Hidup Sederhana

Ketika usia sudah matang, ketika pengalaman menjelajah sudah kemana-mana dan ketika pergaulan sudah mempertemukanku dengan beraneka suku bangsa, aku memperoleh kesimpulan bahwa sebenarnya hidup hanyalah proses yang sederhana.

Pertama, hidup itu ada Penciptanya sehingga asal-usulnya tidak perlu dicemaskan. Sang Pencipta ini juga Pengatur yang Maha Mengetahui, Mahakuasa dan Maha Agung, sehingga tidak perlu ragu atau sangsi akan terjadinya chaos, ketidakpastian serta perdebatan yang sengit.

Kalau ada pembaca yang atheis, tidak mengapa kok kalau saya dianggap sebagai kecanduan agama. Bisa kita bicarakan nanti-nanti.

Kedua, hidup itu punya tujuan akhir yang jelas. Sehingga kita tidak perlu bingung dan pusing memikirkannya. Kalau kita resah, cobalah lihat apa yang sedang kita kejar, kita ingin dan kita tuju. Keresahan tidak pernah berasal dari tujuan yang telah digariskan Allaah swt. Keresahan hanya muncul ketika kita sibuk mengejar tujuan-tujuan lain, target-target lain dan sasaran-sasaran lain.

Ketiga, ada jalan hidup yang jelas. Kita tidak perlu membuat jalan baru, merekayasa atau memperbaikinya. Jalan ini sudah bagus dan tidak perlu direhab, sudah lurus tidak perlu simpangan dan sudah terang tidak ada keraguannya.

Keempat ada panduan dan teladan yang jelas. Sudah jalannya lurus, ada panduannya pula yang seperti rambu-rambu. Sudah dipandu, ada teladannya pula yang memimpin di depan. Masa sih masih tersesat?

Kelima, ada pertolongan yang ditebar sepanjang jalan sampai kita mencapai tujuan, selama kita berniat menempuh jalan-Nya dan mencapai keridhaan-Nya. Tenaga, nyawa, pengetahuan dan berbagai sarana-prasarana disediakan sepanjang jalan sehingga kita tidak perlu berbekal selain takwa sahaja. Mudah sekali bukan?

Keenam, ada tantangan yang harus diatasi sepanjang jalan. Ini tidak lebih dari seumpama kita bermain game kesukaan. Selalu ada musuh, tantangan, hambatan, ujian dan beraneka kesulitan yang ketika sudah kita lalui, mengertilah kita bahwa semua itu sekedar pelajaran saja agar kita makin memahami hakikat hidup dan hakikat cinta/ridha-Nya.

Ketujuh, kita tidak akan sampai tujuan dengan berdiam diri. Kita harus berjalan, berlari, atau kalau sangatlah payah minimal merangkak atau memandang ke muka tanpa berpaling ke mana-mana. Perlu upaya keras karena jalannya mendaki semakin curam, perlu strategi karena tipu daya sangat hebat dan perlu terus belajar karena ujiannya selalu meningkat.

Kedelapan, semua masalah tadi sederhana saja asal kita yakin. Niat yang ikhlas, berjalan dengan benar, selalu berdoa dan menjaga kemantapan langkah. Insyaa Allaah yang lahir menangis akan wafat tersenyum, yang dimusuhi sesama akan ditemani Pencipta, yang dihina disiksa akan bertemu kejayaan surga. Seumpama bersusah payah di bangku sekolah yang akhirnya mencetak manusia sukses, apalah artinya bersusah payah di jalan Allaah jika akhirnya bertemu kebahagiaan abadi. Hidup dunia tak lebih dari beberapa puluh atau ratus tahun, hidup akhirat selama-lamanya.

Demikianlah hakikat hidup yang sederhana, begitu sederhana sehingga manusia paling berfikiran sederhana pun akan memahaminya.

Iya ada yang kesembilan… meski sederhana, prosesnya bisa berat dan menyakitkan, berdarah-darah bahkan mengantar kematian. Perlu perjuangan untuk kehidupan sederhana tadi, agar tidak tercemar kerumitan dan keruwetan pikiran. Sekali lagi harus kreatif, tak henti belajar, bekerja keras dan selalu menjaga keikhlasan. Tetapi bahkan para pejuang pun selalu tersenyum, berakhlak mulia, tenang dan tak suka berputus asa… karena yang berat-berat itu sebenarnya sederhana saja.

2 tanggapan untuk “Hidup Sederhana”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s