Belajar di Semua Kondisi

Besok UN… semua pelajar kelas VI SD harus belajar.

Mas Hasan belum bisa berangkat ke sekolah jadi besok UN di rumah insyaa Allaah.

Buat yang baca… doakan Mas Hasan lulus dengan nilai yang bagus ya….

Meski cita-cita Mas Hasan adalah jadi pemain bola atau jadi atlit badminton… tetapi olahragawan juga harus cerdas kan…

Iklan

Masalah dan Keikhlasan

Masalah besar adalah masalah yang dihadapi dengan tidak ikhlas sedangkan masalah kecil adalah masalah yang dihadapi dengan ikhlas

Sebagai makhluk spiritual, besar kecilnya masalah tidak dilihat dari masalah itu sendiri melainkan dari bagaimana kesiapan kita menghadapinya.

Fisik ada yang gagah perkasa dan ada yang cacat tanpa daya, tetapi semua diberi ujian, bahkan tidak jarang ujian hidup si cacat lebih berat dan berbahaya.

Harta dan fasilitas juga demikian. Ada yang kaya bergelimang fasilitas, ada yang miskin sengsara. Orang melihat yang sudah sengsara malah makin banyak cobaannya.

Wajar kalau menjadi tanda tanya di kepala, mengapa diciptakan ujian untuk kita? Bagaimana Allaah akan menilai manusia sementara ujiannya beraneka dan fasilitasnya tidak sama?

Jawabnya, keikhlasan lah yang akan menjadi penentunya. Semakin meningkat keikhlasan, semakin mudah ujian-ujian itu di matanya. Karena orang yang ikhlas jiwanya setegar batu karang, ombak sebesar apa pun tak sanggup menggoyahkannya. Sementara orang yang tidak ikhlas jiwanya laksana pasir. Angin sepoi pun sanggup menerbangkannya.

Jadi kalau mau mudah menghadapi segala ujian, jangan semata mencari sarana dan prasarana. Tetapi latihlah keikhlasan agar mencapai level lillaahi ta’ala. Dalam setiap langkah hidupnya.

(Nanti ada tambahan tentang kebenaran amal, tetapi untuk sekarang kita bahas ikhlasnya saja)

Books Are My Caffeine

Suka bingung kalau ditanya apa hobi dan passion-ku. Apa ya?

Beda sama cowo-cowo (dan cewe) lain… aku tidak terlalu suka bola. Tidak juga lari atau renang. Apalagi party dan nongkrong di kafe.

Malah sahabatku Erik bilang… hobiku adalah mikir. Jadi ketika cape mikir, sementara orang lain bisa mancing atau nonton, aku malah membaca dan makin berfikir. Jadinya makin cape.

Aku sendiri akhirnya jadi seperti remaja galau yang bingung ketika diminta mengisi kuesioner Bimbingan Karir. Apa cita-citamu? Apa tujuan hidupmu? Apa yang paling menggerakkanmu untuk melakukan sesuatu?

(Aku bingung kok pertanyaannya bisa banyak padahal jawabannya cuman satu: menjadi manusia yang berguna bagi orang tua, nusa bangsa dan agama)

Alhamdulillaah nemu gambar ini pas brosing internet… lalu terbetik: ya!! Memang inilah hobiku. Passionku. Gairahku. Hidupku.

Aku suka sekali membaca buku. Makanya ketika insomnia… yang kucari adalah buku. Ketika sedang mengantri, yang kusesali adalah kenapa tidak membawa buku. 

Okelah. Ketemu satu lagi sesuatu yang bisa membuat hidupku nyaman. Buku.

REKREASI

Allaah menciptakan sakit dan obatnya untuk kita, tidak dengan tujuan negatif. Semua yang dikehendaki-Nya adalah baik bagi kita.
Sabar dan syukur tidak harus dipisah. Ketika sakit misalnya, kita bersabar dalam menanggung rasa sakitnya sekaligus sambil bersyukur… Dia masih mempercayai kita untuk menanggung ujian-Nya

Mamas sakit dan efeknya bisa kemana-mana, tetapi semangat dan ketabahannya layak dipuji.

Kaki boleh sakit. Hidup harus selalu lebih baik.

Sakit adalah karunia. Atau kalau belum bisa dianggap karunia, pahamilah sebagai pembukaan dari karunia-karunia besar.

Semoga lekas sembuh dan makin shalih Mas….

Pailit

Seseorang menunjukkan cara menghitung laba rugi serta neraca dan hasilnya… perusahaanku bisa disebut pailit.

“Masa sih pailit?” protesku. 

“Tidak sampai pailit; belum kok.”

“Tapi lihat… rasio kerugian sampai 600% dari aset. Apa aku seboros itu?”

“Ini hanya salah satu metode pelaporan. Kamu bisa saja membuat laporan laba sambil mengakui utang dalam jumlah besar… tetapi apa gunanya. Yang jelas ini laporan keuangan perusahaanmu. Kamu bisa lihat tidak ada yang samar sedikit pun dalam angka utang, piutang serta pendapatan dan beban-bebanmu.”

Aku termangu, mencoba berfikir lebih tenang.

“Yang jelas setelah ini kamu akan lebih fokus pada efisiensi dan efektivitas… apa pun visi misi perusahaanmu. Jadi kenapa kamu tidak berterima kasih?”

“Yeah… betul juga. Terima kasih.” Nada suaraku kudengar mengambang di telingaku sendiri.

Mungkin seharusnya begitulah lapiran disusun. Yang memotivasi, mendorong kerja keras dan efisiensi, bukan yang mengaburkan dan mengelabui.

Blog Tanpa Pengunjung

Lucu juga sih kalau ada yang bilang ingin bikin blog tanpa pengunjung. Lah terus ngapain bikin blog? Kenapa engga bikin diary saja

Tetapi bagaimana mau lucu kalau yang bilang adalah aku sendiri.

Aku pengen punya blog tempatku menulis tanpa dibaca orang lain. Mungkin tepatnya blog yang tidak dikomentari, meski komentar juga ditunggu-tunggu (hadeuh galau amat).

Ah sudahlah.

Mungkin ini hanya karena aku masih remaja jadi pikirannya engga jelas.

5 Menit

Andai kita punya tambahan waktu 5 menit menjelang ajal… apa yang akan kita lakukan?

Berdoa?

Beramal shalih?

Sedekah?

Membaca kitab suci?

Berbakti pada orang tua?

Menghubungi orang-orang tercinta?

 

Ada yang Bau

Acara Ahad ini adalah berenang.

Tapi Mas abis main futsal engga ganti baju dan engga mandi (jorok banget ya?) jadinya mobil bau banget.

Terpaksa deh Adek bikin wangi pakai pengharum ditaruh di ac.

Ttd.

Adek

Lebah dan Lalat

Orang-orang di desa itu mempunyai penghasilan kecil, tetapi mereka rajin menabung sehingga semua, tepatnya hampir semua, penduduknya mempunyai tempat tinggal yang layak. Hanya beberapa penduduk yang tidak punya tempat tinggal layak. Mereka tidak ingin hidup berkecukupan sehingga menghabiskan semua yang diperoleh pada suatu hari tanpa menabung untuk memperbaiki esok harinya.

Seperti lebah dan lalat. Penduduk desa itu kebanyakan adalah lebah, sehingga hanya tertarik kepada bunga-bunga dan memproduksi madu. Sementara sebagian kecilna adalah lalat. Yang tidak tertarik pada bunga, yang menertawakan produksi madu, yang sibuk mencari sampah dengan susah payah… bayangkan betapa sulitnya mencari sampah di taman bunga seharum desa itu… dan sibuk mengembangbiakkan kuman penyakit.

Orang-orang yang membangun itu pendiam, tidak banyak pamer prestasi. Mereka merasa bahwa pencapaian mereka dari hari ke hari kecil saja, sehingga ketika akumulasi pencapaian mereka sudah sangat besar pun, mereka tetap menganggap bahwa hasil pada suatu hari hanya sedikit lebih baik dari hari kemarin. Layak disyukuri, tetapi tidak cukup untuk dibanggakan.

Berbeda lagi dengan lalat yang selalu berdengung dan hinggap kesana-kemari. Sambil memamerkan kotoranya. Sambil mengusik siapa saja.

Kemarin aku mendapat perumpamaan lebah dan lalat ini dari video kiriman ami Pudjiantoro, pagi ini tiba-tiba terbangun dengan dihantui penyesalan dan keinginan bertaubat.

Lalat tidak mungkin menjadi lebah.

Tetapi manusia selalu bisa memilih, menjadi (seperti) lalat atau lebah.

Gelisah

Gelisah adalah anugerah
Kita tidak mencarinya, ia datang sendiri
Karena itu yang pertama harus dilakukan ketika gelisah mengetuk adalah… syukurilah

Gelisah datang ke hati
Artinya kita punya hati
Sehingga gelisah masih bisa hinggap

Gelisah adalah harta
Atau…
Harta adalah gelisah?

Kalau gelisah mengganggu, lepaskanlah
Seperti harta, kita bisa shadaqah
Seperti barang bekas, kita bisa melego
Atau seperti sampah… kita bisa membuang

Jam segini terbangun tidak perlu gelisah, seharusnya
Kan ini sapaan mesra
Dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang