Peramal Sakti

Aku ogah-ogahan mengikuti Tatitut, teman lamaku yang mengajakku ke Gunung Srandil. “Syirik,” celetukku, “Datang ke sana emang kamu mau minta tambah kaya atau tambah cantik sih?”

Maklumlah gunung yang lebih tepat disebut bukit itu terkenal sebagai tempat begituan. Iya tempat yang mistik-mistik, bukan begituan yang begituan.

“Aku cuman ingin diramal, Di. Kamu ikut saja. Atau kamu di mobil saja deh engga usah ikut turun,” jawab temanku tanpa memperhatikan ekspresi ogahku yang berlipat-lipat.

Aku akhirnya memang tidak turun. Tetapi maksudnya adalah karena akhirnya justru aku ikut naik, memanjat gunung dengan gua kecil di beberapa tempatnya itu. Sampai ke sebuah dangau, dangau yang lebih mirip dengan warung makan dari pada tempat mistik yang seram-seram.

“Selamat pagi Bu Tati, silakan masuk sudah ditunggu Pak Kiyai,” ujar salah satu penjaga dangau itu dengan ramah.

“Eh dia sudah tahu namamu Tut? Kamu sudah pernah kemari?” tanyaku.

Tatitut menggelengkan kepala. “Engga lah Di. Baru kali ini kok aku ke sini. Lihat….” Dia memperlihatkan sebuah aplikasi di gadgetnya. Gila juga. Ternyata jasa klenik dari gunung di tempat terpencil seperti ini juga sudah memanfaatkan aplikasi android.

“Untuk IOS juga ada Mas, tidak hanya android,” seperti bisa membaca pikiranku penjaga itu berkata. Sambil memperlihatkan hape bergambar durian bekas digigit yang menunjukkan aplikasi serupa di gadget Tatitut. Aku makin geleng-geleng kepala.

“Techhnolojiy, Di. Kalau kamu bisa manfaatin tehnologi, apa saja jadi mudah,” ujar Tatitut setengah mengejek.

Singkat kata kami masuk ke salah satu ruangan mirip counter di mal, dimana seorang anak muda berpakaian hitam-hitam ala pendekar lengkap dengan ikat kepalanya menyambut kami dengan ramah.

“Ini dukunnya?” aku bertanya lagi.

Tatitut spontan tertawa sementara remaja di depanku itu tersenyum-senyum. “Bukan cuman ustadz dan aktifis yang muda-muda, Di. Paranormal juga sekarang muda-muda. Ingat, paranormal loh ya. Atau orang pintar. Bukan d-u-k-u-n!”

Aku mencibir. Remaja di depanku mempersilakan kami untuk duduk dan menyalami kami berdua.

“Bu Tati dan Mas Didi, silakan duduk.”

Aku terkejut lagi. “Dari mana Anda tahu nama saya?” ujarku spontan.

“Kami memadukan pengetahuan supranatural dan teknologi, Mas. Kalau Mas Didi tidak percaya, saya bisa kasih tahu NIK, Nomor hape dan laporan pajak terakhir Mas Didi,” ujarnya mantap.

“Pasti tidak ketinggalan memadukan bisnis juga,” sergahku.

Remaja itu tersenyum lagi. “Itu akan Mas Didi ketahui selesai konsultasi ini,” ujarnya.

Aku mendesah sambil menyuruh Tatitut segera menyampaikan masalahnya.

Ternyata Tatitut punya masalah yang cukup berat. Ia mengaku sebagai seorang manusia super yang harus menyelamatkan dunia, sementara dunia sendiri lebih suka untuk tidak selamat. Umat manusia sudah terlalu rusak sehingga melihat kebenaran sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai kebenaran. Selera mereka juga buruk. Lebih suka yang maya daripada yang nyata. Lebih banyak menghabiskan waktu untuk gadget meski kesenangan hidup terpampang di depan mata.

Aku melongo lagi. Orang-orang ini rasa-rasanya berkomplot membodohiku.

Remaja itu mendengarkan dengan khidmat sementara Tatitut nyerocos sedemikian rupa.

Sebuah kata tiba-tiba menari-nari di kepalaku. Kucoba memahami kata itu, tetapi ia terus menari-nari dengan lincah sambil menghindari tatapan mataku.

Kutangkap ia ke kiri, ia lompat ke kanan.

Kukejar ia ke kanan, ia meliuk ke belakang.

Kusergap ia dengan buas, ia terbang bagaikan kapas.

Dengan nafas terengah aku bersiap menyeruduknya. Beberapa orang mulai tertawa melihat tingkahku, tetapi aku tidak peduli. Kata itu adalah kunci jawaban semua keanehan ini, sehingga aku harus mendapatkannya.

Secepat banteng aku mengejar kata itu. Tawa orang-orang terdengar makin keras. Aku mempercepat lari, mencoba menubruk kata itu secepat mungkin agar segera keluar dari teka-teki tidak waras ini.

BRUKKKKK

Tawa orang-orang semakin meledak dan pelan-pelan aku membuka mata sambil kedua tanganku memegang erat kata yang telah kutangkap..

Aku terlempar ke tengah kelas menulis, tempatku belajar menyusun cerita.

Mentorku mendekat sambil bertanya, “Mengantuk ya Mas Didi?”

Aku mengangguk meski belum sepenuhnya sadar.

“Kira-kira tahu engga apa kata yang tepat untuk tokoh dalam cerita barusan?” Mentorku bertanya sambil menunjuk sisa presentasi di depan.

Aku menunduk ke arah telapak tanganku. Dengan agak ragu aku berkata sementara seisi kelas hening. “B-i-p-o-l-a-r…” ejaku ragu.

“Benar sekali,” ujar mentorku diiring tepuk tangan seisi kelas. Mereka kemudian tertawa, tetapi bukan menertawakanku. Mentorku juga tersenyum sambil menepuk pundakku. “Jadilah seperti Mas Didi. Meskipun tidur, tetap bisa menjawab pertanyaan sesuai konteks pembahasan….”

Aku ikut tersenyum sambil melihat sisa cerita di layar presentasi.

Kami sedang membahas sebuah cerita, dengan tokoh yang mengidap suatu penyakit dimana seisi kelas tidak ingat apa nama penyakit tersebut. Hanya aku yang bisa menyebutkannya dengan tepat.

Bipolar

 

23 tanggapan untuk “Peramal Sakti”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s