Tidak Pernah Tuntas

Karena aku menulis blog, jadinya banyak tulisan yang tidak tuntas. Kadang ingin menuliskan dengan tuntas, tetapi kesibukan tidak mengizinkan. Akhirnya menulis sekenanya, yang penting kilasan ide tidak hilang.

Tentang Syukur…

Kita bersyukur ketika kita naik kelas, tetapi kelas berikut mempunyai cara syukur yang lebih tinggi sehingga kita harus belajar bersyukur cara baru.

Misalnya A sebelumnya sering menyapa tetangga. Ketika rezekinya bertambah, ia tidak bisa mencukupkan diri dengan menyapa. Ia juga mulai harus memberi, meminjamkan dsb. Kalau ia hanya menyapa, berarti syukurnya macet di level satu tidak naik seiring kenaikan nikmat yang diterimanya.

Karena itulah kita tidak bisa membanggakan masa lalu. Seperti lulusan SD yang tidak bisa mengatakan bahwa dirinya juara kelas… masa tidak diterima di SMP favorit. Tiap level punya ujian sendiri, lulus dari ujian A belum tentu lulus di ujian B.

Itu kalau tentang level. Ada lagi bukan level melainkan jenis. Misalnya orang yang lulus ujian harta belum tentu lulus ujian wanita, padahal sama-sama level satu. Atau lulus ujian wanita belum tentu lulus ujian tahta.

Jadi kita tidak bisa membanggakan kelulusan level yang lalu. Karena ujian level sebelumnya bisa jadi baru satu jenis, sedangkan jenis yang lain diujikan di masa yang akan datang. Meski sudah sampai level 3 untuk ujian wanita, bisa saja gugur ketika diuji dengan ujian harta level satu.

Tentang Sabar

Selain syukur kita mengenal juga sabar. Kadang orang membagi keduanya dengan garis yang jelas: sabar untuk ujian kesusahan dan syukur untuk ujian nikmat. Tetapi kemudian aku melihat keduanya saling berjalin dengan rapatnya. Hampir tidak mungkin seseorang bersyukur tanpa kesabaran, dan tidak mungkin bersabar jika ia tidak memiliki jiwa yang bersyukur. Karena semakin bertambah usia, semakin kompleks saja ujian yang dihadapinya.

Misalnya begini.

Dulu ujian dan harapan kita sangat gamblang, sejelas hitam dan putih. Misalnya ingin lulus dengan nilai A. Atau ingin uang jajan sebesar B. Atau pengen diterima bekerja di perusahaan C.

Kemudian ternyata A tidak memberi kepastian sukses, B tidak cukup untuk membeli keperluan dan C bukanlah tempat bekerja yang ideal. Ditambah lagi ada D yang dulu sirik ketika hanya mendapat nilai kurang dari A, tetapi sama-sama bekerja di C dan ia pandai mendekati boss sehingga persaingan terasa tidak fair. Syukur dalam kondisi ini hanya bisa bertahan jika dilandasi kesabaran, dan kesabaran hanya kokoh jika hati selalu bersyukur.

Tentang Kekecewaan

Satu lagi yang ingin kucatat adalah kekecewaan. Kadang kita sanggup memikul beban derita dan kepayahan, lapar dan kesakitan, tetapi menjadi rapuh ketika yang datang adalah kekecewaan. Tidak semua orang sanggup mempertahankan sabar dan syukur ketika ia kecewa, terlebih jika kecewa pada diri sendiri. Akan sangat terpukul dan tertekan ketika orang kecewa pada dirinya sendiri. Jauh lebih menekan daripada kecewa kepada orang lain.

Lalu ketika seseorang sudah sekian lama berjalan di jalan yang sama, bahu-membahu dengan kawan yang sama, menjadi mahir dalam satu bidang itu saja, tiba-tiba ia merasa bahwa yang didakinya adalah bukit yang salah. Setelah sampai puncak dengan bersusah-payah, dengan kecewa dilihatnya bahwa tujuannya adalah puncak gunung lain yang lebih tinggi, lebih gagah, dan itu terletak jauh di seberang laut yang pernah direnanginya demi puncak yang sekarang. Apa yang harus dilakukan? Usia sudah lanjut. Tenaga sudah melemah. Keberanian sudah menyusut. Dan anak isteri sudah membebani dengan beban hidup yang berat. Apakah ia harus menerima berdiri di puncak yang bukan targetnya? Atau ia harus turun, menyeberang laut, mendaki kembali bukit yang benar dan memulai semuanya sedari awal?

2 tanggapan untuk “Tidak Pernah Tuntas”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s