Pak Joko

“Pakne… Pak Joko sakit sudah tahu apa belum?” isteri Pak Ari bertanya sebagai pembukaan gosip. Sebenanrnya bukan gosip-gosip amat sih, karena isi beritanya valid. Tetapi tak urung pembicaraan seputar mengapa, bagaimana, apa dan siapa seputar penyakit Pak Joko melebar kesana kemari tak ubahnya gosip selebrita. “Padahal sudah umur 92 Pak. Baru kali ini dikabarkan sakit…”

Usai shalat Ashar Pak Ari dan jamaah Masjid Al Mukhlisin lainnya menjenguk Pak Joko. Kakek usia 92 yang biasanya segar dan lincah itu tampak tidak pantas terbaring di dipannya yang tanpa tilam. Mungkin karena tidak biasa tidur siang sehingga posisi tidurnya terlihat kikuk. Ketika Pak Ari dan teman-teman datang, beliau berusaha bangun kalau tidak dicegah anak lelakinya yang tinggal serumah.

“Huuuh… sudah pegal tidur seharian begini. Malah tambah pegal kalau engga ndorong gerobak…” semua yang datang tersenyum-senyum mendengar gerutuan Pak Joko yang sama sekali tidak mirip orang sakit, apalagi untuk ukuran kakek berumur hampir seabad.

“Sabar Pak… mungkin sedang dihapus dosa dan diangkat derajat…” orang-orang berusaha menghibur. Mereka juga menyarankan agar Pak Joko memaksakan diri berbaring sampai sembuh, jangan mengikuti kata hatinya yang selalu ingin bekerja keras (!).

Ketika orang-orang memberi amplop sebelum berpamitan, mata Pak Joko berkaca-kaca. Ia hampir menolak kalau tidak dipaksa menerimanya.

“Sakit ini mengingatkanku akan kematian,” ujarnya sedih. “Tetapi bukan kematian yang kutakuti. Melainkan kehidupan setelahnya. Di kehidupan ini aku sudah tahu banyak, susah senangnya pernah kurasakan semua. Sementara di alam nanti aku tidak tahu apa yang akan kuhadapi… rasanya gentar kalau harus berangkat dalam waktu dekat….”

Kami berusaha menghibur bahwa beliau sudah banyak beramal shalih dan rajin beribadah sehingga Allaah pasti meridhainya. Beliau menunduk sedih tanpa berucap kata.

Esok harinya usai Subuh ada pengumuman dengan awalan innaalillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Salah seorang warga RW meninggal dan warga diminta membantu penyelenggaraan jenazahnya. Tetapi yang meninggal bukan Pak Joko yang sudah berumur 92 tahun, yang tiap hari bekerja keras mendorong gerobak dan kemarin sore dikabarkan sakit. Yang meninggal justru seorang anak muda yang sakit tanpa berobat setelah ditinggal pacarnya.

Pak Joko yang berumur 92 tahun sudah sembuh. Ia bahkan ikut menyelenggarakan pemakaman dengan tangkasnya, seolah kekuatannya tidak melemah digerogoti usia.

Hmmm….

(yang nulis lagi mumet)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s