Popularitas

Popularitas seperti kerupuk bagi orang yang suka kerupuk. Gurihnya sangat menggoda sehingga meskipun nilai gizinya sangat rendah dan kandungan kolesterolnya bisa mencapai kadar berbahaya kalau minyak gorengnya bekas pakai, tetap banyak yang menggemarinya.

Tentu saja ada orang-orang yang tidak suka kerupuk popularitas. Ada yang memang kurang selera, ada yang karena pertimbangan kesehatan, ada pula yang memandangnya sebagai makanan rendahan. Kalau yang memang kurang selera, ibaratnya sudah wataknya begitu sehingga mereka justru heran mengapa popularitas yang cuman ‘angin kosong’ begitu kok dikejar-kejar sedemikian rupa. Bukan rahasia lagi, biaya popularitas bisa sangat besar sehingga selain finansial juga perlu pengorbanan psikologis bahkan tidak jarang pengorbanan sosial (mengorbankan persahabatan, keluarga dan sebagainya).

Orang-orang yang mempertimbangkan kesehatan hati akan melihat bahwa popularitas merupakan penyakit/najis batin yang berbahaya. Kadar terendahnya adalah ‘ujub (mengagumi diri sendiri), kadar berikutnya riya dan kadar tertingginya bisa mencapai sombong/takabur.

Tentang takabur, asal tahu saja, satu-satunya dosa Iblis adalah dosa ini. Konon iblis tidak pernah menyekutukan Allaah (sebagaimana kaum musyrikin) dan tidak pernah meniadakan Allaah (sebagaimana golongan atheis), tidak pula meragukan Allaah seperti kaum agnostik. Dosa iblis hanya satu, yaitu takabur. Ketika Allaah memerintahkannya untuk sujud menghormati Adam, iblis berkata, “Aku lebih baik darinya. Kauciptakan aku dari api sedangkan Kaucipta dia dari tanah.” Mungkin hanya sekali itu iblis membangkang sebagai akibat kesombongannya, tetapi karena dosa itulah akhirnya iblis divonis kekal di dalam neraka.

Oleh karena itu alangkah sayangnya jika hanya karena kerupuk popularitas, kita sampai keracunan takabur. Definisi takabur sendiri dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw dalam salah satu haditsnya: “menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain“. Hanya karena doyan kerupuk… tetapi akibatnya melakukan apa yang telah dicontohkan iblis. Menolak kebenaran, karena dianggap kebenaran itu bisa menggores popularitasnya. Atau meremehkan manusia, karena dilihatnya manusia lain tidak selaris kerupuk popularitasnya. na’udzubillaahi min dzaalika.

Yang lebih baik lagi mungkin yang sudah menganggap kerupuk popularitas sebagai makanan yang sudah tidak level baginya. Bukan karena sombong, melainkan karena kesadaran bahwa semua yang dinikmatinya di dunia bakal dihisab darimana diperoleh dan untuk apa dipergunakan. Jadi daripada memperpanjang pertanyaan hisab, diputuskannya untuk hanya menyantap sekedarnya saja, asal tubuh bisa tegak dan asal ibadah tidak terganggu. Orang-orang ini memiliki hati sufi, beribadah ala ahli fiqh, sekaligus tak mempan racun popularitas karena sudah tidak mau mencicipinya sedikit pun.

Mungkin kita belum sampai ke level ketiga yang tinggi ini. Tetapi alangkah baiknya kita mempertimbangkan nasihat para ahli kesehatan ruhani… jauhi kerupuk popularitas. Meski sangat gurih dan menggoda, tetapi itu tidak sehat Kawan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s