Ramadhan Berakhir

Ramadhan tahun ini berakhir sudah. Ada yang melepasnya dengan suka cita, ada yang melepasnya penuh tangis sedih, ada pula golongan ketiga yang tidak terlalu dibahas dalam kajian-kajian: yang tidak melepas Ramadhan karena memang tidak pernah menyambut atau merasa memilikinya.

Masa terus berlalu dan pada usia tertentu kita memperoleh pencerahan bahwa masa tidak pernah berlalu dan sejarah tak lebih dari perulangan-perulangan peristiwa.

Pukul 17:09 di akhir Ramadhan ini, mungkin hanya anak-anak yang merasa senang.

Hasan sampai ikut takbiran meski kakinya masih harus dibantu kruk.

#

Ada yang tidak bisa berubah meski semua orang sangat mengharapkannya. Hati adalah sebentuk kecil. Tetapi rahasianya besar. Bagi beberapa orang bahkan teramat besar.

Kesia-siaan adalah ingin mengubah sesuatu yang tak mungkin berubah.

Tetapi masih ada harapan, upaya dan kasih sayang. Kita mungkin tidak berhasil mengubah. Tetapi kita bisa memelihara benih harapan, benih upaya dan benih kasih sayang kepada sesama.

Tambahkan ikhlas dan sabar.

Lalu kamu tak akan kecewa.

Belut (Cerita Adek Riyy)

Pada suatu hari ada seorang anak kota. Namanya Razan. Ia bermain ke rumah kakeknya di Rawalo. Di sana Razan main ke blumbang, kolam tempat kakeknya memelihara ikan.

Ada banyak ikan yang dipelihara kakek dalam blumbang. Ikan gabus yang paling disukai Razan, ikan sepat yang badannya tipis, ikan mujair dan ikan gurame. Kadang kakek memancing, kadang memakai seser untuk menangkap ikan.

Ketika hari terasa panas, Razan main ke dalam blumbang. Air yang bening berubah menjadi coklat berlumpur ketika Razan melompat ke dalam kolam. Byurrr… segar sekali mandi dalam blumbang.

Razan berenang kesana kemari dalam blumbang. Ia mengejar ikan gabus, mencoba menangkap ikan sepat dan mengganggu ikan gurame yang sedang bertelur.

Ketika sedang asyik berenang tiba-tiba Razan melihat seekor binatang berbadan panjang tanpa kaki berenang ke arahnya. Razan ketakutan. “Ulaaar… ulaar…,” teriak Razan sambil berusaha naik ke daratan.

Kakeknya berlari mendekat. “Ada apa Zan?” tanya kakek.

“Ular Kek… ular… ada ular di blumbang…” ujar Razan terbata-bata.

Kakek melihat ke arah yang ditunjukkan Razan kemudia tertawa terpingkal-pingkal.

Razan merasa heran tetapi tidak bisa bertanya karena kakek masih tertawa sampai waktu yang lama.

Setelah kakek berhenti tertawa barulah Razan bertanya, “Kakek kenapa malah ketawa?”

Kakeknya masih memegang-megang perut untuk menahan tawa. Setelah agak tenang barulah kakek menjawab, “Itu namanya belut Zan… itu bukan ular… ha ha haa….”

Razan menarik nafas lega tetapi wajahnya menjadi cemberut karena merasa ditertawakan. Kakek tertawa makin keras melihat cucunya cemberut.

Visi Hidup?

Kehidupan selalu menemukan jalannya

Yang menentukan nilai manusia bukanlah amalnya sehingga jangan suka menilai amal seseorang. Nilai manusia ditentukan oleh akhir hayatnya, di jalan mana dia konsisten.

Akhir hayat akan menunjukkan niat terdalam, motivasi apa yang menggerakkan manusia dalam hidup ini. Apakah untuk Allaah, untuk dunia, untuk wanita atau untuk apa pun.

Karena itu kita harus memperkuat niat dengan amal baik, tidak putus asa ketika suatu saat terputus, tidak berbangga ketika beramal lebih dari biasa.

Karena amal seperti latihan/olahraga. Banyaknya latihan akan memperkuat otot, sedikitnya amal melemahkan niat.

Agar visi hidup selalu membara?

Senantiasa ikhlas, berniat dan beramal baik.

Lembur

Lembur adalah hal yang tidak biasa tetapi sudah menjadi biasa. Karena sudah biasa, akhirnya lembur menjadi bukan lembur lagi.
Yang salah bukan bekerja di luar waktunya, melaikan pembatasan waktu kerjanya. Sudah jelas selalu bekerja lebih dari 8 jam sehari… kenapa membatasi bahwa bekerja di luar 8 jam disebut lembur?

Jadi kalau ditanya lagi apa nih jam segini?

Jawab saja lagi bekerja.

Lembur?

Enggak. Emang jam kerjanya begini.

Mendidik Anak

Mendidik anak bukan hanya tentang memaksa atau memanja, dengan murka atau dengan mesra.

Mendidik anak adalah pembelajaran, ketrampilan, inovasi, sekaligus tawakkal kepada Ilahi.

Punya anak? 

Bersyukurlah.

(Bersyukur bisa dilakukan dengan banyak cara. Menerima seadanya sambil mendidik dengan penuh cinta adalah salah satu cara orang tua bersyukur atas kehadiran anaknya)

Belajar di Semua Kondisi

Besok UN… semua pelajar kelas VI SD harus belajar.

Mas Hasan belum bisa berangkat ke sekolah jadi besok UN di rumah insyaa Allaah.

Buat yang baca… doakan Mas Hasan lulus dengan nilai yang bagus ya….

Meski cita-cita Mas Hasan adalah jadi pemain bola atau jadi atlit badminton… tetapi olahragawan juga harus cerdas kan…

Masalah dan Keikhlasan

Masalah besar adalah masalah yang dihadapi dengan tidak ikhlas sedangkan masalah kecil adalah masalah yang dihadapi dengan ikhlas

Sebagai makhluk spiritual, besar kecilnya masalah tidak dilihat dari masalah itu sendiri melainkan dari bagaimana kesiapan kita menghadapinya.

Fisik ada yang gagah perkasa dan ada yang cacat tanpa daya, tetapi semua diberi ujian, bahkan tidak jarang ujian hidup si cacat lebih berat dan berbahaya.

Harta dan fasilitas juga demikian. Ada yang kaya bergelimang fasilitas, ada yang miskin sengsara. Orang melihat yang sudah sengsara malah makin banyak cobaannya.

Wajar kalau menjadi tanda tanya di kepala, mengapa diciptakan ujian untuk kita? Bagaimana Allaah akan menilai manusia sementara ujiannya beraneka dan fasilitasnya tidak sama?

Jawabnya, keikhlasan lah yang akan menjadi penentunya. Semakin meningkat keikhlasan, semakin mudah ujian-ujian itu di matanya. Karena orang yang ikhlas jiwanya setegar batu karang, ombak sebesar apa pun tak sanggup menggoyahkannya. Sementara orang yang tidak ikhlas jiwanya laksana pasir. Angin sepoi pun sanggup menerbangkannya.

Jadi kalau mau mudah menghadapi segala ujian, jangan semata mencari sarana dan prasarana. Tetapi latihlah keikhlasan agar mencapai level lillaahi ta’ala. Dalam setiap langkah hidupnya.

(Nanti ada tambahan tentang kebenaran amal, tetapi untuk sekarang kita bahas ikhlasnya saja)

Books Are My Caffeine

Suka bingung kalau ditanya apa hobi dan passion-ku. Apa ya?

Beda sama cowo-cowo (dan cewe) lain… aku tidak terlalu suka bola. Tidak juga lari atau renang. Apalagi party dan nongkrong di kafe.

Malah sahabatku Erik bilang… hobiku adalah mikir. Jadi ketika cape mikir, sementara orang lain bisa mancing atau nonton, aku malah membaca dan makin berfikir. Jadinya makin cape.

Aku sendiri akhirnya jadi seperti remaja galau yang bingung ketika diminta mengisi kuesioner Bimbingan Karir. Apa cita-citamu? Apa tujuan hidupmu? Apa yang paling menggerakkanmu untuk melakukan sesuatu?

(Aku bingung kok pertanyaannya bisa banyak padahal jawabannya cuman satu: menjadi manusia yang berguna bagi orang tua, nusa bangsa dan agama)

Alhamdulillaah nemu gambar ini pas brosing internet… lalu terbetik: ya!! Memang inilah hobiku. Passionku. Gairahku. Hidupku.

Aku suka sekali membaca buku. Makanya ketika insomnia… yang kucari adalah buku. Ketika sedang mengantri, yang kusesali adalah kenapa tidak membawa buku. 

Okelah. Ketemu satu lagi sesuatu yang bisa membuat hidupku nyaman. Buku.

REKREASI

Allaah menciptakan sakit dan obatnya untuk kita, tidak dengan tujuan negatif. Semua yang dikehendaki-Nya adalah baik bagi kita.
Sabar dan syukur tidak harus dipisah. Ketika sakit misalnya, kita bersabar dalam menanggung rasa sakitnya sekaligus sambil bersyukur… Dia masih mempercayai kita untuk menanggung ujian-Nya

Mamas sakit dan efeknya bisa kemana-mana, tetapi semangat dan ketabahannya layak dipuji.

Kaki boleh sakit. Hidup harus selalu lebih baik.

Sakit adalah karunia. Atau kalau belum bisa dianggap karunia, pahamilah sebagai pembukaan dari karunia-karunia besar.

Semoga lekas sembuh dan makin shalih Mas….