Menulis

Menulis adalah kewajiban, ujar salah seorang temanku.

Aku tentu saja menyangkal. Meskipun bagus, menulis tidak dapat dihukumi wajib. Lah Nabi saw dan kebanyakan sahabat ra buta huruf, berarti mereka semua berdosa dong karena tidak bisa menulis?

“Bukan menulis dalam arti sempit begitu, Di,” ujar temanku. “Tetapi menulis dalam arti luas. Coba lihat firman Allaah yang pertama diwahyukan: Iqra’ (bacalah). Ketika itu Nabi Muhammad saw menjawab seperti pola pikirmu: maa ana biqaari’ (aku tidak bisa membaca). Tetapi kemudian wahyu tetap diturunkan, sementara Nabi Muhammad saw juga tidak kunjung belajar membaca secara huruf ke huruf.”

“Lalu bagaimana kita akan membaca kalau kita masih buta huruf?”

“Itu menjadi kewajibanmu untuk mencari jawabannya,” temanku malah tertawa. “Yang jelas setelah wahyu pertama yang memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk membiasakan diri membaca, turun wahyu berikutnya yang diberi nama Surat Al Qalam (pena), dengan ayat pertama Nuun wal qalami wamaa yasthuruun (Nun, demi pena dan apa-apa yang dituliskan)”

“Maksudmu itu perintah untuk menulis?”

“Tentu saja begitu, meskipun secara tersirat. Bahkan sebelum surat Al Qalam ini, Allaah juga berfirman dalam lima ayat yang pertama sebagai lanjutan perintah Iqra’ (membaca)… allaadzii ‘allama bil qalam (Allah yang mengajarkan dengan perantaraan pena). Ini menunjukkan pentingnya umat Islam membiasakan budaya budaya menulis sebagai kelanjutan budaya membaca.”

Aku jadi merasa malu. Bukan hanya budaya menulis yang kurang, budaya membacaku juga sangat buruk.

“Tidak terlambat kok untuk kembali rajin menulis,” temanku seperti bisa membaca pikiranku.

“Tetapi repot lah. Aku sudah punya isteri dan anak yang harus dinafkahi. Mana sempat aku menulis-nulis lagi.”

“Justru itu peluangnya, Di. Coba ingat-ingat, sebelum ini kamu masih bujangan dan dinafkahi orang tuamu. Apa kamu sempat membuat tulisan? Kemudian ketika kamu sudah menikah tetapi belum punya anak, kesibukanmu belum seberapa merepotkan, apa kamu juga sempat membuat tulisan?”

Aku menggelengkan kepala.

“Nah. Berarti masalahnya bukan pada sibuk atau senggang, repot atau santai. Tetapi pada kemauan, Di. Kemauan. Niat. Kalau kamu sadar bahwa seorang muslim wajib membaca, kemudian harus menuliskan apa yang difahaminya setelah membaca, tinggal niatmu yang berbicara. Kalau kamu berniat, insyaa Allaah akan dibukakan kesempatan bagimu untuk menulis.”

Aku mengangguk-anggukkan kepala. Teorinya memang begitu, kalau ada kemauan pasti ada jalan. Kalau ada niat pasti datanglah alat. Kalau sabar pasti sisa waktu akan melebar.

Tetapi….

“Resistensi, Di,” temanku tertawa lagi sambil menepuk-nepuk pundakku. “Memang manusia itu susah sekali berubah. Mungkin kamu juga terlalu lama di zona nyaman sehingga sulit untuk berubah dan menerobos sekat-sekat zona nyamanmu itu.”

“Sebenarnya aku tidak hidup nyaman juga selama ini.”

“Nah. Itu lebih buruk lagi. Sementara orang lain resistan di zona nyaman, kamu justru resistan di zona tidak nyaman. Kalau orang lain wajar menjadi resistan karena zonanya memang sudah nyaman, kamu aneh sekali… sudah tidak nyaman tetapi tetap saja bertahan.”

Aku terdiam lagi.

“Sudahlah… yang penting kamu niatkan banyak membaca, kemudian biasakan menulis. Semampumu saja, karena Allaah juga tidak pernah memaksakan sesuatu kepada umat-Nya.”

Aku masih terdiam. Tetapi dalam diamku aku mulai melihat-lihat salah satu blogku yang lamaaaaaaaa tak kulihat-lihat.

Dan aku mulai menulis lagi.

Yeah, mumpung usiaku masih muda dan kesibukanku belum seberat para mujahid. Bismillaah aku akan menulis-nulis lagi, insyaa Allaah.

 

16 tanggapan untuk “Menulis”

          1. Biasanya malah yang seperti itu, begitu keluar tulisan baru langsung bisa bilang waw gitu karena ori tanpa kw😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s