Antrian

Mubazir sekali, ujar Dian. Waktumu habis hanya untuk berdiri di depan teller yang senyumnya palsu.

Tetapi aku punya pendapat berbeda
sehingga aku memilih untuk mengantri, tidak asal transfer dari rekening satu bank ke bank lainnya.

Hanya selisih 6.500 perak, ujar Anto. Lebih dari lima belas menit kamu harus berdiri di lorong berkelok-kelok itu.

Aku berada di urutan ke-12. Benar juga kata Anto, bisa lebih dari lima belas menit aku antri kalau pelayanan terhadap satu nasabah saja sampai 2 menit.

Apa enaknya sih mengantri?

Apa ya? Kalau engga enaknya jelas banyak. Sebagai bank pemerintah yang tampaknya tidak terlalu membutuhkan nasabah, pelayanannya jauh dari baik dan fasilitas antriannya mengenaskan.

Tetapi aku suka mengantri. Mungkin karena aku bisa mengamati nasabah lain. Mungkin juga karena bisa membuat blog sambil berdiri begini.

Hah, dasar pelit. Menghemat 6.500 rupiah saja pakai banyak alasan.

Aku agak tersipu. Teringat Wak Adul yang sangat hemat tetapi sudah punya panti asuhan. Atau Mak Inah yang cuman penjual lopis tapi tahun depan naik haji. Lah aku?

Sekarang aku di urutan ke-6. Berarti kalau mau, aku bisa bikin dua postingan sambil mengantri begini.

2 tanggapan untuk “Antrian”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s