Belajar dari Pengalaman

Bulan Ramadhan adalah bulan Al Quran. Alhamdulillaah meski tinggal di negeri yang Islamnya mulai diasingkan, tiap bulan Ramadhan masih terdengar suara bacaan Al Quran dari masjid dan mushalla di sekitar. Masih ada suara kentongan sahur juga, bukan hanya barongsai dan petasan gong xi fat chai.

Bulan Ramadhan adalah bulan Al Quran, yang secara bahasa berarti ‘bacaan’. Beberapa teman memperdebatkan apakah membaca lebih baik daripada mengalami. Katanya, pengalaman adalah guru yang paling baik. Orang yang berpengalaman jauh lebih hebat daripada sekedar kutu buku ataupun penghafal kitab yang tidak meresapi kehidupan sebagai kehidupan itu sendiri.

Bulan Ramadhan tentu bukan bulan perdebatan dan bukan bulan adu hebat pembicaraan. Karena itu dengan rendah hati kuajak membaca pengalaman sekaligus mengalami proses membaca. Ada yang indah ketika keduanya disatukan.

Nabi Muhammad saw diutus menjadi Rasul pada usia 40. Usia yang sangat matang dan sudah banyak asam garam pengalaman. Allaah tidak terburu-buru, sama sekali tidak tergesa. Disiapkannya pengalaman sampai 40, dipanggilnya baginda melalui suara hati tuk menyepi… lalu diturunkanlah Al Quran.

Bluk…. sebuah kitab terpampang di hadapan Nabi. Kitab seribu satu rahasia sukses, seribu satu rahasia keperkasaan dan seribu satu cara menjadi penguasa

Bukan sebuah kitab tebal, bukan pula selembar peta harta terpendam kertas. Hanya seorang malaikat menyuruhnya membaca dan memeluknya ketika beliau menjawab ‘aku tidak bisa membaca’

“Bacalah,” ujar malaikat.

“Aku tidak bisa membaca,” jawab Nabi Muhammad saw. Maka Jibril as pun memeluknya sampai beliau terengah-engah.

“Bacalah,” ujarnya lagi. Nabi kembali mengulang jawaban serupa dan Jibril kembali memeluknya. Berulang demikian sampai tiga kali, setelah itu barulah Jibril membacakan wahyu pertama dari Allaah.

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah mencipta
Yang mencipta manusia dari segumpal darah… (QS Al Alaq 1-5)

Hanya lima ayat. Lima ayat yang pendek. Itulah perintah pertama, sekaligus ayat-ayat yang mengawali pengangkatan beliau sebagai Rasulullaah.

Setelah itu diturunkanlah Al Quran secara berangsur-angsur, kadang sepenggal kadang beberapa ayat.

Jadi jika ada yang tenggelam dalam Al Quran tanpa mengalami permasalahan layaknya manusia dalam kehidupan, katakan padanya… bukankah Rasulullaah saw dan para sahabat, dahulu mempergunakan Al Quran untuk menjawab problematika kehidupan?

Tetapi sebaliknya jika ada yang malas membaca Al Quran, berpegang teguh pada hawa nafsu, mengatasnamakan logika dan menyombongkan pengalaman, katakan padanya… apa tuntunan hidupmu Kawan? Lihatlah wajahmu yang gelap, hatimu yang keras dan tawamu yang mirip sekali tawa Abu Jahal…. atas dasar apa kamu menganggap dirimu seorang muslim, bahkan menganggap dirimu muslim pemikir yang lebih baik dari orang-orang yang bangun tiap malam dan membaca Al Quran hampir setiap saat?

Bahkan Rasulullaah saw pun membaca Al Quran berseringan, meski beliau sudah terbimbing. Meski beliau sibuk memimpin negara, meski beliau di depan memimpin perang, meski beliau tak henti jadwal mengajar muslim dan mengajak orang kafir…. beliau tak pernah lepas dari membaca Al Quran.

Mujahid mana dalam sejarah Islam… yang terlalu sibuk sehingga tidak sempat membaca Al Quran?

Da’i mana dalam sejarah Islam… yang terhanyut masalah umat sehingga tidak sempat membaca Al Quran?

Birokrat, pemikir, ilmuwan dan cendekiawan mana dalam sejarah Islam… yang demi profesinya mengorbankan waktu untuk tenggelam dalam lantunan Al Quran?

Membaca dan mengalami, Al Quran dan pengalaman hidup, adalah satu irama yang membentuk karakter. Siapa bilang satunya lebih baik dari yang lain?

Bulan Ramadhan, bulan Al Quran. Tanpa terasa sudah mendekati 10 hari terakhir, puncak-puncak ibadah yang memanggil Rasulullaah saw berdiam di masjid sepenuh hari siang dan malam.

Tertarikkah hatimu pada sunnah Rasulullaah saw wahai kawan?

Mari membaca, mari mengamalkan. Dan dalam sepuluh hari akhir Ramadhan, mari i’tikaaf kita hidupkan.

3 tanggapan untuk “Belajar dari Pengalaman”

  1. “negeri yang Islamnya mulai diasingkan”

    O sudah mulai diasingkan ya pak..
    mmm…entah harus bersyukur atau istighfar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s