Prolog

Siapa tidak hancur menyaksikan puteri semata wayangnya putus sekolah. Tetapi siapa pula yang berhak menggugat Pemberi Rezeki? Bahkan semesta pun menghentak ketika berucap penuh cibir, “Menyerahlah!”
Dan ia makin terpukul ketika sang puteri meminta izin untuk berangkat ke kota. Duh, maafkan Ayah, Nak. Bahkan sekedar menjagamu di rumah sampai seorang ksatria menjemput pun tiada sanggup….
“Putri mau belajar mandiri, Yah. Ayah jangan sedih, nanti Putri malah jadi kepikiran,” ujar puterinya ketika mencium punggung telapak tangan.
Lekaki itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia adalah pria perkasa, dengan tangannya ia sanggup merubuhkan gedung sekaligus membangun istana penggantinya. Tetapi ia tak kuasa berkata apa-apa ketika anaknya berpamitan.  Ucapannya pasti serak, dan ia tak mau sang puteri mendengarnya.
“Ayah masih percaya mimpi Ayah, kan? Putri akan sukses, bahkan Putri akan menjadi manusia besar. Doakan saja Putri sanggup menghadapi ujian. Putri selalu ingat kata Ayah, sukses datang mengikuti ujian dan mimpi mewujud setelah kerja keras….”
Sang ayah tersenyum mendengar puterinya mengulang kalimat mutiara yang pernah dinasihatkannya. Anaknya sudah beranjak dewasa.
Sang puteri melambai ketika bus melaju meninggalkan terminal kabupaten. Sang ayah ingin mengejar, kalau bisa terbang, mendahului puterinya sampai di kota. Bukankah bibit hanya ditanam setelah lahan dibersihkan? Tetapi lelaki itu bergeming sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Terbanglah bersama angin,
Karena kamu bibit pepohonan hutan
Terbanglah meski jauh
Kamu pasti menjulang, di mana pun angin meletakkan
Dengan gontai sang lelaki mendekati tempat parkir, dimana sepeda motor bututnya menanti sambil menatap heran. Mana Tuan Puteri?
Sang lelaki membelai motor yang telah mengantarnya hampir ke semua tempat, termasuk sekolah anaknya sejak dasar sampai menengah atas. Tuan Puteri berangkat mengubah suratan, bisiknya.
Sepeda motor itu berteriak parau ketika starternya dijejak. Orang bisa mendengarnya berteriak risau, meledak-ledak dengan letup asap hitam sepanjang jalan.
Alam menatap gundah dan mendung bergelayut di hati. Tapi lelaki itu percaya pada bisikan angin yang membawa puterinya. Angin pernah menuntunnya menjadi lelaki penakluk semesta.
Kini giliran Sang Puteri, bisik angin, restui dia mengguncang dunianya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s