Baik-Baik Saja

Baik-baik saja menjadi paradoks jika kondisi setelahnya memburuk dan makin memburuk. Baik-baik saja, dalam hal ini, seperti titik kulminasi atas, titik nadir, dimana setelahnya terjadi proses antiklimaks.

Seperti kata ustadz, jika orang sudah puas dan mengagumi diri-sendiri, tidak mau belajar dan mengasah kemampuan lagi, maka saksikanlah saat-saat kejatuhannya.

Tetapi baik-baik saja juga kondisi yang bagus, sangat bagus malah, kalau kondisi kita sebelumnya adalah sakit, tertekan, makan hati dan sebagainya. Baik-baik saja menjadi sebuah pencapaian agung yang layak dirayakan.

Seperti kata ustadz, syukurilah nikmat sehat, nikmat iman, nikmat waktu luang dan nikmat lainnya bahkan nikmat masih bisa menghirup dan menghembus nafas. Kondisi yang ‘biasa saja’, tetapi pandanglah sebagai sebuah kenikmatan besar.

Alhamdulillaah hari ini kondisi saya baik-baik saja. Sehat, optimis, well-managed dan punya sarapan. Alhamdulillaah tsummalhamdulillaah….

Aku bersyukur kepada Allaah, sangat bersyukur, sambil berharap nikmat ini ditambah dengan berlipat ganda.

Aku menulis ini di blog agar terhindar dari berpuas diri, menjadi stagnan lalu meluncur jatuh secara drastis; na’uudzubillaahi min dzaalika.

Satu tanggapan untuk “Baik-Baik Saja”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s