Narcissistic Food

image

“Ustadz narsis juga ya…” celoteh salah satu teman fesbuk.

“Haaa… yang poto sambil pamer kue di piring itu ya? ” aku bertanya sambil tertawa. Foto itu sebenarnya untuk nanya nama salah satu kue tradisional ke teman-teman, tapi sifat iseng membuatku memajang wajah full senyum semanis madu. Fyi, madu itu sangat pahit, kalau tidak percaya tanyakan para wanita monogamis dan pria sok mono.

“Iya, Tadz.”

“Afwan, mengganggu pandangan ya?”

“Enggak juga Tadz, cuman gimana gitu ngeliat ustadz sekarang pada narsis”

Aku tidak menjawab. Bisa saja sih secara reaktif aku membalik: kan aku bukan ustadz! Salah siapa panggil aku pakai istilah yang aku juga tidak suka. Tapi aku melihat masalah yang lebih besar dari sekedar membela diri. Mejeng foto mungkin layak dilakukan para ABG yang wajahnya unyu2. Narsis, kata mereka. Lha kalau ustadz yang mejeng dengan pose sok unyu… duh, jangan-jangan bukan narsis melainkan najis! Na’udzubillaah….

Ustadz atau bukan ustadz, seharusnya aku lebih mementingkan substansi (makna, hikmah, pelajaran dsb) dari sekedar tampilan. Bukankah Islam melatih kita undzur maa qaala (memperhatikan substansi pembicaraan) walaa tandzur man qaala (dan jangan lihat siapa yang bicara).

Jadi aku setuju kalau kita yang sudah dewasa, hendaklah jangan memasang foto-foto narsis. Bukan melarang apalagi mengharamkan, ya sekedar menghimbau saja. Agar lebih banyak menyajikan substansi, makna, pelajaran dan hikmah daripada membanggakan wajah (apalagi kalau pamer wajah ini sampai menyakiti hati orang, misalnya pasangan hidup kita)

“Lha jadi foto-foto ustadz mau dihapusin Tadz?”

“Hehehe… enggak juga. Gak se-extreme itu lah. Pelan-pelan, semampunya dan sesuaikan dengan kondisi. Ekstremitas hanya melahirkan perpecahan, menjauhkan sikap toleransi dan welas asih,” ujarku sambil membayangkan wajah teman kecil, teman remaja, teman SD, SMP, SMA… yang pasti lebih suka dengan si Didi yang humoris daripada si ‘ustadz juga bukan tapi gayanya kebanyakan’.

Eh sudah dulu. Sayang nih menghabiskan malam cuman buat ngeblog.

3 tanggapan untuk “Narcissistic Food”

  1. 😀
    Kalau ane di posisi ustadz (ups….maksudnya pak Didi😀 :D) sih yang penting niatnya hehe… (mungkin karena udah capek ‘dengerin’ omongan orang -_-“)

    Pajang foto pak Didi kan kayaknya gak ada niat narsis…

    Tapi gak gitu juga ya pak….?

    1. Apa kabar Akh Sulambag… sekarang sudah pakai id yang jelas ya tidak suka pendekar-pendekaran lagi….

      Mungkin emang anenya narsis Akh, cuman ane gak ngerasa. Karena orang-orang bilang begitu, sampai teman anak saja bilang: ‘abimu eksis amat sih’

      Hehehe… jadi malu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s