Bohong Jika Sharing Tanpa Menyaring

Asal sharing di dunia maya adalah kebodohan.

Hehe, yang saya maksud bukan “asal-muasal sharing” melainkan “sharing secara asal”

Meski niat men-share-nya baik, tetap harus dilihat isinya, menyangkut apa dan siapa atau tidak, menuduh atau tidak, berisi kebencian atau tidak.

Semua harus jelas dulu.

Sabda Rasulullaah saw

كَفَى بِالْمَرْء كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta bila menceritakan segala hal yang ia dengar.” [HR. Muslim dari Hafsh bin ‘Ashim radhiyaLlaahu’anhu]

Ada tanya jawab yang saya kutip dari nasihatonline.wordpress.com (https://nasihatonline.wordpress.com/2013/02/18/larangan-menyampaikan-semua-berita-yang-didengarkan/ )

Pertanyaan: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْء كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta bila menceritakan segala hal yang ia dengar.” [HR. Muslim dari Hafsh bin ‘Ashim radhiyaLlaahu’anhu]

Mohon syarah (penjelasan) hadits di atas.
Jawaban:

Al-Imam Muslim rahimahullah menyebutkan hadits di atas dalam Shahih beliau pada bab,

باب النَّهْىِ عَنِ الْحَدِيثِ بِكُلِّ مَا سَمِع

“Bab Larangan Membicarakan Semua yang Didengarkan.”

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

وَأَمَّا مَعْنَى الْحَدِيث وَالْآثَار الَّتِي فِي الْبَاب فَفِيهَا الزَّجْر عَنْ التَّحْدِيث بِكُلِّ مَا سَمِعَ الْإِنْسَان فَإِنَّهُ يَسْمَع فِي الْعَادَة الصِّدْق وَالْكَذِب ، فَإِذَا حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ فَقَدْ كَذَبَ لِإِخْبَارِهِ بِمَا لَمْ يَكُنْ

“Adapun makna hadits ini dan makna atsar-atsar yang semisalnya adalah, peringatan dari menyampaikan setiap berita yang didengarkan oleh seseorang, karena biasanya ia mendengar kabar yang benar dan yang dusta, maka jika ia menyampaikan setiap yang ia dengar, berarti ia telah berdusta karena menyampaikan sesuatu yang tidak terjadi.” [Syarh Shahih Muslim, 1/75]

Al-Imam Al-Munawi rahimahullah berkata,

أي إذا لم يتثبت لأنه يسمع عادة الصدق والكذب ، فإذا حدث بكل ما سمع لا محالة يكذب

“Maksudnya adalah, jika ia tidak memastikan kebenaran suatu berita yang ia dengar (maka ia dianggap pendusta), sebab biasanya berita yang ia dengar terkadang benar dan terkadang dusta, maka jika ia menyampaikan semua yang ia dengar, ia tidak akan lolos dari kedustaan.” [Faidhul Qodir, 5/3]

Demikianlah ketentuan syari’at, bahwa orang yang tidak berusaha memastikan kebenaran berita yang ia dengar sebelum menyampaikannya, dihukumi sebagai pendusta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s