Gelisah

Gelisah adalah anugerah
Kita tidak mencarinya, ia datang sendiri
Karena itu yang pertama harus dilakukan ketika gelisah mengetuk adalah… syukurilah

Gelisah datang ke hati
Artinya kita punya hati
Sehingga gelisah masih bisa hinggap

Gelisah adalah harta
Atau…
Harta adalah gelisah?

Kalau gelisah mengganggu, lepaskanlah
Seperti harta, kita bisa shadaqah
Seperti barang bekas, kita bisa melego
Atau seperti sampah… kita bisa membuang

Jam segini terbangun tidak perlu gelisah, seharusnya
Kan ini sapaan mesra
Dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang

Menjaga Mood

Hari Senin, bagi para pekerja, adalah hari bad mood. Tapi anakku sedang membaca 7 Habits (buku tua tapi masih berpengaruh) jadi aku ingat…

Be proactive (habit 1) itu berarti tidak mood-moodan, tidak tergantung suasana hati dan tidak tergantung penerimaan sekitar.

Hidup adalah pilihan. Dan sekali memilih, kita juga harus menciptakan mood, menciptakan suasana hati dan cara pandang kita terhadap penerimaan orang lain.

Artinya…

1. Setiap saat adalah saat mood
2. Setiap saat suasana hati selalu kondusif
3. Apa pun yang dipandangkan orang kepada kita, kinerja kita tidak menurun.

Itulah namanya proaktif, Nak…

(Kalau mau yang lebih hebat baca buku yang lebih tua dan lebih berpengaruh… 30Juz)

Diam

Pada masa kemudahan bicara, menulis, meng-aplod dan mem-viral apa pun, diam tetap pilihan paling mulia. Sekaligus paling berat, sebagaimana pada masa dahulu-dahulu begitu juga.

Orang-orang bijak terus beramal dalam diamnya, meski lingkungan hingar-bingar oleh berbagai suara.

Seperti pengembara yang menuju sebuah kota. Melewati pasar atau hutan sama saja, fokusnya adalah berjalan menuju tujuannya.

Belajar dari Pengalaman

Bulan Ramadhan adalah bulan Al Quran. Alhamdulillaah meski tinggal di negeri yang Islamnya mulai diasingkan, tiap bulan Ramadhan masih terdengar suara bacaan Al Quran dari masjid dan mushalla di sekitar. Masih ada suara kentongan sahur juga, bukan hanya barongsai dan petasan gong xi fat chai.

Bulan Ramadhan adalah bulan Al Quran, yang secara bahasa berarti ‘bacaan’. Beberapa teman memperdebatkan apakah membaca lebih baik daripada mengalami. Katanya, pengalaman adalah guru yang paling baik. Orang yang berpengalaman jauh lebih hebat daripada sekedar kutu buku ataupun penghafal kitab yang tidak meresapi kehidupan sebagai kehidupan itu sendiri.

Bulan Ramadhan tentu bukan bulan perdebatan dan bukan bulan adu hebat pembicaraan. Karena itu dengan rendah hati kuajak membaca pengalaman sekaligus mengalami proses membaca. Ada yang indah ketika keduanya disatukan.

Nabi Muhammad saw diutus menjadi Rasul pada usia 40. Usia yang sangat matang dan sudah banyak asam garam pengalaman. Allaah tidak terburu-buru, sama sekali tidak tergesa. Disiapkannya pengalaman sampai 40, dipanggilnya baginda melalui suara hati tuk menyepi… lalu diturunkanlah Al Quran.

Bluk…. sebuah kitab terpampang di hadapan Nabi. Kitab seribu satu rahasia sukses, seribu satu rahasia keperkasaan dan seribu satu cara menjadi penguasa

Bukan sebuah kitab tebal, bukan pula selembar peta harta terpendam kertas. Hanya seorang malaikat menyuruhnya membaca dan memeluknya ketika beliau menjawab ‘aku tidak bisa membaca’

“Bacalah,” ujar malaikat.

“Aku tidak bisa membaca,” jawab Nabi Muhammad saw. Maka Jibril as pun memeluknya sampai beliau terengah-engah.

“Bacalah,” ujarnya lagi. Nabi kembali mengulang jawaban serupa dan Jibril kembali memeluknya. Berulang demikian sampai tiga kali, setelah itu barulah Jibril membacakan wahyu pertama dari Allaah.

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah mencipta
Yang mencipta manusia dari segumpal darah… (QS Al Alaq 1-5)

Hanya lima ayat. Lima ayat yang pendek. Itulah perintah pertama, sekaligus ayat-ayat yang mengawali pengangkatan beliau sebagai Rasulullaah.

Setelah itu diturunkanlah Al Quran secara berangsur-angsur, kadang sepenggal kadang beberapa ayat.

Jadi jika ada yang tenggelam dalam Al Quran tanpa mengalami permasalahan layaknya manusia dalam kehidupan, katakan padanya… bukankah Rasulullaah saw dan para sahabat, dahulu mempergunakan Al Quran untuk menjawab problematika kehidupan?

Tetapi sebaliknya jika ada yang malas membaca Al Quran, berpegang teguh pada hawa nafsu, mengatasnamakan logika dan menyombongkan pengalaman, katakan padanya… apa tuntunan hidupmu Kawan? Lihatlah wajahmu yang gelap, hatimu yang keras dan tawamu yang mirip sekali tawa Abu Jahal…. atas dasar apa kamu menganggap dirimu seorang muslim, bahkan menganggap dirimu muslim pemikir yang lebih baik dari orang-orang yang bangun tiap malam dan membaca Al Quran hampir setiap saat?

Bahkan Rasulullaah saw pun membaca Al Quran berseringan, meski beliau sudah terbimbing. Meski beliau sibuk memimpin negara, meski beliau di depan memimpin perang, meski beliau tak henti jadwal mengajar muslim dan mengajak orang kafir…. beliau tak pernah lepas dari membaca Al Quran.

Mujahid mana dalam sejarah Islam… yang terlalu sibuk sehingga tidak sempat membaca Al Quran?

Da’i mana dalam sejarah Islam… yang terhanyut masalah umat sehingga tidak sempat membaca Al Quran?

Birokrat, pemikir, ilmuwan dan cendekiawan mana dalam sejarah Islam… yang demi profesinya mengorbankan waktu untuk tenggelam dalam lantunan Al Quran?

Membaca dan mengalami, Al Quran dan pengalaman hidup, adalah satu irama yang membentuk karakter. Siapa bilang satunya lebih baik dari yang lain?

Bulan Ramadhan, bulan Al Quran. Tanpa terasa sudah mendekati 10 hari terakhir, puncak-puncak ibadah yang memanggil Rasulullaah saw berdiam di masjid sepenuh hari siang dan malam.

Tertarikkah hatimu pada sunnah Rasulullaah saw wahai kawan?

Mari membaca, mari mengamalkan. Dan dalam sepuluh hari akhir Ramadhan, mari i’tikaaf kita hidupkan.

Teen

Kadang aku merasa sudah cukup tua, tetapi tidak jarang aku merasa masih remaja. Bukan dalam arti positif atau negatif, melainkan dalam arti netral: masih suka galau.

Galau itu bukan positif karena

Dosa

Kadang aku berfikir bahwa hidup tak lebih dari mengumpulkan dosa. Menambah, menumpuk, mengikat, membuat pos baru, terus sampai bergunung-gunung dosa.

Tak terelakkan. Apalagi dosa-dosa yang tak disengaja.

Karena itu harus punya rem yang kuat. Agar memininalisir dosa. Agar mengurangi dosa. Syukur-syukur bisa menihilkannya… sesuatu yang sangat tidak mungkin.

Juga harus punya amal shalih yang kuat. Agar bisa mengimbangi dosa. Agar di timbangan tidak langsung miring kiri, agar di titian tidak langsung terjerumus.

Amal shalih ini harus digas kuat-kuat. Sambil ngerem dosa. Soalnya setan liehay banget. Kita lagi ngegas amal shalih bisa langsung kena dosa yang lebih besar, misalnya riya. Kita lagi mau ibadah malah jadi syirik karena dosa fatal: kebodohan.

Kalau cuman pakai amal sendiri, bisa putus asa jadinya. Untunglah Allaah Maha Pengasih, Maha Penyayang dan menciptakan manusia untuk menjadi pemenang; selama manusia tersebut tidak menolak.

Disediakanlah ampunan yang menghapus dosa segunung selangit pun, tinggal kitanya mau istighfar atau engga.

Disediakanlah amal-amal bonus, tinggal kita maruk atau tidak.

Direntang jalan ke surga, dipagar batas-batas nerakanya, dibelai kita dengan ayat dan tuntunanNya.

Penuh kasih, penuh sayang.

Eh masih nolak juga? Ya sudah, orang yang tetap menolak itu saja yang dimasukkan ke dalam siksa.

Bendera

Setelah dipancangkan, angin meniup dan perubahan cuaca mendera. Apakah bendera akan jatuh? Apakah ia akan kembali ke bumi bersama patahnya tiang oleh terpaan badai?

Jawabnya, bendera tidak mengalami ujian apa-apa karena yang dipancangkan baru tiangnya.

Kadang masalah memang simpel.

Kado

Kita mungkin merasa sedih ketika menatap masa lalu, tetapi harus bersemangat ketika menatap masa depan.

Masa lalu adalah kado yang telah tersaji. Masa depan adalah kado yang kita siapkan.

Menyesali diri bukan cara untuk mengobati luka, apalagi memperbaiki masa depan.

Seberapa berani kamu mempersiapkan kado untuk masa depanmu sendiri?

Ramadhan 4th

Sudah empat hari Ramadhan, seharusnya sudah banyak perubahan ke arah yang lebih baik.

Bagaimana tidak. Ini adalah bulan mulia, bulan pendidikan, bulan pengampunan, bulan kristalisasi takwa.

Empat hari Ramadhan tanpa perubahan berarti? Berarti pasti ada masalah.

Keagungan Nabi Muhammad SAW

Yang paling berat ketika kita ingin menuliskan keagungan akhlak Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah… beliau lebih banyak bertindak daripada berkata. Artinya kalau kita menulis terlalu banyak, akan menjadi paradoks: kok kamu tidak seperti Nabimu sih, ngomong melulu?

Sementara kalau kita tidak mencatat keagungan beliau, rasanya ingin sekali, seandainya mampu, mengisi semua ruang yang bisa ditulisi, dengan budi pekerti beliau saja.

Lagi siapakah makhluk yang lebih layak dicatat, diingat, dicinta dan dirindu melebihi beliau?

Tetapi kembali ke alinea pertama. Beliau hidup untuk kehidupan, bukan untuk sekedar sastera, pemikiran apalagi beberapa kepentingan sesaat. Beliau memanusiakan manusia sepanjang zaman, menjadi puncak akhlak sepanjang peradaban, dan membuka hati kawan maupun lawan tanpa batasan-batasan.

Karena itulah beliau berbuat, tidak hanya mencatat.

Beliau memberi teladan, bukan hanya kenangan.

Beliau tampil di semua ruang kehidupan, bukan hanya khayalan.

Dan ketika langit malam usai tarawih ini dihiasi beberapa bintang, aku teringat bahwa sebagian bintang tersebut mungkin sebenarnya sudah mati. Sudah tiada. Kita hanya melihat cahayanya yang baru sampai, terlambat beberapa juta tahun, seperti kita melihat sebuah siaran ulang.

Tetapi apa bedanya siaran ulang dengan siaran langsung, jika kedekatannya sama-sama begitu terasa?

Dengan menunduk, dengan hati tergetar, dengan terbata, bibir ini pun akhirnya berucap…

Allaahumma shallii ‘alaa Muhammad. Wa’alaa aali Muhammad….