Persaudaraan

Persaudaran bisa menjadi sederhana, bisa juga menjadi sangat serius.

Sederhana, karena kita bisa bersaudara dengan siapa pun asal kita membuka hati untuknya.

Tidak begitu sederhana, karena persaudaraan menuntut kecerdasan emosi. Kita tidak bisa menyatukan dua orang menjadi saudara kecuali keduanya melembutkan hati, melenturkan prinsip (!) dan rela saling mengalah.

Persaudaraan juga bisa menjadi sangat serius, seperti dalam banyak kasus dimana persaudaraan menuntut pengorbanan jiwa. Persaudaraan bisa menuntut jatuhnya banyak nyawa ketika satu jiwa tercabut….

***

Aku sedang duduk di sebuah tempat pemberhentian ketika menulis postingan ini. Sebuah tempat dimana kendaraan pertama telah mencapai tujuan akhir sementara kendaraan umum berikutnya belum tiba.

Seharusnya aku di dalam masjid karena aku adalah seorang muslim.

Seharusnya aku sedang berwirid memohon ampun karena aku banyak dosa.

Seharusnya aku tidak di tempat ini, karena dimanapun aku berada, rumah Allah selalu tersedia di atasnya.

Tetapi aku sekarang berada di sini, bersama dua pelayan warung yang menyetel Air Supply dan John Bon Jovi dengan kerasnya (alhamdulillaah bukan dangdut, minimal aku jadi tidak terpancing untuk goyang)… dan bersama dua orang wanita berpenampilan mencolok, bibir menor, celana span beberapa centi di bawah perut… lengkap dengan asap rokoknya yang meruap ke segala arah.

(eh lagunya makin jadul saja… sekarang malah: here I am.. at six a clock dst… seperti menyindirku yang begitu jauh dari You…. I need You now… God….)

Kembali ke persaudaraan….

Dua wanita itu kemungkinan besar adalah wanita malam. Sekali lihat, prasangka kita akan mengarah ke sana, dan kemungkinan besar prasangka itu benar.

Masalahnya, siapa yang menyuruh kita mengikuti prasangka tanpa pembuktian?

Daripada diam dalam prasangka, mengapa kita tidak bertanya dengan lembut, menyapa ramah, apa pun sambutannya nanti?

Apakah kita berhak memilah bahwa si A harus menjadi saudara sementara dua wanita yang kujumpai di waktu malam ini tidak?

Tidak, tidak… jangan menyangka begitu. Sampai keduanya beranjak aku juga tidak menyapa. Aku belum seideal itu, atau mungkin juga belum sekonyol itu.

Aku hanya tercenung pada makna persaudaraan.

Apa artinya persaudaraan jika kita membagi manusia berdasar keyakinan, lalu mempersaudarai salah satu golongan saja?

Memang Nabi saw bersaudara dengan muslim dan memusuhi orang kafir, tetapi bagaimana beliau sampai memusuhi mereka? Bukankah setelah bertahun-tahun mengajak dengan lembut, dengan kasih, dengan curahan harta dan dengan mempertaruhkan jiwa? Sehingga jelaslah siapa yang menerima dan siapa yang menentang, lalu berkecamuklah perang yang menuntut setiap golongan menghunus pedang.

Tetapi, pada akhirnya, bukankah kemenangan itu justru diraih tanpa peperangan?

Jadi… apa boleh kita langsung memusuhi seseorang karena kekafirannya, padahal kita sama sekali tidak pernah mengajaknya?

(Bukan hanya tidak mengajak; kita bahkan tidak pernah memberi salam atau sekedar senyum kepadanya)

Bahkan dalam beberapa kesempatan, kita mungkin pernah menemui saudara-saudara kita yang memandang kita dengan pandangan berbeda. Kadang karena status kita sudah berbeda (kaya-miskin, atasan-bawahan, politik A politik B dsb), kadang karena ada prasangka bahwa ia, atau kita, bukan lagi satu golongan. Atau mungkin juga karena apa pun lainnya.

Pertanyaannya, persaudaraan seperti apa yang kita punya?

Semestinya persaudaraan itu mengasyikkan. Seperti oase di gurun sahara, persaudaraan membuat perjuangan (baik itu perjuangan dakwah maupun perjuangan mencari nafkah) menjadi segar dan beban hidup menjadi ringan. Persaudaraan adalah bertemu saudara, yang menatap wajahnya saja membuat kita terinspirasi dan menjabat tangannya membuncahkan cinta… langit hitam menjadi terang dan amuk badai menjadi sejuk.

Semestinya persaudaraan itu tak perlu difikir lebih dahulu. Seperti cinta yang jatuh begitu saja, persaudaraan tidak membuat kita perlu menganalisa database. Datang begitu saja. Menerangi hati, menenteramkan jiwa.

Semestinya persaudaraan tidak membuat kita khawatir. Sabda Nabi saw, makanan seorang cukup untuk berdua, makanan dua orang cukup untuk berempat, dan seterusnya. Kita adalah makhluk ruhiah yang tinggi. Meski diuji dengan jasad yang menuntut pemenuhan materi rendah, hakikat kita adalah ciptaan tertinggi yang malaikat pun diperintahkan untuk sujud menghormati.

Semestinya persaudaraan itu asyik, begitu mengasyikkan sehingga di medan perang pun kita tetap bermesraan. Pernah dengar cerita tiga orang yang syahid karena mendahulukan minuman untuk saudaranya? Dalam sebuah pertempuran, ketika seorang A terluka parah dan pasukan penolong ingin memberinya minum, ia mendengar erangan B. Maka ia meminta penolong datang kepada B. Ketika B hampir meminum air, ia mendengar erangan C. Maka B meminta dengan sangat agar penolong mendatangi C. Ternyata C telah mendahului syahid ketika penolong datang. Penolong bersegera kepada B, ia juga telah syahid. Begitu juga A. Persaudaraan tidak membuat mereka terbebani, justru membuat mereka melihat bahwa kebersamaan, di alam ini dan alam nanti, adalah kebebasan hakiki. (teringat nasyid Suara Persaudaraan berisi syair yang kira-kira “kematian adalah sebuah pembebasan“)

Alhamdulillaah adzan Subuh telah berkumandang. Kunci yang membatasi hamba-hamba dengan rumah Allah telah dibuka dan orang-orang berbondong masuk.

Konon di sebuah negeri antah berantah, seseorang diangkat menjadi pemimpin. Setengah rakyatnya menganggapnya setan, setengah lainnya memuja hampir bagai tuhan. Aku tidak mengerti politik dan tidak tahu hitung-hitung kekuasaan, tetapi aku yakin persaudaraan lebih abadi dari kepentingan.

Salam cinta, salam persaudaraan.

Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuhu.

14 tanggapan untuk “Persaudaraan”

  1. Terlalu lama sendiri jauh dari keluarga jadi rindu sama saudara :)) Antum pulang gak pernah ngabarin padahal ane juga rindu sama antum. Saudara yg belum kenal ingin di sapa, yg sudah lama kenal lupa disapa…hehehe…;)

  2. Terlalu lama sendiri jauh dari keluarga, jadi rindu sama saudara. Antum pulang gak pernah ngasih kabar padahal ane juga rindu sama antum. Saudara yg belum kenal ingin disapa, yg sudah lama kenal malah lupa …hehehe…;)) tulisan yg selalu sederhana, renyah dan penuh hikmah.

  3. Kadang (secara pribadi) persaudaraan itu berat karena ada tuntutan untuk memecahkan masalah yang dihadapi, sedangkan masing-masing belum mempunyai solusinya, padahal waktu semakin mendesak -_-

    1. Seharusnya persaudaraan itu ringan Akh Bagus. Masalah itu variasi… kalau bisa ya kita atasi (bersama) kalau tidak ya kita nikmati (bersama).

      Konon, tawa dan tangis lebih romantis ketika bersama-sama.

          1. Alhamdulillah dapet pelajaran baru pak🙂

            Tapi memang persaudaraan itu berproses ya pak.. seringnya anenya yang tidak sabaran, pinginnya langsung jadi satu hati dalam sekali pertemuan T_T

  4. inspiring pak amin… klo boleh sy ambil penekanannya, kira2 begini kali ya pak,
    jadi setiap orang itu berpotensi untuk berubah menjadi lebih baik, kita hanyalah perantara, Allahlah penggerak dan pembuka hati hambaNya. jadi tetaplah menjadi sahabat atau saudara yang baik bagi sesama……

  5. Ustad, ane bingung dengan pks sekarang. Kok benci banget ama yg namanya jokowi. Setiap ada berita miring tentang jokowi, lgsg di share…share,.share kemane mane. Apakah dakwah dibangun dengan permusuhan seperti itu.
    Jadi sesak napas melihat ikhwah rajin mengshare keburukan orang lain

    #pendapatpribadikadergakpenting

    1. Hanya beberapa oknum yang sukanya ngeshare keburukan orang Akh… da’i, apa pun benderanya, pasti selalu bersikap bijak, lembut dan pemaaf demi menyentuh hati orang lain…. sekalipun orang lain itu saat ini berada di barisan musuhnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s