Ketika Rasulullaah saw Dipecat

Judul di atas agak bombastis karena Rasulullaah saw tidak pernah dipecat.

Tetapi kasus beliau hampir mirip dengan pemecatan, yaitu kehilangan kepercayaan seluruh sahabatnya.

Konon ketika perjanjian Hudaibiyah dibuat, dengan poin-poin yang secara kasat mata sangat menguntungkan lawan alias orang-orang kafir, para sahabat radhiyallaahu ‘anhum mulai kehilangan kepercayaan kepada beliau.

Bukan hanya para sahabat kemaren sore, Umar dan Abu Bakar pun meragukan beliau.

Tentu saja beliau sangat sedih. Gundah. Mungkin juga marah.

Andai beliau mengikuti amarah, tentu para sahabat yang ragu itu dipecatnya semua.

Andai beliau mengikuti amarah, tentu tampaklah keburukan watak yang tidak rela dihina

Andai beliau mengikuti amarah, tentu sejarah Islam tidak akan sedemikian cantiknya….

Tetapi beliau tidak marah. Sedih pasti, tetapi tidak menunjukkan amarah apalagi murka.

Dengan muram beliau masuk ke dalam tenda, kemudian mengobrol dengan isterinya. Di situlah terjadi pencerahan, ketika isterinya memberi saran luar biasa. Solusi jamaah, solusi umat, solusi mengembalikan kepercayaan dan kredibilitas.

Maka beliau pun melaksanakan saran-saran tersebut. Beliau keluar tenda, menyembelih kambingnya, mencukur rambut, sama sekali tanpa berkata-kata.

Karena apalah arti kata, jika orang sudah tidak percaya?

Apalah arti penjelasan, jika syarat rukun sudah jelas adanya?

Buat apa membela diri, jika Allaah yang sedang menguji?

Beliau melakukan ibadahnya dengan diam, tanpa kata, tanpa suara kecuali doa sesuai tata caranya.

Tetapi diam justru lebih ampuh dari orasi, ketika seseorang mengetahui kapan saat yang tepat untuk berdiam diri.

Tiba-tiba seluruh sahabat tercerahkan. Bangkit dan bertakbir. Berduyun-duyun mengikuti teladan sejati.

Tiba-tiba semua sadar, dakwah adalah tentang mengagunhkan Asma Allaah, mentaati Rasulullaah, dan mengejar ridha tanpa pertimbangan materi.

Siapa suruh terpaku pada poin-poin perjanjian?

Siapa suruh mendewa-dewakan logika?

Siapa yang telah membuat jamaah lupa pada berkah, kata paling ampuh pencipta adil dan sejahtera?

Maka lembah Hudaibiyah pun bergema oleh takbir, oleh para sahabat yang bertaubat dan kembali kepada taat, oleh persatuan yang hampir saja terkoyak.

Terima kasih Baginda Rasulullaah… telah kau ajari kami dengan keteladanan

Terima kasih Baginda Rasulullaah… telah kau alirkan kepada kami inspirasi

Teladan untuk menghadapi musuh eksternal maupun internal

Teladan untuk gagah melawan ego dan amarah

Duhai Allaah, Rabb yang telah mengikat hati kami semua. Ikatkanlah hati-hati kami dalam ketaatan kepadaMu, dan lembutkanlah hati-hati kami kepada hamba-hambaMu. Bimbinglah hati-hati ini agar menerima puja-puji sekaligus caci-maki dengan ikhlas dan hanya mengharap ridha-Mu.

Pujian memang melambungkan, cacian memang menjatuhkan… Tetapi keduanya tidak berlaku bagi hati yang ikhlas tawakkal. Yang berniat untuk tetap dalam jamaah, meski status dipecat dari barisan.

Dan wahai para kader dalam barisan…. teruslah bersikap gagah di panggung pertunjukan. Musuh kalian buas dan ganas. Menjadi cemen sama sekali bukan pilihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s