktur, kaku & njlimet menjadi pola pikir obrolis yang santai, gak neko-neko tapi tetap tepat sasaran

    1. Santai saja Akh. Ini tidak memerlukan perubahan besar. Hanya sebuah tawaran metode baru biar suasana lebih santai dan terbuka tanpa meninggalkan kebiasaan untuk berbicara yang baik-baik saja🙂.

      Lagipula cara obrolis ini mungkin sulit juga jika diterapkan kepada orang-orang yang serius atau dalam forum yang menuntut formalitas…

  2. Sebenarnya saya lebih suka metode obrolis daripada dialogis karena lebih nyaman..

    Tapi mungkin ada beberapa constrain yang membuat pola pikir ini kembali ke dialogis seperti sejauh mana kenal dengan lawan bicara dan mood.

    Mungkin sambil jalan ya pak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s