Muallif Tersenyum

SatedikampungMuallif tersenyum. Sebelumnya ia merasa tugasnya membosankan. Kembali ke kampung-kampung, bertemu sawah, sungai, hutan dan gunung. Jauh dari bayangan kehidupan anak muda yang keluar masuk mal apalagi sambil menggandeng orang tercinta. Tetapi kemudian ia mencoba menerapkan ajian syukur sehingga semua yang diduganya akan membosankan berubah menjadi menggairahkan.

Kembali bertemu penduduk desa yang polos, yang protesan, yang manipulatif, yang sudah disetel untuk bersuara Aaaaa…. Beeee…. Ceeeee, tidak ketinggalan yang memandang kedatangannya dengan takut dan penuh prasangka.

Kembali membaca laporan-laporan yang terkesan direkayasa, buku-buku yang baru diselesaikan semalam, serta wajah-wajah tegang yang siap membela diri entah benar entah salah.

Tetapi di balik itu semua ada potensi yang sangat besar. Pembinaan, penyadaran dan istilah keren yang sudah lebih dari sepuluh tahun didengungkan: pemberdayaan.

Mungkin ada salah kaprah dalam penerapan. Mungkin ada unsur robotik dari para fasilitator yang dipaksa menerapkan sistem secara homogen pada masyarakat yang pemahamannya super heterogen. Tetapi bukankah justru kedatangannya bisa mengubah paradigma yang salah dan menjadi salah satu oase, meski oase kecil, di tengah sahara yang terik?

Karena itu Muallif mulai bisa tersenyum.

Ia memang tidak bisa menyulap kondisi menjadi ideal seperti dongeng-dongeng yang digemarinya. Tetapi ia teringat hadits Nabi Muhammad saw kepada Ali bin Abi Thalib kw:

“Berjalanlah dengan tenang, sampai kamu tiba di sekitar wilayah mereka. Lalu serulah mereka untuk masuk Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki onta-onta merah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi jangan bosan, jangan sebal, jangan juga berharap terlalu banyak. Ajak ngobrol saja satu orang tentang indahnya iman, ukhuwwah, jihad dan pengorbanan. Boleh sehari sekali, tak usah kecewa juga jika hanya sebulan sekali. Hasilnya wallaahu a’lam. Tetapi jika ada satu saja yang tercerahkan, insya Allah itu lebih baik dari harta dunia yang diagung-agungkan manusia (pada saat itu, unta merah adalah lambang prestasi dan prestise di masyarakat Arab).

Ya, tersenyumlah Muallif.

2 tanggapan untuk “Muallif Tersenyum”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s