Tawakkal

Kita dilatih tawakkal sehingga dibiasakan setiap keluar rumah membaca bismillaahi tawakkaltu ‘alallaah, laa haula walaa quwwata illaa billaah (dengan nama Allah, aku berserah pasrah kepada Allah. Tidak ada daya dan upaya kecuali seizin Allah).

Bacaan doa ini lebih kuat dari mantra dan ajian apa pun, sehingga jika kita meresapinya akan terasa aliran ketenangan membasahi jiwa. Seiring tiap lafaz yang diresapi, mengalir ketenangan hakiki bersumber dari kuasa Ilahi.

Pangkat?
Penghasilan?
Keluarga?
Kendaraan dan sarana?

Laa haula walaa quwwata illaa billaah
Tidak ada daya dan upaya kecuali yang seizin Allah…

Allaah….

Maka tenanglah jiwa, selaraslah rasa, meresaplah nafas dan tegaklah mata memandang ke hadapan

Bersama Allah, kan kulalui perjalanan hari ini
Bersama Allah, tiada yang dapat menghalangi
Bersama Allah, tiada beban di belakang tiada pula ketakutan di muka
Semua lebur dalam kekerdilan, di hadapan kuasa Allaah

Bismillaahi tawakkaltu ‘alallaah, laa haula walaa quwwata illaa billaah….

Teringat ketika penugasan kemarin di ibu kota, setiap hari pulang pergi naik kereta (commuter line) dengan lancarnya. Sehingga selalu yakin, tidak mungkin terlambat kalau berangkat dan pulang dengan ritme yang sama (saya berangkat dari staaiun Pondok Ranji sebelum jam enam pagi sehingga kereta belum kepenuhan, nyaman dan manusiawi)

Sepekan pulang pergi, semakin yakin bahwa ritme yang ada telah menjamin untuk sampai tepat waktu (bahkan lebih awal)

Tetapi ananda Riyy tiap pagi merengek, kenapa ia mengantar abinya ke stasiun tapi tidak pernah ikut. Maka disepakatilah Senin nanti akan naik kereta bersama, mumpung kerjaan sudah selesai dan kerjaan berikut baru esok harinya.

Senin, 9 Desember 2013. Adek Riyy menagih, maka sepulang isteri mengajar kami pun berangkat. Eh, dasar ibu-ibu, ada saja yang harus dilakukan dulu. Mau makan dulu lah, mau inilah, itulah, akhirnya rencana naik kereta mundur. Jam tengah dua belas kami sampai stasiun, petugas memberi tahu: hari ini tidak ada kereta karena terjadi kecelakaan di bintaro. Kereta menabrak tangki minyak.

Subhaanallaah…. baru sepekan saya yakin kereta memberi jaminan yang cukup baik, langsung ditunjukkan betapa mudahnya terjadi suatu hal yang membuat keteraturan itu terserak.

Saya tentu turut berduka untuk para korban, tetapi saya juga harus bersyukur karena telah dihindarkan dari kecelakaan.

Dan satu lagi pelajaran yang saya petik: jangan merasa aman karena suatu sarana. Tidak ada yang bisa menjamin kecuali Allah. Biasakanlah tawakkal hanya kepada Allah.

Saya tidak tahu apakah cerita ini juga memberi kesan kepada pembaca, tetapi saya mengajak pembaca semua untuk selalu tawakkal hanya kepada Allah.

Karir,

Harta,

Keluarga,

Koneksi,

Client,

Atasan,

Jabatan…

Tidak satu pun menjamin kehidupan kita, kecuali jika Allah mengizinkannya.

Jadi mari selalu tawakkal kepada Allah dan biasakan setiap keluar rumah, mau berangkat entah dekat entah jauh, mulai dengan membaca doa tawakkal:

Bismillaahi tawakkaltu ‘alallaah, laa haula walaa quwwata illaa billaah.

image

7 tanggapan untuk “Tawakkal”

  1. saya sepertinya baru sekadar melafalkan doa belum sepenuhnya menghayatinya…
    tiap naik kendaraan atau keluar rumah itu pasti ada resiko yang menyertai dan Allah yang memberikan izin keselamatan kepada kita hingga sampai tujuan….
    mengingatkan saya agar betul2 menghayati doa nih, pak..
    jazakallah for share, pak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s