Simbok Jamu

Berikut adalah gambar kiriman dari Amah Peta, gambarnya tentang penjual jamu yang sedang berbahagia. Bagusss....(in memoriam Pak Tino Sidin)
Berikut adalah gambar kiriman dari Amah Peta, gambarnya tentang penjual jamu yang sedang berbahagia. Bagusss….
(in memoriam Pak Tino Sidin)

Penjual jamu dari dulu sampai sekarang sama saja. Kalau enggak embak-embak ya embok-embok. Dengan seragam yang juga sama: kain jarik, kebaya, selendang/jarik buat menggendong rinjing (semacam keranjang tapi tanpa banyak mata, dibuat dari bambu, berfungsi untuk membawa botol-botol jamunya yang banyak).

Tapi ada yang berbeda. Pertama pada mataku yang memandang simbak/simbok, kedua pada merekanya.

Yang pertama, aku bukan konsumen jamu lagi. Dulu aku sering minum jamu terutama beras kencur dan jamu ireng/paitan. Setelah beredar informasi, mungkin juga gosip, tentang bahaya jamu yang dibuat dengan bahan-bahan kimia, aku kemudian berhenti total menkonsumsi jamu. Kadang kasihan sih melihat mereka jualan lewat depan rumah. Tapi setiap mau beli, selalu jadi ragu: ini ramuan tradisional berbahan alami atau bahan kimia yang diaduk tanpa pengetahuan medis? Walhasil selalu batal beli jamu.

Memang persepsi sangat berperan ya? Dulu aku kasihan sehingga beli meskipun tidak sakit. Sekarang kasihan tapi tidak mau berkorban meski seribu dua ribu. Hanya karena persepsi negatif, seolah semua jamu di botol-botol itu berisi bahan kimia. (Itulah sebabnya Nabi saw tidak mau mendengarkan gosip. Beliau lebih suka bertemu semua sahabatnya dengan hati yang bersih)

Yang kedua, dari sudut penjual jamunya, dulu mereka mudamuda, eh, ceria-ceria dan banyak mengobrol. Mungkin karena bertemu pembeli memang menyenangkan ya? Engga tua engga muda rata-rata penjual jamu ini ceria dan menyenangkan untuk berbagi cerita, meski nantinya di rumah hasilnya juga hanya seribu-dua kali sekian gelas yang terjual. Tadi ketika berangkat lihat seorang penjual jamu keluar dari gerbang rumah tetangga, eh wajahnya masam dan mengingatkanku pada beberapa birokrat kantoran yang wajahnya memang selalu begitu.

Aku jadi menyangka, para penjual jamu ini juga sudah menjadi korban kapitalisme. Mereka mungkin tidak membutuhkan materi berlebih, tetapi kapitalisme dengan curangnya masuk ke dunia pendidikan sehingga semua orang, materialis atau zuhud, tetap perlu uang minimal buat mempertahankan anaknya di bangku sekolah. Mungkin juga ibuk-ibuk itu belum bayar kontrakan rumah. Mungkin juga jamunya engga dibeli padahal sudah stock beberapa hari yang lalu (siapa tahu sekarang penjual jamu nyetok juga. Kalau dulu setahuku jamu dijual fresh from oven)

Ups ada kerjaan. Yauda berenti dulu.

gambar dari http://pettarosetta.wordpress.com/

12 tanggapan untuk “Simbok Jamu”

  1. hmmm…..

    speechless pak kalo udah ngomong kapitalisme, karena jadi buah simalakama (setidaknya untuk saat sekarang, sebelum ekonomi syariah bisa mengalahkannya)

    Mungkin kapitalisme juga yang menciptakan ketidakadilan ketika materi yang didapat seorang tukang jamu, jauh dibawah seorang tukang minta-minta. (ada gak ya?)

    1. Wah suenengnya bisa bikin jamu sendiri. saya juga pernah minum rebusan sereh sama apa gitu, buat obat mag ternyata manjur.

      Tapi ya itu… kepikiran para simbak eh simbok jamu… apa harusnya mereka cari sumber penghasilan lain ya?

  2. Dulu pernah mau buat blog ttg tukang jamu yg selalu berubah dr masa ke masa.
    Dulu yayuknya setia dengan konde, kebaya, dan keranjang yang dipikulnya,
    Sekarang banyak yg berkaos, kerudung, dan kendaraan roda dua,
    Malah di medan kutemukan tukang jamu berkumis menjajakan jualannya dengan mobil.

    [IMG]http://i1208.photobucket.com/albums/cc370/akupetta/b2534b1717572bda6570ce681be452a8_zpsd9268bcb.jpg[/IMG]
    made by my own hand a long time ago

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s