Teman Lama, Ngobrol Yuk

Aku berkesempatan mengunjunginya lagi, setelah sekian lama berpisah. Anto, tentu saja bukan nama sebenarnya, sedang terbaring dan sangat senang ketika aku datang menengok.

“Kamu makin gemuk saja, Di?” ujarnya sambil menjabat tanganku.

“Dan kamu makin kurus….” ia memang terlihat kurus. Layu dan kerdil, terbaring lemah dengan selimut menutup sampai dada. Tampak jauh lebih tua dari usianya.

“Aku sakit-sakitan, Di. Rasanya tiap hari ada saja yang dirasa….”

“Penyakit lama itu. Inget engga dulu pas SMA, kamu sering ngiket kepala pake selendang gara-gara pusing?”

“Wah kamu inget aja Di. Udah 24 taun yang lalu itu….”

“Bersyukurlah sampai sekarang kamu masih hidup. Tuh almarhum Mujeni sama Sanip, kurang sehat apa coba. Ternyata Allah ngasih jatah umur yang pendek….”

“Mereka sudah meninggal Di?”

“Iya. Sudah lima tahun yang lalu….”

“Ooh….” Anto termangu-mangu. Tampaknya masygul membayangkan dua bintang SMA kami di masa lalu sekarang telah tiada, mendahului dirinya yang dulu dipanggil Cungkring karena lemah dan kecilnya.

“Berusahalah untuk sehat, To. Aku yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan agar tubuhmu kuat….”

Anto menundukkan kepala. Ia teringat petualangan di masa muda kami dahulu, ketika kami antusias mencari rahasia hidup termasuk rahasia kekuatan dan kesehatan.

“Apakah ada yang membebani pikiranmu?” Aku mencoba menguak apa yang menjadikannya ‘memilih’ cara hidup sakit-sakitan.

“Hmm….” bukannya menjawab Anto malah membuang muka, memandang ke luar jendela.

Aku tertawa kecil. “Hidup selalu memberi kesempatan, To. Sampai kapan pun. Selama nafas masih berhembus, selama jantung masih berdetak, kita tetap punya banyak pilihan.”

“Dan kamu juga memilih cara hidupmu yang sekarang?”

“Tentu. Ini jalan hidup yang kupilih. Aku yang kamu lihat sekarang adalah hasil dari pilihanku dahulu,” aku berkata sambil tersenyum. Aku ingin Anto kembali punya semangat.

“Senangnya bisa ketemu kamu lagi, Di.”

Aku merasa ucapan Anto membuatku terkesan narsis kalau kuceritakan. Tapi biarlah. Sudah telanjur.

“Jadi kamu mau memilih cara hidup yang bagaimana? Tetap sakit-sakitan atau berubah?”

Anto tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Pasti aku mau sehat dan kuat. Menjadi pejuang di garis depan. Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu kubereskan dulu….”

Aku melihat wajah sahabat fiktifku ini lebih bersinar, menampakkan semangat muda yang seharusnya memang masih miliknya. Kami kemudian mengobrol benerapa hal, termasuk penindasan demokrasi di Mesir yang dilakukan militer dan orang-orang liberal dengan cara yang buruk.

“Konfrontasi selalu ada ya?” ujar Anto.

Aku mengangguk. “Ya. Kita terlibat atau minggir, haq dan batil selalu berperang. Kita masih berjiwa muda atau sudah pikun, kekuatan hitam dan putih selalu bertempur…”

Jam sudah menunjukkan waktu Dzuhur ketika aku pamitan untuk kembali ke kantor. Ia berpesan untuk sering berkunjung tetapi aku tidak berani menyanggupinya.

Terlalu banyak berkunjung ke teman fiktif bisa bikin kita kena schizoprenia….

Selamat i’tikaf🙂

21 Ramadhan 1434 H.

2 tanggapan untuk “Teman Lama, Ngobrol Yuk”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s